
Mata Berita – Pernahkah kamu memperhatikan ada bercak atau benjolan kecil berwarna kekuningan di sekitar kelopak mata seseorang, lalu menganggapnya hanya masalah kulit biasa? Ternyata, tanda yang tampak sepele itu bisa menyimpan pesan penting tentang kondisi kesehatan jantung seseorang. Penelitian terbaru mengungkap bahwa bercak kuning di sekitar mata — yang secara medis disebut xanthelasma — berkaitan erat dengan peningkatan risiko serangan jantung dan stroke.
Temuan ini tentu mengejutkan banyak pihak. Selama ini, orang cenderung mengasosiasikan penyakit jantung dengan gejala seperti nyeri dada, sesak napas, atau tekanan darah tinggi. Tapi siapa sangka, wajah pun bisa menjadi “cermin” yang mencerminkan kesehatan kardiovaskular kita? Inilah yang membuat penelitian ini begitu menarik sekaligus penting untuk dipahami oleh masyarakat luas.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Atherosclerosis pada 2026 ini dilakukan oleh peneliti dari Stanford University bersama sejumlah institusi lainnya. Hasilnya cukup mencengangkan: orang dengan xanthelasma memiliki risiko serangan jantung, stroke, dan serangan iskemik transien (TIA) yang hampir tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak memiliki kondisi tersebut — setidaknya dalam satu tahun pertama pengamatan.
Apa Itu Xanthelasma dan Mengapa Bisa Muncul di Wajah?
Xanthelasma adalah benjolan atau plak berwarna kuning yang biasanya muncul di sekitar kelopak mata, baik di kelopak atas maupun bawah. Tampilannya seringkali datar atau sedikit menonjol, dan secara kasat mata menyerupai bercak lemak yang menumpuk di bawah kulit. Kondisi ini terbentuk ketika sel-sel sistem kekebalan tubuh yang disebut makrofag “kelebihan muatan” kolesterol dan lemak lainnya, lalu menumpuk di jaringan kulit di sekitar mata.
Yang menarik, xanthelasma tidak selalu menandakan bahwa seseorang memiliki kadar kolesterol darah yang tinggi. Ada penderita xanthelasma dengan kadar kolesterol yang normal, namun kondisi ini tetap muncul. Ini mengindikasikan bahwa mekanisme pembentukan xanthelasma lebih kompleks dari sekadar soal kolesterol tinggi semata.
Kaitannya dengan Aterosklerosis
Para peneliti menduga ada kaitan antara proses pembentukan xanthelasma dengan aterosklerosis — kondisi di mana plak lemak menumpuk di dinding pembuluh darah. Keduanya sama-sama melibatkan penumpukan kolesterol dan lemak di dalam sel, meskipun lokasi dan mekanisme detailnya berbeda. Aterosklerosis yang tidak ditangani bisa mempersempit atau bahkan menyumbat pembuluh darah, yang pada akhirnya memicu serangan jantung atau stroke. Inilah mengapa para ilmuwan mulai melihat xanthelasma sebagai penanda potensial risiko kardiovaskular.
Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan?
Peneliti, dipimpin oleh Negin Yavari dan tim dari Stanford University, menggunakan data kesehatan dari jaringan TriNetX — sebuah platform riset berbasis data rekam medis dari berbagai rumah sakit dan klinik. Mereka membandingkan kelompok orang yang didiagnosis dengan xanthelasma terhadap kelompok kontrol yang tidak memiliki kondisi tersebut.
Setelah proses pencocokan berdasarkan berbagai karakteristik, diperoleh masing-masing 17.925 orang di setiap kelompok dengan minimal satu tahun masa tindak lanjut. Kelompok kontrol terdiri dari orang-orang yang mengalami presbiopia — gangguan penglihatan akibat penuaan yang menyebabkan kesulitan melihat benda dari jarak dekat. Kelompok ini dipilih secara strategis karena mereka juga menjalani pemeriksaan mata, sehingga kondisi xanthelasma (ada atau tidaknya) bisa diidentifikasi secara konsisten.
Penting dicatat: orang yang sebelumnya sudah pernah mengalami serangan jantung, stroke, atau TIA dikeluarkan dari kedua kelompok. Ini dilakukan agar hasil penelitian benar-benar mencerminkan risiko ke depan, bukan riwayat penyakit yang sudah ada sebelumnya.
Apa Saja Hasil yang Ditemukan?
Hasil penelitian ini cukup mengejutkan dan layak untuk dicermati secara serius. Dalam tahun pertama pengamatan, sekitar 1 persen dari kelompok xanthelasma mengalami serangan jantung, sementara pada kelompok kontrol angka ini hanya 0,35 persen. Untuk stroke, kelompok xanthelasma mencatatkan angka 0,95 persen dibandingkan 0,30 persen pada kelompok kontrol. Adapun TIA atau yang sering disebut “stroke mini”, terjadi pada 0,60 persen kelompok xanthelasma versus 0,19 persen kelompok kontrol.
Risiko yang Bertahan Hingga 10 Tahun
Yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa perbedaan risiko ini tidak hilang seiring waktu. Bahkan setelah lima tahun, kejadian serangan jantung tercatat 2,26 persen pada kelompok xanthelasma dibandingkan 1,13 persen pada kelompok kontrol. Stroke muncul pada 2,25 persen berbanding 1,03 persen. Dan pada pengamatan 10 tahun, selisih risiko tetap signifikan: serangan jantung 3,13 persen vs 1,73 persen, stroke 3 persen vs 1,53 persen, dan TIA 2 persen vs 1,13 persen.
Angka-angka ini memperlihatkan bahwa xanthelasma bukan sekadar masalah kosmetik yang bisa diabaikan. Ada pola risiko jangka panjang yang patut mendapat perhatian serius dari dunia medis maupun masyarakat umum.
Apakah Kolesterol Tinggi Jadi Penyebab Utamanya?
Dalam analisis tambahan, peneliti menemukan fakta menarik: risiko serangan jantung, stroke, dan TIA pada penderita xanthelasma relatif serupa, baik pada mereka yang memiliki dislipidemia (gangguan kadar lemak darah) maupun yang tidak. Artinya, hubungan antara xanthelasma dan risiko kardiovaskular tampaknya tidak semata-mata disebabkan oleh kadar kolesterol atau lemak darah yang tinggi. Ada faktor lain yang mungkin berperan, meskipun mekanismenya belum sepenuhnya dipahami.
Ini juga yang menjadi alasan mengapa para peneliti menekankan perlunya studi lebih lanjut. Mereka ingin memahami lebih dalam: mengapa hubungan ini ada, dan bagaimana xanthelasma bisa digunakan secara klinis dalam penilaian risiko penyakit jantung dan stroke secara lebih luas.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Punya Xanthelasma?
Para peneliti berhati-hati untuk tidak menyimpulkan bahwa xanthelasma secara langsung menyebabkan serangan jantung atau stroke. Ini penting dipahami agar tidak memicu kepanikan yang tidak perlu. Xanthelasma sendiri secara umum dianggap sebagai kondisi jinak — tidak berbahaya secara langsung dan tidak menyakitkan.
Namun, temuan ini memberikan sinyal bahwa xanthelasma bisa menjadi penanda klinis yang mudah dikenali oleh dokter maupun pasien sendiri. Dalam istilah medis, kondisi ini berpotensi menjadi faktor risiko untuk kejadian MACCE (Major Adverse Cardio-Cerebrovascular Events), yaitu istilah yang mencakup serangan jantung, stroke, dan TIA.
Langkah Pencegahan yang Bisa Dilakukan
Para peneliti merekomendasikan agar pasien yang ditemukan memiliki xanthelasma menjalani evaluasi menyeluruh terhadap faktor risiko kardiovaskular yang mungkin belum terdiagnosis atau belum terkontrol dengan baik. Langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan antara lain meliputi perubahan gaya hidup sehat seperti memperbaiki pola makan, meningkatkan aktivitas fisik, berhenti merokok, serta mengelola stres. Selain itu, pengendalian tekanan darah dan pemantauan kadar lemak darah juga menjadi bagian penting dari strategi pencegahan penyakit jantung dan stroke.
Jika kamu atau seseorang di sekitarmu memiliki bercak kekuningan di sekitar mata, alangkah baiknya untuk tidak langsung diabaikan sebagai masalah kulit semata. Jadikan itu sebagai dorongan untuk memeriksakan diri ke dokter dan mengetahui kondisi kesehatan jantung secara lebih menyeluruh. Deteksi dini selalu jauh lebih baik daripada menyesal di kemudian hari.
Masih Diperlukan Penelitian Lebih Lanjut
Seperti halnya banyak temuan ilmiah lainnya, penelitian ini bukan kata akhir dari sebuah perdebatan panjang. Para peneliti sendiri mengakui bahwa hubungan antara xanthelasma dan penyakit kardiovaskular sebelumnya masih menjadi topik yang diperdebatkan di kalangan ilmuwan. Sebagian studi menemukan adanya kaitan yang signifikan, sementara studi lain mempertanyakan apakah xanthelasma benar-benar merupakan faktor risiko independen setelah faktor-faktor tradisional seperti tekanan darah dan kadar lemak darah ikut diperhitungkan.
Yang jelas, penelitian dari Stanford University ini menambah bobot argumen bahwa xanthelasma layak mendapat perhatian lebih dalam dunia kesehatan kardiovaskular. Dengan ukuran sampel yang besar dan periode tindak lanjut hingga 10 tahun, studi ini memberikan gambaran yang lebih komprehensif dibandingkan penelitian-penelitian sebelumnya.
Tubuh manusia sering kali memberikan sinyal jauh sebelum penyakit serius benar-benar menyerang. Bercak kuning kecil di sudut mata bisa jadi terlihat tidak penting, tapi bagi ilmu pengetahuan, ia mungkin adalah pengingat diam-diam bahwa sudah saatnya kita lebih peduli pada kesehatan jantung kita. Jangan tunggu sampai gejala besar datang — mulailah perhatikan tanda-tanda kecil yang selama ini sering terlewatkan.







