Saat Demo DPR Memanas, Siapa Sangka Para PKL Justru Kebanjiran Rezeki?

Demo DPR bukan hanya soal tuntutan mahasiswa — bagi PKL seperti Ade dan Dedi, kerumunan itu adalah ladang rezeki tak terduga yang mereka kejar dengan strategi.

Redaksi

Mata Berita – Ada dua cerita yang selalu berjalan beriringan setiap kali aksi demonstrasi besar pecah di Jakarta. Yang pertama adalah cerita para mahasiswa yang turun ke jalan, membawa tuntutan, membentangkan spanduk, dan mengangkat suara mereka setinggi-tingginya lewat mikrofon di atas mobil komando. Yang kedua — dan jarang masuk sorotan — adalah cerita para pedagang kaki lima yang justru melihat kerumunan itu sebagai ladang rezeki. Dua cerita berbeda, dua tujuan berbeda, tapi bertemu di satu titik yang sama: Jalan Gatot Subroto, depan Gedung DPR RI.

Pada Jumat, 19 Juni 2026, kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, kembali dipadati ribuan mahasiswa yang menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung DPR RI. Di tengah lautan massa itu, ada pemandangan lain yang tak kalah sibuknya — para pedagang kaki lima yang dengan gesit menjajakan air mineral, minuman ringan, siomay, hingga bakso. Mereka bukan sekadar hadir secara kebetulan. Mereka datang dengan perhitungan, dengan pengalaman bertahun-tahun, dan dengan satu keyakinan sederhana: di mana ada keramaian, di situ ada peluang.

Kisah-kisah para pedagang kaki lima ini menarik untuk disimak bukan hanya karena nilai ekonominya, tapi juga karena menggambarkan sisi lain dari dinamika demonstrasi yang sering kali luput dari perhatian publik. Mereka bukan peserta aksi, bukan juga penonton belaka — mereka adalah pelaku ekonomi informal yang punya strategi, jaringan informasi, dan ketangguhan tersendiri dalam bertahan hidup di kota besar.

Memanfaatkan Kerumunan sebagai Peluang Ekonomi

Ade, 43 tahun, adalah salah satu pedagang minuman yang tampak sibuk melayani pembeli di sepanjang Jalan Gatot Subroto saat aksi berlangsung. Dengan gerobak berisi air mineral dan berbagai minuman kemasan, ia bergerak gesit di antara para peserta demonstrasi yang kepanasan dan kehausan. Bagi Ade, pemandangan semacam ini sudah sangat familiar.

“Saya tahu dari HP, cari di Google juga. Kalau ada demo, ada acara bola, atau acara ramai lainnya biasanya saya datang dagang,” ujarnya saat ditemui di lokasi.

Pernyataan Ade ini sederhana, tapi menyimpan strategi bisnis yang cukup cerdas. Di era digital seperti sekarang, informasi soal jadwal aksi demonstrasi atau keramaian publik lainnya mudah diakses oleh siapa saja — termasuk para pedagang kaki lima. Ade memanfaatkan itu sepenuhnya. Ia tak hanya menunggu pembeli datang ke lapaknya di Tanah Abang, tapi aktif berpindah lokasi mengikuti arus keramaian demi memaksimalkan pendapatan harian.

Baca Juga:  Nadiem Bantah Kaitan Investasi Google dengan Permendikbud di Sidang Tipikor

15 Tahun Mengejar Kerumunan

Sudah 15 tahun Ade menjalani profesi sebagai pedagang minuman keliling. Selama itu pula, ia hampir selalu hadir di setiap aksi demonstrasi besar yang berlangsung di Jakarta. Dalam satu hari aksi, Ade bisa membawa hingga 10 dus minuman, dan ia tak segan menambah stok bila dagangannya cepat habis.

Pengalaman paling berkesan? Tentu saat pelantikan Presiden Joko Widodo. “Pernah, waktu pelantikan Pak Jokowi, habis sampai 30 dus air mineral. Waktu itu ada tembakan gas air mata jadi orang pada beli buat cuci muka,” cerita Ade dengan nada santai, seolah itu adalah kenangan kerja keras yang membanggakan.

Cerita itu memperlihatkan sisi unik dari ekonomi jalanan: bahkan situasi yang kacau sekalipun bisa berubah menjadi peluang bagi mereka yang sudah berpengalaman membaca dinamika lapangan. Ade tidak melihat gas air mata sebagai ancaman — ia melihatnya sebagai sinyal bahwa permintaan air mineral akan melonjak tajam.

Pedagang Siomay yang Sudah Kenyang Pengalaman

Tak jauh dari lokasi Ade berjualan, ada Dedi, 60 tahun, pedagang siomay yang juga tengah sibuk melayani antrian pembeli. Berbeda dengan Ade yang sudah rutin mengikuti berbagai keramaian, Dedi mengaku baru kali ini datang ke kawasan DPR RI setelah mendapat informasi soal demonstrasi yang dijadwalkan berlangsung besar-besaran.

Informasi itu ia peroleh dari dua sumber: internet dan jaringan sesama pedagang. “Sudah tahu dari jadwalnya. Dari Google, teman-teman juga kasih tahu. Ada grup pedagang juga yang sering berbagi informasi,” kata Dedi.

Fakta bahwa para pedagang kaki lima memiliki grup khusus untuk berbagi informasi soal jadwal keramaian adalah hal yang menarik. Ini menunjukkan bahwa ekosistem pedagang informal di Jakarta jauh lebih terorganisir dari yang terlihat di permukaan. Mereka saling membantu, saling berbagi intelijen pasar, demi kelangsungan ekonomi bersama.

Hampir 40 Tahun Berjualan, Tidak Pernah Kapok

Dedi telah berjualan siomay selama hampir 40 tahun. Usia dan pengalaman itu memberinya perspektif yang matang soal aksi demonstrasi. Ia mengaku tidak takut atau kapok berjualan di tengah kerumunan demonstran. Menurutnya, aksi pada 2026 ini relatif damai dibanding pengalaman-pengalamannya pada era 1990-an yang jauh lebih bergolak.

Baca Juga:  Nenek 65 Tahun Jadi Pahlawan: Teriakan Kusriyati Selamatkan Uang Rp 3,6 Miliar dari Komplotan Pecah Kaca

Namun Dedi menegaskan, motivasinya datang ke lokasi aksi bukan untuk menyaksikan jalannya demonstrasi atau berpihak pada tuntutan para mahasiswa. Ia datang semata-mata untuk mencari nafkah. “Kalau kapok ya gimana, kita butuh makan. Ada keluarga yang harus dibiayai, ada kebutuhan sekolah juga,” ujarnya dengan nada yang tenang namun penuh keteguhan.

Pendapatan Lebih Tinggi di Hari Aksi

Secara finansial, berjualan di tengah demonstrasi terbukti menguntungkan bagi Dedi. Pada hari-hari biasa, pendapatannya berkisar antara Rp 650.000 hingga Rp 700.000. Namun saat aksi demonstrasi berlangsung, ia bisa meraup hingga Rp 800.000 dalam sehari — peningkatan yang cukup signifikan untuk ukuran pedagang kaki lima.

Menariknya, Dedi tidak menaikkan harga jual untuk memanfaatkan momen keramaian. Harga satu porsi siomay tetap Rp 15.000. Yang ia ubah adalah porsinya. “Hari biasa sampai 10 siomay per porsi, kalau demo, satu porsinya 7 siomay,” jelasnya. Strategi yang diam-diam efektif: harga tetap terjangkau agar pembeli tidak lari, tapi margin keuntungan tetap terjaga dengan menyesuaikan isi porsi.

Demonstrasi sebagai Ekosistem Ekonomi Informal

Fenomena pedagang kaki lima yang “memburu” keramaian demonstrasi sebenarnya mencerminkan sesuatu yang lebih dalam tentang ekonomi kota Jakarta. Para pedagang informal ini adalah kelompok yang paling adaptif — mereka tidak menunggu pelanggan datang, mereka yang mendatangi pelanggan. Mereka membaca situasi, memanfaatkan informasi, dan mengambil risiko demi sesuap nasi.

Ada ironi yang menarik di sini. Sementara demonstrasi seringkali membawa pesan tentang ketimpangan ekonomi, perbaikan kebijakan, atau keadilan sosial, di sisi lain kerumunan itu sendiri justru secara langsung menciptakan peluang ekonomi nyata bagi kelompok masyarakat paling bawah. Para mahasiswa berteriak menuntut perubahan struktural, sementara para pedagang kaki lima seperti Ade dan Dedi justru sedang membuktikan ketangguhan mereka bertahan dalam sistem yang ada — dengan cara mereka sendiri.

Di balik suara orasi yang menggema, di sela-sela kepulan asap dan langkah kaki para demonstran, ada gerobak-gerobak kecil yang terus bergerak. Ada tangan-tangan yang tak henti melayani pembeli. Dan ada dua laki-laki — Ade dan Dedi — yang pulang malam itu dengan kantong lebih tebal dari biasanya, bersyukur dalam diam atas keramaian yang orang lain mungkin anggap sebagai kekacauan. Ini bukan sekadar cerita tentang demo atau PKL — ini adalah cerita tentang bagaimana manusia menemukan cara untuk bertahan, di kondisi apapun yang dihadirkan hari itu.

Ikuti Kami di Google News

Related Post

rajadewa138