Buku The Man Who Said Yes: Kisah Jiu Kian Menemukan Peluang di Tengah Ketidakpastian Hidup

MataBerita – Ketidakpastian kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan banyak orang. Kondisi ekonomi global yang fluktuatif, perubahan sosial yang cepat, hingga tekanan hidup sehari-hari

redaksi 2

MataBerita – Ketidakpastian kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan banyak orang. Kondisi ekonomi global yang fluktuatif, perubahan sosial yang cepat, hingga tekanan hidup sehari-hari sering kali membuat masa depan terasa abu-abu. Di situasi seperti ini, tidak sedikit orang memilih bertahan di zona aman, menunda mimpi, atau bahkan berhenti melangkah karena takut salah mengambil keputusan.

Padahal, justru di tengah ketidakpastian itulah peluang kerap muncul. Pertanyaannya, beranikah kita menyambutnya? Inilah benang merah yang diangkat dalam Buku The Man Who Said Yes, karya Jiu Kian, seorang entrepreneur nasional yang dikenal berhasil membangun jaringan bisnis dengan omzet ratusan miliar rupiah.

Buku ini bukan sekadar kumpulan kisah sukses, melainkan refleksi perjalanan hidup yang relevan dengan kondisi banyak orang saat ini. Melalui pendekatan yang jujur dan membumi, Jiu Kian mengajak pembaca memahami satu sikap sederhana namun krusial: keberanian untuk mengatakan “YES” pada kesempatan, meski disertai rasa takut dan risiko.

Buku The Man Who Said Yes Resmi Diluncurkan

Buku The Man Who Said Yes resmi diperkenalkan kepada publik sebagai rangkuman perjalanan hidup sekaligus panduan reflektif bagi siapa pun yang tengah mencari arah di tengah perubahan zaman.

Dalam buku ini, Jiu Kian menekankan bahwa kata “YES” bukanlah bentuk optimisme kosong. Lebih dari itu, “YES” adalah sikap mental untuk terbuka pada peluang, belajar dari proses, dan bertanggung jawab atas pilihan hidup.

“Ketidakpastian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Namun yang membedakan hasil hidup setiap orang adalah bagaimana ia merespons kondisi tersebut,” ujar Jiu Kian dalam salah satu bagian buku.

Baca Juga:  Daftar Harga BBM Terbaru per 1 September 2025: Pertamina Turunkan Harga Dex Series

Pernyataan tersebut menjadi fondasi utama narasi buku ini, yang disusun dengan gaya lugas dan reflektif agar mudah dipahami lintas generasi.

Sosok Jiu Kian dan Perjalanan Hidupnya

Dari Masa Kecil Sederhana hingga Dunia Bisnis

Perjalanan Jiu Kian menuju kesuksesan jauh dari kata instan. Dalam buku ini, ia secara terbuka menceritakan masa kecilnya yang penuh keterbatasan. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia sudah terbiasa bekerja demi membantu ekonomi keluarga, salah satunya dengan berjualan es mambo.

Selepas itu, ia sempat bekerja sebagai buruh pabrik batu bata. Dengan kondisi serba terbatas, Jiu Kian kemudian merantau ke Pulau Jawa, membawa harapan besar namun tanpa kepastian.

Beragam pekerjaan pernah ia jalani, mulai dari bekerja di toko kelontong, menjadi kuli panggul di pasar, hingga menjaga toko di pusat perbelanjaan. Semua pengalaman tersebut membentuk mental tahan banting yang kelak menjadi modal penting dalam perjalanan bisnisnya.

Menghadapi Rasa Takut dan Penolakan

Jiu Kian tidak menutup-nutupi bahwa rasa malu, takut gagal, dan kelelahan mental kerap menghampirinya. Salah satu fase paling menantang adalah saat ia memulai karier dengan menawarkan produk asuransi secara door to door, berjalan kaki dari rumah ke rumah.

Penolakan demi penolakan menjadi makanan sehari-hari. Namun di titik inilah prinsip “YES” benar-benar diuji.

“Kalau saat itu saya memilih berkata tidak karena malu atau takut ditolak, mungkin cerita hidup saya akan berhenti di situ,” ungkapnya.

Pengalaman ini menjadi contoh konkret bagaimana satu keputusan kecil dapat berdampak besar dalam jangka panjang.

Makna Filosofi “YES” dalam Buku Ini

Bukan Sekadar Motivasi, tapi Sikap Hidup

Dalam Buku The Man Who Said Yes, kata “YES” diposisikan sebagai sikap hidup yang aktif, bukan pasif. Mengatakan “YES” berarti siap belajar, siap gagal, dan siap bertumbuh.

Jiu Kian menegaskan bahwa banyak peluang datang dalam bentuk yang tidak ideal. Jika seseorang menunggu kondisi sempurna, peluang tersebut sering kali sudah berlalu.

Baca Juga:  Queen Sirikit Meninggal Dunia di Usia 93 Tahun, Miss Universe 2025 Terancam Tertunda

“Bagi saya, kata YES adalah tiket masuk menuju level kehidupan berikutnya,” tulisnya.

Pesan ini relevan bagi profesional muda, mahasiswa, maupun pelaku usaha yang kerap dihadapkan pada pilihan sulit dalam hidup dan karier.

Filosofi 368: Kerangka Berpikir yang Aplikatif

Tiga Fase Kehidupan

Salah satu keunikan buku ini adalah hadirnya filosofi 368 yang dirancang sebagai panduan praktis. Tiga fase kehidupan menggambarkan perjalanan manusia dari:

  1. Fase ditempa oleh keadaan
  2. Fase bertumbuh melalui pembelajaran
  3. Fase berbagi dan memberi dampak bagi sesama

Menurut Jiu Kian, setiap orang pasti melewati ketiga fase ini, meski dengan waktu dan proses yang berbeda.

Enam Prinsip Abadi dan Delapan Kunci Kesuksesan

Enam prinsip abadi berfungsi sebagai nilai penuntun yang harus dijaga di setiap fase kehidupan, seperti integritas, disiplin, dan konsistensi. Sementara itu, delapan kunci kesuksesan membahas sikap serta kebiasaan yang perlu dibangun agar tujuan hidup dapat dicapai secara berkelanjutan.

Pendekatan ini membuat buku tidak hanya inspiratif, tetapi juga praktis. Pembaca diajak melakukan refleksi personal dan mengevaluasi posisi hidupnya saat ini.

Dampak Sosial dan Jaringan Bisnis Jiu Kian

Saat ini, Jiu Kian memimpin jaringan bisnis yang tersebar di 16 kota di Indonesia dengan 11 kantor agensi aktif. Jaringan tersebut menjadi wadah bertumbuh bagi lebih dari 2.500 mitra dan karyawan.

Ia menyebut mereka sebagai “pejuang kehidupan”, istilah yang menggambarkan semangat bertahan dan berkembang di tengah keterbatasan.

Baginya, kesuksesan tidak hanya diukur dari omzet atau ekspansi bisnis, tetapi juga dari dampak sosial yang dihasilkan. Prinsip ini sejalan dengan nilai keberlanjutan dan pemberdayaan yang kini banyak didorong oleh pelaku usaha dan pakar ekonomi.

Buku The Man Who Said Yes untuk Siapa?

Buku The Man Who Said Yes ditujukan bagi siapa pun yang sedang berada di persimpangan hidup. Mulai dari profesional muda yang ragu mengambil langkah baru, pelaku usaha yang menghadapi tekanan, hingga mahasiswa yang sedang mencari arah masa depan.

Dengan gaya bahasa yang mengalir dan reflektif, buku ini diharapkan menjadi teman perjalanan dalam menghadapi dinamika kehidupan modern. Lebih dari sekadar bacaan, buku ini mengajak pembaca menuliskan versi “The Man Who Said Yes” dalam hidup mereka sendiri.

Buku ini kini tersedia di berbagai toko buku dan platform marketplace di Indonesia.

Ikuti Kami di Google News

Related Post

rajadewa138