
Mata Berita – Bayangkan sekelompok anak kecil yang sedang asyik bermain di pinggir sungai, lalu menemukan sebuah benda asing berwarna hijau di semak-semak. Tanpa tahu apa yang mereka pegang, benda itu pun mereka bawa, bahkan digendong seperti seorang bayi. Kedengarannya seperti cerita fiksi, tapi kejadian inilah yang benar-benar terjadi di Garut, Jawa Barat, pada Sabtu, 5 September 2026.
Benda yang dimaksud bukan sekadar barang bekas biasa. Setelah diperiksa oleh pihak kepolisian bersama TNI dan Brimob, benda tersebut diidentifikasi sebagai hulu ledak mortir amunisi artileri jenis Comp B Cartridge 105 mm — salah satu jenis amunisi militer yang sangat berbahaya jika tidak ditangani dengan benar. Kejadian ini pun langsung menjadi perhatian serius aparat keamanan setempat.
Penemuan benda diduga mortir di Garut ini bukan hanya mengejutkan warga sekitar, tetapi juga menjadi pengingat keras bagi kita semua: betapa pentingnya edukasi kepada anak-anak dan masyarakat umum tentang cara menghadapi temuan benda mencurigakan yang berpotensi menjadi bahan peledak berbahaya. Mari kita telusuri kronologinya dari awal.
Bermula dari Anak-Anak yang Sedang Bermain di Pinggir Sungai Cimanuk
Lokasi kejadian berada di Kampung Leuwidaun, Desa Jayawaras, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Tepatnya di semak-semak yang berada di pinggiran Sungai Cimanuk — sebuah area yang memang kerap menjadi tempat bermain anak-anak setempat.
Kapolsek Tarogong Kidul, AKP Agus Kustanto, menjelaskan bahwa benda tersebut pertama kali ditemukan oleh anak-anak yang sedang bermain di sekitar lokasi. Karena bentuknya yang asing dan mungkin terlihat menarik bagi mereka, para bocah itu pun mengambilnya tanpa rasa curiga sedikit pun.
“Penemuan hulu ledak mortir berwarna hijau ini pertama kali ditemukan oleh anak-anak sekitar lokasi, kemudian mereka memberitahukan kepada warga sekitar,” ujar AKP Agus Kustanto kepada awak media, Minggu (6/9/2026).
Yang membuat kejadian ini semakin mencengangkan adalah fakta bahwa anak-anak tersebut dilaporkan sempat membawa benda itu dan menggendongnya seperti bayi. Sebuah tindakan yang tentu saja sangat berbahaya, mengingat sifat dari benda yang mereka pegang. Untungnya, setelah ada warga dewasa yang menyadari bahwa benda tersebut tampak mencurigakan, mortir itu pun dikembalikan ke semak-semak semula sambil menunggu penanganan dari pihak berwenang.
Ternyata Sudah Tersimpan Selama Satu Tahun di Atap Rumah Warga
Salah satu fakta paling mengejutkan dalam kasus penemuan mortir di Garut ini adalah riwayat benda tersebut sebelum akhirnya ditemukan anak-anak di pinggir sungai. Berdasarkan hasil pemeriksaan saksi oleh pihak kepolisian, diketahui bahwa mortir ini ternyata sempat tersimpan di atap rumah seorang warga selama kurang lebih satu tahun.
Bayangkan, selama setahun penuh, benda berbahaya itu diam-diam “menginap” di atas sebuah rumah tanpa penanganan yang tepat. Entah bagaimana awalnya mortir itu bisa sampai di sana, namun yang jelas, setelah beberapa waktu, benda itu kemudian dipindahkan ke semak-semak di pinggiran Sungai Cimanuk — dan di situlah anak-anak menemukannya saat bermain.
Fakta ini tentu memperkuat kekhawatiran akan rendahnya kesadaran masyarakat tentang bahaya benda-benda sisa perang atau amunisi yang tidak meledak (unexploded ordnance). Indonesia memang memiliki sejarah panjang konflik bersenjata, dan tidak sedikit amunisi dari era kolonial maupun pasca-kemerdekaan yang hingga kini masih tersebar di berbagai penjuru daerah.
Apa Itu Mortir Comp B Cartridge 105 mm?
Bagi pembaca yang belum familiar, Comp B Cartridge 105 mm adalah jenis amunisi artileri kaliber besar yang digunakan oleh senjata-senjata militer seperti howitzer. “Comp B” merujuk pada bahan peledak di dalamnya, yaitu campuran RDX dan TNT yang dikenal memiliki daya ledak sangat tinggi.
Benda semacam ini, meskipun sudah lama terpendam atau tidak digunakan, tidak bisa dianggap aman begitu saja. Kondisi lingkungan seperti kelembapan, panas, dan getaran bisa memengaruhi stabilitas bahan peledak di dalamnya. Inilah mengapa penanganannya harus dilakukan oleh tenaga terlatih dan berpengalaman — bukan oleh warga sipil, apalagi anak-anak.
Penanganan Cepat oleh Polisi, TNI, dan Brimob
Begitu mendapat laporan dari warga, pihak Polsek Tarogong Kidul langsung bergerak cepat. AKP Agus Kustanto memimpin koordinasi bersama Unit Identifikasi Satreskrim, Pamapta Polres Garut, serta dibantu oleh anggota TNI dan Brimob untuk mengidentifikasi sekaligus mengamankan benda temuan tersebut.
“Kami langsung koordinasi juga bersama Unit Identifikasi Satreskrim dan Pamapta Polres Garut untuk mengidentifikasi benda yang ditemukan itu,” ucap AKP Agus Kustanto.
Kolaborasi antara kepolisian, TNI, dan Brimob dalam kasus seperti ini memang sangat diperlukan. Brimob, khususnya, memiliki unit penjinak bom yang terlatih untuk menangani berbagai jenis bahan peledak, termasuk amunisi sisa perang. Penanganan yang cepat dan terkoordinasi inilah yang mencegah kejadian ini berujung pada bencana yang lebih besar.
Imbauan Penting untuk Masyarakat: Jangan Coba-Coba Menyentuhnya
Dari kejadian penemuan mortir di Garut ini, ada pelajaran berharga yang wajib dipahami oleh semua kalangan, terutama masyarakat yang tinggal di wilayah dengan potensi temuan amunisi sisa masa lalu. AKP Agus Kustanto secara tegas mengimbau beberapa hal penting.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Menemukan Benda Mencurigakan?
Pertama, jangan sentuh, jangan pindahkan, dan jangan lakukan tindakan apa pun terhadap benda tersebut. Ini adalah aturan emas yang berlaku universal. Sekecil apa pun interaksi fisik dengan benda diduga amunisi bisa berpotensi memicunya meledak.
Kedua, segera jauhkan diri dari lokasi penemuan dan jangan biarkan orang lain mendekati area tersebut. Amankan perimeter seadanya, misalnya dengan memberi tahu warga sekitar agar tidak mendekat.
Ketiga, segera hubungi pihak kepolisian. Jangan mencoba menjadi pahlawan dengan menangani sendiri atau malah membawa benda tersebut ke tempat lain. Polisi akan berkoordinasi dengan tim ahli yang memiliki perlengkapan dan keahlian yang tepat.
“Segera melaporkannya kepada pihak kepolisian agar dapat dilakukan penanganan oleh petugas yang berkompeten,” tegas AKP Agus Kustanto.
Edukasi Sejak Dini untuk Anak-Anak
Kasus ini juga menjadi pengingat betapa pentingnya edukasi keselamatan bagi anak-anak. Anak-anak secara alami memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan belum sepenuhnya memahami konsep bahaya. Oleh karena itu, orang tua, guru, dan masyarakat sekitar perlu aktif menjelaskan kepada anak-anak bahwa tidak semua benda menarik aman untuk disentuh, apalagi dibawa pulang.
Di beberapa negara yang pernah mengalami konflik bersenjata, program edukasi tentang bahaya amunisi yang belum meledak (Explosive Remnants of War) bahkan dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah dasar. Pendekatan seperti ini sangat relevan untuk diterapkan di Indonesia, khususnya di daerah-daerah yang secara historis pernah menjadi lokasi pertempuran.
Mengapa Kasus Seperti Ini Masih Bisa Terjadi?
Penemuan mortir dan amunisi sisa perang di Indonesia sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya langka. Indonesia memiliki sejarah panjang, mulai dari era penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, hingga berbagai konflik internal pasca-kemerdekaan. Tidak sedikit amunisi dari era-era tersebut yang hingga kini masih terkubur atau tersimpan secara tidak sengaja di berbagai lokasi.
Minimnya sosialisasi, keterbatasan program pembersihan amunisi sisa perang, serta rendahnya kesadaran masyarakat tentang bahaya benda-benda tersebut menjadi kombinasi faktor yang membuat kasus seperti di Garut ini masih berulang terjadi. Diperlukan sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat untuk bersama-sama menangani persoalan ini secara sistematis.
Kejadian di Garut ini adalah pengingat nyata bahwa bahaya bisa hadir dari tempat yang paling tidak terduga — bahkan dari semak-semak di pinggir sungai tempat anak-anak biasa bermain. Jika Anda atau orang di sekitar Anda pernah menemukan benda asing yang mencurigakan, terutama yang berbentuk silinder, berwarna hijau atau cokelat tua, dan terasa berat tidak wajar, jangan ambil risiko. Jauhkan diri, amankan area, dan segera laporkan ke polisi. Satu tindakan bijak bisa menyelamatkan banyak nyawa.







