Seberapa Parah Ancaman Gagal Panen Global Akibat Perubahan Iklim yang Kita Abaikan Selama Ini?

Kerugian gagal panen global akibat perubahan iklim tembus Rp361,6 triliun per tahun dan bisa melonjak 8x lipat pada 2100. Ini fakta yang wajib kamu tahu.

Redaksi

Seberapa Parah Ancaman Gagal Panen Global Akibat Perubahan Iklim yang Kita Abaikan Selama Ini?

Mata Berita – Bayangkan sebuah ladang jagung yang luas, membentang hingga ke cakrawala, lalu perlahan mengering di bawah terik matahari yang tak kenal ampun. Bukan karena petaninya lalai, bukan pula karena benih yang buruk — melainkan karena bumi sedang berubah, dan perubahan itu datang jauh lebih cepat dari yang kita kira. Inilah gambaran nyata yang kini sedang dihadapi jutaan petani di berbagai penjuru dunia, dan dampaknya jauh lebih besar dari sekadar sawah yang gagal panen.

Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dan dipresentasikan dalam pertemuan European Geosciences Union di Wina mengungkap angka yang mengejutkan: hawa panas ekstrem dan kekeringan akibat pemanasan global telah memicu kerugian panen jagung, gandum, dan kedelai hingga 20 miliar dolar AS — atau sekitar Rp361,6 triliun — setiap tahunnya. Angka itu bukan prediksi masa depan yang samar-samar. Itu adalah kondisi yang sudah terjadi sekarang, diam-diam menggerus ketahanan pangan global tanpa banyak disadari.

Yang lebih mengkhawatirkan, angka tersebut berpotensi melonjak delapan kali lipat menjadi lebih dari 160 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.892 triliun pada tahun 2100 — jika kita tidak segera mengambil tindakan serius untuk memangkas emisi gas rumah kaca. Pertanyaannya bukan lagi “apakah ini akan terjadi?” tapi “seberapa siap kita menghadapinya?”

Bagaimana Para Ilmuwan Menghitung Kerugian Panen Global

Untuk memahami seberapa besar kerusakan yang sudah terjadi, tim peneliti dari lembaga riset IIASA di Austria mengawali kerja mereka dengan cara yang cukup mendasar: mengumpulkan data. Mereka menghimpun catatan hasil panen jagung, gandum, dan kedelai dari berbagai negara melalui Badan Pangan PBB (FAO), lalu memadankannya dengan data iklim masa lalu — termasuk tingkat kekeringan tanah yang dihitung berdasarkan curah hujan dan tingkat penguapan air.

Data cuaca panas ekstrem dan kekeringan dari periode 1974 hingga 2004 dibandingkan secara langsung dengan hasil panen di era yang sama. Dari sana, para peneliti membangun model untuk memperkirakan kerugian panen dari tahun 2007 hingga 2019. Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan suhu dan kekeringan telah menyebabkan penurunan hasil panen global sebesar 3,5 persen dibanding periode referensi sebelumnya.

“Angka sekitar tiga persen mungkin terdengar kecil,” kata Kai Kornhuber, anggota tim peneliti dari IIASA. “Tapi ini adalah dampak yang sangat besar bagi pasar pangan global. Di beberapa wilayah, angka ini sudah cukup untuk memicu krisis pangan yang parah.”

Baca Juga:  Redenominasi Rupiah Purbaya Ditargetkan Rampung 2027: Apa Dampaknya?

Dengan menggunakan data harga jual komoditas dari FAO, para peneliti kemudian mengonversi penurunan hasil panen itu menjadi angka kerugian ekonomi yang konkret. Lalu, menggunakan metode yang sama, mereka memproyeksikan kerugian di masa depan berdasarkan beberapa skenario emisi yang berbeda-beda — dari yang optimistis hingga yang sangat mengkhawatirkan.

Skenario Terburuk: 855 Juta Ton Pangan Hilang Setiap Tahun

Dalam skenario polusi emisi sangat tinggi yang disebut SSP3-7.0 — yakni kondisi di mana dunia gagal total menekan laju emisi karbon — hasil panen global diprediksi akan merosot sekitar 35 persen pada tahun 2100. Akibatnya, kerugian tahunan bisa melonjak menjadi lebih dari 161 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.910 triliun.

Yi Ling Hwong dari IIASA memberikan gambaran yang lebih mudah dipahami secara manusiawi. “Jumlah panen yang hilang akibat hawa panas dan kekeringan mencapai sekitar 855 juta ton setiap tahunnya,” ujarnya. “Saya rasa jumlah makanan yang hilang itu setara dengan porsi makanan yang dikonsumsi oleh sekitar 2 miliar orang dalam waktu satu tahun.”

Dua miliar orang. Itu bukan sekadar angka statistik — itu adalah gambaran tentang lapar, tentang krisis, dan tentang ketidakstabilan sosial yang bisa merembet ke mana-mana.

Siapa yang Paling Terpukul?

Secara nominal, negara-negara produsen besar seperti Amerika Serikat akan mencatat kerugian uang terbesar. Wajar, mengingat volume produksi dan nilai komoditas mereka yang jauh lebih tinggi. Namun secara dampak nyata terhadap kehidupan manusia, negara-negara miskin dan berkembang — terutama di Afrika — justru akan merasakan hantaman yang jauh lebih mematikan.

“Jika melihat negara-negara paling tertinggal di Afrika, dampaknya jauh lebih besar,” jelas Hwong. “Hal ini bisa memicu kerusuhan sosial dan peningkatan gelombang perpindahan penduduk.”

Ini bukan skenario yang asing. Sejarah mencatat bahwa gagal panen berkepanjangan kerap menjadi pemicu migrasi massal, konflik sumber daya, hingga ketidakstabilan politik. Ketika sebagian besar penduduk suatu negara bergantung pada pertanian subsisten, penurunan hasil panen tiga hingga tiga puluh lima persen bukan angka — itu adalah bencana kehidupan.

Ketidakpastian yang Tidak Bisa Diabaikan

Meski temuan penelitian ini cukup mengejutkan, para ilmuwan sendiri mengakui bahwa ada ketidakpastian besar yang melekat pada perkiraan jangka panjang semacam ini. Banyak hal masih bisa berubah, tergantung pada bagaimana petani dan masyarakat global beradaptasi — apakah mereka beralih ke jenis tanaman yang lebih tahan panas, membangun sistem irigasi baru, atau mengadopsi teknologi pertanian cerdas.

Jonas Jägermeyr dari Universitas Columbia di New York juga memberikan catatan kritis atas metode yang digunakan. Menurutnya, model yang mengandalkan korelasi data historis antara gagal panen dan cuaca ekstrem memang sangat andal untuk menjelaskan kondisi masa kini dan masa lalu. Namun untuk memproyeksikan kondisi ekstrem di akhir abad ke-21, pendekatan ini memiliki keterbatasan yang cukup fundamental.

Baca Juga:  9 Aplikasi Pinjol Tanpa KTP dan BI Checking Langsung Cair ke DANA

“Cara ini pada dasarnya tidak bisa diandalkan jika dipaksa menghitung kondisi lingkungan yang sudah berubah total secara ekstrem, seperti kondisi polusi sangat tinggi di akhir abad nanti,” terangnya. Ia lebih menyarankan penggunaan simulasi komputer yang secara langsung memodelkan bagaimana tanaman merespons kenaikan kadar CO2 dan suhu udara.

Simulasi Komputer: Lebih Baik, tapi Tetap Belum Sempurna

Karine Chenu dari Universitas Queensland, Australia, sependapat dengan Jägermeyr. Simulasi komputer memang lebih cocok untuk memperkirakan kondisi jangka panjang yang ekstrem. Namun ia juga menambahkan catatan penting: timnya baru saja merilis temuan yang menunjukkan bahwa dua simulasi komputer yang paling umum digunakan untuk tanaman gandum masih membuat kesalahan besar, terutama dalam memprediksi dampak gabungan antara hawa panas ekstrem dan kekeringan yang terjadi secara bersamaan.

Artinya, bahkan alat terbaik yang kita miliki pun masih belum cukup sempurna untuk memotret kompleksitas krisis yang sedang kita hadapi.

Mengapa Penelitian Ini Tetap Penting Meski Ada Keterbatasannya

Terlepas dari debat metodologi di antara para ilmuwan, ada satu pesan yang disampaikan dengan sangat jelas oleh Kai Kornhuber: penelitian ini bukan tentang menakut-nakuti. Ini tentang mendorong tindakan.

“Sebenarnya, tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk membangun kesadaran dan mendorong perubahan tersebut, agar perkiraan buruk ini tidak sampai terjadi,” katanya tegas. “Inilah tugas utama para ilmuwan iklim. Kami membuat perkiraan buruk ini agar orang-orang segera bertindak, sehingga ramalan kami terbukti salah.”

Ada ironi yang indah sekaligus serius di balik pernyataan itu. Para ilmuwan ini berharap prediksi mereka keliru — dan satu-satunya cara agar itu terjadi adalah jika kita, sebagai masyarakat global, benar-benar bergerak. Memotong emisi. Mendukung petani beradaptasi. Mendorong kebijakan yang melindungi ketahanan pangan.

Gambaran yang Lebih Besar: Apa yang Belum Dihitung

Penting juga untuk dicatat bahwa angka-angka dalam penelitian ini sebenarnya baru mencerminkan sebagian kecil dari gambaran besar. Penelitian ini hanya menghitung tiga jenis tanaman — jagung, gandum, dan kedelai — dan belum memasukkan dampak banjir, badai, atau hujan ekstrem terhadap pertanian. Belum pula memperhitungkan efek domino berupa lonjakan harga pangan akibat kelangkaan, yang dampaknya sudah mulai terasa pada komoditas lain seperti kopi dan cokelat dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan kata lain, Rp361,6 triliun kerugian per tahun yang sudah kita alami sekarang boleh jadi hanyalah puncak dari gunung es yang jauh lebih besar — dan sebagian besar dari gunung es itu masih tersembunyi di bawah permukaan, menunggu untuk muncul.

Perubahan iklim dan dampaknya terhadap ketahanan pangan global bukan lagi isu masa depan yang bisa ditunda pembahasannya. Kerugian triliunan rupiah akibat gagal panen sudah berlangsung hari ini, di ladang-ladang yang mungkin tidak pernah kita kunjungi namun hasilnya ada di piring makan kita setiap hari. Pertanyaan yang tersisa adalah: apakah kita akan menunggu hingga angka itu melonjak delapan kali lipat, atau mulai bertindak sekarang — sebelum ramalan para ilmuwan ini terbukti benar?

Ikuti Kami di Google News

Related Post

rajadewa138