
Mata Berita – Kalau kamu masih ingat masa sekolah dulu, pasti tahu rasanya menerima buku pelajaran yang sampulnya sudah lecek, halamannya gampang sobek, bahkan tulisannya begitu kecil sampai mata harus menyipit untuk membacanya. Ternyata, kondisi seperti itu bukan cuma dialami oleh generasi lama — hingga hari ini, kualitas buku pelajaran di banyak sekolah Indonesia masih jauh dari ideal. Dan kini, pemerintah akhirnya bergerak serius untuk mengubahnya.
Presiden Prabowo Subianto dikabarkan turun langsung meninjau kondisi buku pelajaran yang digunakan siswa SD hingga SMA di sejumlah sekolah. Bukan sekadar laporan dari bawahan, Prabowo mengecek sendiri — membuka halaman demi halaman, merasakan kualitas kertasnya, dan membandingkannya dengan buku ajar dari negara tetangga. Hasilnya? Beliau menilai kualitas buku pelajaran nasional saat ini masih kurang layak dan perlu dirombak total.
Kebijakan besar ini tentu memunculkan banyak pertanyaan: apa sebenarnya yang salah dengan buku pelajaran kita selama ini? Apa saja yang akan diubah? Dan mengapa langkah ini justru dianggap penting di tengah era digital yang serba gadget? Berikut penjelasan lengkap dari dasarnya, khusus untuk kamu yang ingin memahami isu ini dari awal.
Mengapa Buku Pelajaran SD hingga SMA Perlu Dirombak?
Inisiatif perombakan buku pelajaran ini bukan muncul begitu saja dari meja rapat. Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, mengungkapkan bahwa ide ini lahir dari kunjungan kerja langsung Presiden Prabowo ke sekolah-sekolah. Dalam kunjungan tersebut, Prabowo tidak hanya berjabat tangan dengan kepala sekolah — beliau benar-benar duduk, mengambil buku pelajaran milik siswa, dan memeriksanya satu per satu. Dari situ, ditemukan setidaknya dua masalah utama yang menjadi alasan kuat perlunya perombakan menyeluruh.
1. Fisik Buku Mudah Rusak dan Tidak Tahan Lama
Masalah pertama yang langsung mencolok adalah kualitas fisik buku. Menurut Teddy Indra Wijaya, Presiden Prabowo mendapati bahwa bahan buku pelajaran yang digunakan siswa saat ini sangat mudah rusak — bahkan sebagian buku yang dilihatnya sudah dalam kondisi rusak ketika masih dipakai.
“Saat mengecek buku pelajaran, beliau melihatnya satu per satu, lalu mendapati ada bahan buku yang mudah rusak, bahkan sebagian sudah dalam keadaan rusak,” ujar Teddy, dikutip dari Kompas.com pada Jumat, 7 Agustus 2026.
Bayangkan seorang siswa kelas 4 SD yang harus membawa buku IPA yang halamannya sudah terlepas sejak semester pertama. Buku itu bukan hanya tidak nyaman dipakai — ia juga menjadi kurang efektif sebagai media belajar. Ironisnya, kondisi seperti ini sudah berlangsung lama dan seolah dinormalisasi.
Sebagai pembanding, Prabowo juga meminta tim untuk mengevaluasi kualitas cetakan buku pelajaran nasional dibandingkan dengan buku ajar dari negara tetangga. Hasilnya, kualitas buku Indonesia dinilai masih tertinggal cukup jauh — terutama dari segi ketahanan bahan dan kenyamanan penggunaan jangka panjang.
2. Ukuran Huruf Terlalu Kecil dan Tidak Ramah Mata Anak
Masalah kedua yang tidak kalah penting adalah soal tipografi — khususnya ukuran huruf cetak di dalam buku pelajaran. Presiden Prabowo menilai ukuran font yang digunakan saat ini terlalu kecil untuk anak-anak yang sedang dalam masa belajar aktif.
Sebagai gambaran, ukuran huruf yang umum digunakan dalam buku pelajaran saat ini berkisar antara ukuran 11 hingga 12 poin. Bagi orang dewasa yang membaca dokumen kerja, ukuran itu mungkin terasa normal. Tapi bagi anak SD yang baru mengenal huruf, atau siswa SMP yang membaca puluhan halaman per hari, ukuran sekecil itu bisa membuat mata cepat lelah dan menurunkan konsentrasi belajar.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, turut menjelaskan visi pemerintah ke depan terkait perombakan ini. Ia menegaskan bahwa buku pelajaran baru akan dirancang dengan tampilan yang lebih menarik, ukuran huruf yang lebih besar dan proporsional, serta kualitas kertas yang jauh lebih kokoh.
“Tampilannya ingin dibuat lebih besar, menarik, dan tulisannya tidak kecil-kecil. Bahannya juga memakai yang bagus supaya bisa bertahan lama. Dulu kan ada tradisi buku cetak tidak dimiliki pribadi secara permanen, tetapi bisa diwariskan atau digunakan kembali oleh adik kelasnya,” jelas Prasetyo.
Pernyataan Prasetyo itu menyinggung tradisi yang cukup berharga: buku yang cukup kuat untuk diwariskan dari kakak ke adik kelas. Bukan hanya soal penghematan, tradisi ini juga mengajarkan siswa untuk menjaga dan menghargai fasilitas belajar. Namun tradisi ini sulit terwujud jika buku yang digunakan mudah rusak hanya dalam satu semester pemakaian.
Bukan Hanya Buku Pelajaran — Buku Tulis Pun Ikut Didesain Ulang
Menariknya, perhatian Presiden Prabowo tidak berhenti pada buku pelajaran saja. Menurut Prasetyo Hadi, desain buku tulis untuk siswa — terutama di tingkat sekolah dasar — juga akan mengalami perubahan.
Spasi Garis Lebih Lebar untuk Siswa Kelas 1–3 SD
Secara fungsi, buku tulis yang baru tidak berbeda jauh dengan yang ada di pasaran sekarang. Namun ada satu perubahan signifikan: jarak antar garis akan dibuat lebih lebar, khususnya untuk siswa kelas 1 hingga 3 SD.
Alasannya cukup masuk akal dari sudut pandang pendidikan anak. Siswa yang baru belajar menulis cenderung membuat huruf dalam ukuran kecil karena mengikuti lebar garis yang sempit di buku tulis konvensional. Akibatnya, tulisan mereka menjadi tidak terbaca dengan baik, dan kebiasaan buruk ini bisa terbawa hingga kelas-kelas berikutnya.
“Ini terutama untuk adik-adik kelas 1–3 SD, garisnya dibuat lebih besar karena tulisan mereka cenderung masih kecil-kecil,” ungkap Prasetyo.
Dengan garis yang lebih lebar, anak-anak akan terbiasa menulis dengan ukuran huruf yang lebih proporsional sejak dini — sebuah kebiasaan kecil yang berdampak besar pada perkembangan kemampuan literasi mereka.
Kebijakan Ini Bukan Langkah Mundur, Justru Sebaliknya
Di tengah maraknya teknologi pendidikan dan tren penggunaan tablet di kelas, sebagian orang mungkin bertanya: apakah memperbarui buku fisik masih relevan? Bukankah dunia sudah bergerak ke arah digital?
Prasetyo Hadi menjawab keraguan ini dengan menarik. Ia menunjuk tren yang sedang terjadi di Eropa — di mana beberapa negara justru mulai mengurangi penggunaan gadget di sekolah dan kembali ke buku fisik sebagai media belajar utama. Kebijakan ini bukan karena teknologi dianggap buruk, melainkan karena ada kekhawatiran nyata terhadap dampak layar digital pada konsentrasi dan perkembangan kognitif anak.
“Beberapa negara di Eropa justru mulai mengurangi penggunaan gadget di sekolah dan kembali membiasakan penggunaan buku fisik. Kebijakan ini penting untuk melatih kemampuan menulis anak sekaligus mengurangi ketergantungan pada perangkat elektronik,” pungkas Prasetyo.
Artinya, perombakan buku pelajaran ini bisa dilihat sebagai langkah yang justru progresif — selaras dengan kesadaran global bahwa buku fisik berkualitas tetap memiliki peran yang tidak tergantikan dalam proses belajar anak.
Apa Dampaknya bagi Siswa, Orang Tua, dan Sekolah?
Bagi siswa, perubahan ini tentu membawa angin segar. Buku yang lebih tahan lama berarti tidak perlu sering ganti karena rusak. Tulisan yang lebih besar berarti belajar lebih nyaman dan tidak mudah pusing. Dan buku tulis dengan garis yang lebih lebar berarti anak-anak bisa mengembangkan kemampuan menulis dengan lebih baik sejak awal.
Bagi orang tua, jika buku benar-benar dirancang untuk bisa diwariskan ke adik kelas, ini juga berpotensi mengurangi pengeluaran untuk pembelian buku setiap tahun ajaran baru — sesuatu yang selama ini menjadi beban tidak kecil bagi banyak keluarga.
Bagi pihak sekolah dan pemerintah daerah, tantangannya tentu ada pada distribusi dan implementasi. Memperbarui desain buku adalah satu hal, memastikan buku baru itu sampai ke tangan seluruh siswa di pelosok negeri adalah hal lain yang butuh perencanaan matang.
Kebijakan perombakan buku pelajaran ini masih dalam tahap rencana dan evaluasi, namun arah geraknya sudah cukup jelas. Yang menarik untuk diikuti ke depan adalah bagaimana pemerintah akan merealisasikan perubahan ini secara merata — bukan hanya di kota besar, tapi juga hingga ke daerah terpencil yang selama ini paling merasakan keterbatasan fasilitas belajar. Kalau kamu adalah orang tua, guru, atau bahkan siswa yang peduli dengan kualitas pendidikan, ini adalah isu yang layak untuk terus dipantau perkembangannya.







