China Blokir Akuisisi Manus AI oleh Meta Senilai Rp35 Triliun: Ini Alasan di Baliknya

Mataberita.co.id – Perang teknologi antara Amerika Serikat dan China memasuki babak baru yang semakin panas. Kali ini bukan soal chip semikonduktor atau larangan aplikasi, melainkan

Redaksi

China Blokir Akuisisi Manus AI oleh Meta Senilai Rp35 Triliun: Ini Alasan di Baliknya

Mataberita.co.id Perang teknologi antara Amerika Serikat dan China memasuki babak baru yang semakin panas. Kali ini bukan soal chip semikonduktor atau larangan aplikasi, melainkan tentang akuisisi sebuah startup kecerdasan buatan yang bernilai fantastis. China secara resmi memerintahkan Meta untuk membatalkan akuisisi Manus AI, sebuah startup agen AI asal China yang bermarkas di Singapura, senilai 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp35,7 triliun. Keputusan ini mengejutkan banyak pihak dan membuka pertanyaan besar tentang masa depan investasi teknologi lintas batas.

Akuisisi Manus AI oleh Meta sebenarnya sudah diumumkan secara resmi pada akhir Desember 2025 dengan ambisi yang sangat besar. Meta berencana mengintegrasikan teknologi agen AI canggih milik Manus ke dalam seluruh ekosistem produknya, mulai dari Facebook, Instagram, hingga WhatsApp dan platform Meta AI. Jika berhasil, ini bisa menjadi salah satu terobosan terbesar dalam pengembangan AI di platform media sosial terbesar di dunia.

Namun Beijing punya pandangan yang berbeda. Di mata pemerintah China, akuisisi ini bukan sekadar transaksi bisnis biasa antara dua perusahaan teknologi. Ini adalah transfer teknologi AI strategis ke tangan asing, sesuatu yang dianggap sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasional China. Dan ketika Beijing berbicara soal keamanan nasional, dampaknya tidak pernah kecil.

China Perintahkan Meta Batalkan Akuisisi Manus AI

Perintah resmi pembatalan akuisisi Manus AI dikeluarkan oleh National Development and Reform Commission atau NDRC, lembaga perencanaan ekonomi tertinggi di China, pada 27 April 2026. Ini bukan keputusan yang tiba-tiba karena penyelidikan terhadap transaksi ini sebenarnya sudah dimulai sejak Januari 2026, jauh sebelum pengumuman resmi dari Beijing.

Selama proses penyelidikan berlangsung, NDRC memeriksa tiga aspek utama yang berkaitan dengan akuisisi ini: kepatuhan terhadap aturan ekspor teknologi China, regulasi investasi luar negeri, dan potensi risiko terhadap keamanan nasional. Ketiganya bermuara pada satu kesimpulan yang sama dari sudut pandang Beijing, yaitu bahwa membiarkan Meta memiliki Manus AI adalah ancaman yang tidak bisa ditoleransi.

Baca Juga:  Samsung Galaxy Z Fold 8 Hadir dengan Baterai Lebih Besar & Dukungan S Pen, Jadi Foldable Terbaik 2026?

Dampak Langsung: Meta dan Manus Tidak Bisa Berbagi Data

Salah satu konsekuensi paling langsung dari perintah pembatalan ini adalah terputusnya aliran data internal antara Meta dan Manus AI. Menurut laporan Bloomberg, kedua perusahaan kini tidak lagi diizinkan untuk berbagi data internal satu sama lain, sebuah pembatasan yang secara efektif menghancurkan nilai strategis dari akuisisi tersebut bahkan sebelum proses integrasi selesai dilakukan.

Bagi Meta, ini adalah pukulan telak. Teknologi agen AI milik Manus seharusnya menjadi komponen kunci dalam memperkuat kemampuan Meta AI untuk bersaing dengan ChatGPT, Gemini, dan berbagai platform AI lainnya.

Mengenal Manus AI: Startup yang Jadi Rebutan

Untuk memahami mengapa akuisisi Manus AI ini begitu panas diperdebatkan, penting untuk mengenal lebih dalam tentang startup yang menjadi pusat dari kontroversi ini.

Manus lahir dari perusahaan induk bernama Butterfly Effect, yang juga dikenal dengan nama Monica.im. Startup teknologi ini didirikan oleh dua warga negara China, Xiao Hong dan Tao Zhang, yang membangun teknologi agen AI mereka dari bawah di China sebelum kemudian membawa perusahaan ini ke panggung global.

Pindah ke Singapura: Strategi Ekspansi yang Umum

Pada pertengahan 2025, Manus memindahkan kantor pusatnya ke Singapura. Langkah ini bukan kebetulan dan bukan tanpa perhitungan. Relokasi ke Singapura adalah strategi yang sudah sangat umum dilakukan oleh startup-startup China yang ingin berekspansi ke pasar global dan mengakses modal dari investor Barat, tanpa harus menanggung stigma berlabel perusahaan China yang sering kali mempersulit proses investasi dan kemitraan internasional.

Namun sebelum pindah ke Singapura, ada episode yang cukup dramatis di perjalanan Manus. Perusahaan ini sempat mem-PHK hampir seluruh karyawannya di Beijing sebelum merelokasi operasional ke Singapura, sebuah langkah yang menggambarkan betapa seriusnya mereka dalam memutus ikatan fisik dengan China demi memuluskan ekspansi global.

Sejak peluncurannya, Manus mengklaim telah mencatat pendapatan tahunan rata-rata lebih dari 100 juta dolar AS atau sekitar Rp1,78 triliun. Angka yang sangat impresif untuk sebuah startup AI yang relatif baru dan menjadi salah satu alasan mengapa Meta tertarik untuk membayar mahal demi memilikinya.

Mengapa China Tetap Merasa Berwenang atas Manus AI?

Meski Manus sudah pindah ke Singapura dan berusaha memposisikan diri sebagai perusahaan global bukan China, Beijing tetap merasa memiliki yurisdiksi penuh atas startup ini. Ada beberapa alasan kuat di balik klaim tersebut.

Baca Juga:  Cara Cek Bansos BLT Kesejahteraan Rakyat Rp900 Ribu, Siap-Siap Cair Oktober 2025!

Pertama, teknologi dan algoritma inti Manus AI dibangun sepenuhnya di China. Data awal, sumber daya manusia yang mengembangkan kapabilitas utama, dan fondasi teknologi semuanya berakar di sana. Kedua, kedua pendirinya, Xiao Hong dan Tao Zhang, adalah warga negara China yang secara hukum tunduk pada yurisdiksi dan regulasi pemerintah Beijing. Ketiga, regulasi ekspor teknologi China secara eksplisit melarang transfer teknologi yang dianggap strategis ke pihak asing tanpa izin resmi dari pemerintah.

Kombinasi ketiga faktor ini membuat Manus, meski sudah bermarkas di Singapura, tetap tidak bisa lepas dari cengkeraman regulasi Beijing ketika transaksi sebesar akuisisi oleh Meta terjadi.

Pendiri Manus Dilarang Keluar China

Salah satu dampak paling dramatis dari sengketa akuisisi Manus AI ini adalah pembatasan yang dijatuhkan kepada para pendirinya. Selama proses investigasi berlangsung, Xiao Hong dan Tao Zhang dilarang meninggalkan wilayah China.

Pembatasan ini tidak hanya berlaku bagi dua pendiri Manus. Beijing juga memperluas kebijakan serupa kepada peneliti dan eksekutif perusahaan swasta lainnya, yang kini diwajibkan mendapatkan izin pemerintah terlebih dahulu sebelum bisa bepergian ke luar negeri. Kebijakan ini mencerminkan betapa seriusnya China dalam mengontrol aliran sumber daya manusia dan teknologi yang dianggap strategis.

Manus Tetap Beroperasi di Tengah Sengketa

Yang menarik, meski berada di tengah badai sengketa hukum dan regulasi yang sangat serius, Manus AI tidak menghentikan operasionalnya. Startup ini terus merilis fitur-fitur baru termasuk integrasi dengan platform analitik Similarweb dan platform e-commerce Shopify.

Langkah ini mengisyaratkan bahwa Manus tidak ingin terlihat goyah di mata pasar dan para pengguna, meski di belakang layar situasinya sangat tidak pasti. Momentum bisnis yang terus dijaga ini juga menjadi sinyal bahwa Manus masih optimis bahwa situasi bisa berubah, entah melalui negosiasi, restrukturisasi kesepakatan, atau jalan lain yang belum terlihat jelas.

Lebih dari Sekadar Bisnis: Ini Tentang Kekuasaan atas AI

Kasus akuisisi Manus AI oleh Meta dan respons keras dari Beijing adalah cerminan dari sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar transaksi korporat. Ini adalah bukti nyata bahwa perang teknologi antara Amerika Serikat dan China kini telah berevolusi ke dimensi yang jauh lebih luas.

Bukan hanya tentang siapa yang menguasai chip paling canggih atau algoritma terbaik. Pertanyaan yang kini sama pentingnya adalah siapa yang berhak memiliki, memindahkan, dan menjual talenta serta teknologi AI terbaik di dunia. Dan dalam pertarungan itu, tidak ada aturan yang sepenuhnya jelas karena keduanya masih ditulis sambil permainan berlangsung.

Pantau terus perkembangan kasus akuisisi Manus AI ini karena implikasinya terhadap lanskap investasi teknologi global masih akan terus berkembang dalam waktu-waktu ke depan.

Ikuti Kami di Google News

Related Post

rajadewa138