Makan Tabungan Demi Bertahan Hidup? Pakar Keuangan Bilang Ini Lebih Masuk Akal daripada Nekat Berutang

Tabungan makin menipis untuk kebutuhan sehari-hari? Pakar keuangan jelaskan kenapa makan tabungan lebih logis daripada berutang dan cara bangkit dari kondisi ini.

Redaksi

Makan Tabungan Demi Bertahan Hidup? Pakar Keuangan Bilang Ini Lebih Masuk Akal daripada Nekat Berutang

Mata Berita – Bayangkan membuka aplikasi mobile banking, lalu melihat saldo tabungan yang terus merosot setiap bulan — bukan karena dibelanjakan hal-hal mewah, tapi semata-mata karena kebutuhan hidup sehari-hari yang tidak bisa ditunda. Fenomena inilah yang kini tengah dialami jutaan masyarakat Indonesia dan mulai menarik perhatian serius para pakar keuangan serta lembaga perbankan nasional.

Data dari riset Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) mengungkap tren yang cukup mengkhawatirkan. Rata-rata nominal simpanan di segmen rekening di bawah Rp 100 juta terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Jika pada 2018 rata-rata simpanan per rekening masih berada di angka Rp 3,1 juta, maka pada 2024 angka itu menyusut menjadi Rp 1,8 juta per rekening. Bahkan hingga Mei 2026, nilai rata-rata simpanan kembali turun menjadi hanya Rp 1,7 juta per rekening. Tren ini bukan angka sembarangan — ini potret nyata kondisi keuangan masyarakat kelas bawah dan menengah yang semakin terjepit.

Lalu, apa yang seharusnya dilakukan ketika tabungan mulai “dimakan” untuk kebutuhan sehari-hari? Apakah ini tanda bahaya yang harus segera dihentikan, atau justru ada cara pandang lain yang lebih bijak untuk menyikapi situasi ini? Financial planner berpengalaman punya jawaban yang mungkin mengejutkan sekaligus melegakan Anda.

Makan Tabungan: Fenomena yang Tidak Bisa Dihindari

Tabungan, secara sederhana, adalah uang yang disisihkan dari sebagian pendapatan dan disimpan untuk kebutuhan masa depan atau sebagai dana darurat. Banyak orang menabung melalui berbagai instrumen — mulai dari menyimpan uang tunai, membeli emas, hingga berinvestasi di saham. Namun dalam kondisi ekonomi yang tidak berpihak, tabungan yang tadinya dibangun dengan susah payah bisa perlahan terkikis hanya untuk menutup kebutuhan dapur dan tagihan bulanan.

Financial Planner Andi Nugroho menegaskan bahwa fenomena “makan tabungan” adalah sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya dihindari, terutama bagi mereka yang penghasilannya sangat pas-pasan — bahkan lebih kecil dari total pengeluaran bulanan.

Baca Juga:  Jalan Tol Probolinggo-Banyuwangi: Akses ke Ujung Timur Pulau Jawa Segera Tersambung

“Fenomena seseorang yang harus bertahan hidup dengan cara ‘makan’ dari tabungannya menjadi hal yang tidak terelakkan apabila ternyata penghasilannya dirasa mepet banget atau bahkan lebih kecil dibandingkan dengan berbagai pengeluaran dan kebutuhannya,” jelas Andi.

Pernyataan ini penting untuk dipahami. Masyarakat yang mengambil uang dari tabungan demi bertahan hidup bukanlah orang yang tidak bertanggung jawab secara finansial. Seringkali, ini adalah keputusan rasional yang diambil dalam kondisi yang memang serba terbatas.

Lebih Logis daripada Berutang — Ini Alasannya

Pertanyaan yang sering muncul adalah: jika tabungan menipis, bukankah lebih baik mencari pinjaman agar tabungan tetap aman? Menurut Andi, jawabannya tidak sesederhana itu. Menggunakan tabungan sendiri justru merupakan pilihan yang lebih logis dan lebih aman dibandingkan memilih jalur berutang.

“Hal tersebut masih merupakan pilihan yang logis dan aman untuk diambil, dibandingkan dengan harus berhutang,” kata Andi.

Mengapa demikian? Ketika seseorang berutang — terutama dari pinjaman online berbunga tinggi atau kartu kredit — beban yang harus ditanggung justru berlipat ganda. Pokok utang ditambah bunga yang terus berjalan bisa membuat kondisi keuangan makin sulit untuk pulih. Sebaliknya, meskipun tabungan berkurang, setidaknya tidak ada kewajiban cicilan yang menggerus penghasilan di bulan-bulan berikutnya.

Tentu ada risikonya. Andi mengakui bahwa jika pilihan ini terus diambil tanpa strategi pemulihan, tabungan akan semakin menipis hingga akhirnya habis sama sekali.

“Risikonya memang ketika pilihan tersebut diambil maka lambat laun tabungannya akan semakin menipis dan orang tersebut harus memulai lagi dari awal tabungannya,” ujarnya.

Jadi, makan tabungan bisa diterima sebagai solusi sementara — tapi bukan strategi jangka panjang. Di sinilah pentingnya memiliki rencana pemulihan keuangan yang jelas dan terukur.

Cara Membangun Kembali Fondasi Keuangan yang Kuat

Setelah melewati fase bertahan, langkah selanjutnya adalah membangun kembali fondasi keuangan dari nol. Andi memberikan dua langkah utama yang bisa langsung diterapkan.

1. Pastikan Ada Sumber Penghasilan yang Mencukupi Kebutuhan Dasar

Langkah pertama dan paling fundamental adalah memastikan ada pemasukan yang setidaknya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kedengarannya sederhana, tapi ini adalah fondasi dari segalanya.

Baca Juga:  AAAFI Resmi Berdiri: Saat Advokat dan Akuntan Forensik Bersatu untuk Keadilan Indonesia

“Pertama adalah tentunya memiliki sumber penghasilan yang paling tidak dapat memenuhi kebutuhan untuk bertahan hidup, syukur-syukur ada kelebihannya yang dapat ditabung,” kata Andi.

Jika penghasilan utama belum mencukupi, ini saatnya mulai mempertimbangkan sumber pendapatan tambahan. Bisa dari pekerjaan sampingan, jasa freelance, berjualan online, atau memanfaatkan keahlian yang selama ini belum dimonetisasi. Tujuannya bukan langsung kaya — tapi minimal ada ruang bernapas dalam keuangan bulanan.

2. Minimalkan Utang dan Lunasi Secara Bertahap

Langkah kedua yang tidak kalah penting adalah meminimalkan utang. Jika sudah terlanjur punya utang, jangan panik — tapi juga jangan dibiarkan. Andi menyarankan untuk segera melunasinya secara bertahap, meskipun butuh waktu.

“Bila selama ini punya hutang maka segera lunasi meskipun secara bertahap dan perlu waktu,” tegasnya.

Dalam fase ini, dua kata kunci yang menjadi penentu keberhasilan adalah: disiplin dan kesabaran. Disiplin dalam menyelesaikan cicilan utang, disiplin dalam membelanjakan uang hanya untuk hal-hal yang benar-benar penting dan wajib, serta disiplin dalam menyisihkan tabungan sekecil apapun nominalnya.

Mulai Belajar Investasi dengan Risiko Terukur

Sambil menjalani dua langkah di atas, Andi juga menyarankan agar masyarakat mulai mengenal dunia investasi — tentu dengan risiko yang terukur dan sesuai kemampuan. Tidak perlu langsung terjun ke instrumen yang kompleks. Reksa dana pasar uang, deposito, atau emas digital bisa menjadi pintu masuk yang aman bagi pemula.

Dan jika memungkinkan, teruslah mencari sumber penghasilan tambahan. “Alangkah lebih baik bila bisa mendapatkan sumber penghasilan tambahan lagi agar makin leluasa untuk mengatur keuangannya,” pungkas Andi.

Jangan Menyalahkan Diri Sendiri, Tapi Juga Jangan Diam

Makan tabungan bukan tanda kegagalan pribadi. Dalam kondisi ekonomi yang penuh tekanan seperti sekarang, banyak orang berada di posisi yang sama — berjuang keras hanya untuk mempertahankan apa yang ada. Yang terpenting adalah tidak larut dalam kondisi tersebut tanpa usaha untuk berubah.

Mulailah dari langkah kecil: catat pengeluaran harian, cari tahu ke mana uang pergi setiap bulan, dan identifikasi pos mana yang bisa dikurangi tanpa mengorbankan kualitas hidup secara drastis. Dari sana, bangun kembali kebiasaan menabung meski nominalnya kecil. Konsistensi jauh lebih berharga daripada jumlah besar yang tidak bertahan lama.

Fenomena makan tabungan mungkin tidak bisa dihindari oleh semua orang — tapi dengan strategi yang tepat, kondisi ini bisa menjadi titik balik menuju keuangan yang lebih sehat. Pertanyaannya sekarang: langkah mana yang akan Anda mulai hari ini?

Ikuti Kami di Google News

Related Post

sbobet88

slot88

supervegas88

supervegas88