Kenapa Nanik S Deyang Tiba-tiba Mundur dari Kepala BGN Padahal Baru Sebulan Menjabat?

Nanik S Deyang mundur dari Kepala BGN setelah hanya 44 hari menjabat. Apa alasan di balik keputusan mengejutkan ini? Simak kisah lengkapnya.

Redaksi

Kenapa Nanik S Deyang Tiba-tiba Mundur dari Kepala BGN Padahal Baru Sebulan Menjabat?

Mata Berita – Dunia perpolitikan dan birokrasi Indonesia kembali diwarnai kabar mengejutkan. Nanik S Deyang, sosok yang baru saja dilantik sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) sekitar satu setengah bulan lalu, tiba-tiba mengumumkan pengunduran dirinya pada Rabu, 22 Juli 2026. Bagi banyak orang yang mengikuti perjalanan program Makan Bergizi Gratis (MBG), berita ini tentu terasa seperti tamparan dingin di tengah angin segar.

Belum lagi ingatan kita sempat memudar soal pelantikannya yang berlangsung di Istana Negara pada 8 Juni 2026, kabar pengunduran diri ini sudah beredar luas. Pertanyaan yang langsung muncul di benak banyak orang pun cukup sederhana: ada apa sebenarnya? Apakah ini soal tekanan pekerjaan, dinamika politik, atau benar-benar murni soal kesehatan?

Ternyata, jawabannya lebih personal dari yang kita duga. Nanik mundur bukan karena konflik atau tekanan dari luar, melainkan karena ia harus mengutamakan kesehatannya — tepatnya, kondisi jantungnya yang membutuhkan penanganan serius hingga ke luar negeri. Inilah kisah lengkap di balik mundurnya Nanik S Deyang dari kursi Kepala BGN.

Baru Sebulan Menjabat, Nanik Sudah Harus Pamit

Nanik S Deyang resmi dilantik sebagai Kepala Badan Gizi Nasional pada Senin, 8 Juni 2026, di Istana Negara, Jakarta. Pelantikan itu dilakukan bersamaan dengan Agustina Arumsari dan Mayjen (Purn) Trenggono yang menjabat sebagai Wakil Kepala BGN. Momen itu disambut dengan harapan besar, mengingat program MBG sedang menjadi sorotan publik dan menjadi salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto.

Namun hanya dalam hitungan 44 hari, Nanik sudah harus berpamitan. Pada 22 Juli 2026, kabar pengunduran dirinya dikonfirmasi langsung oleh Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan, Dirgayuza Setiawan, kepada Kompas.com. Singkat, padat, dan mengejutkan.

Konfirmasi Resmi dari Istana

Dirgayuza — yang akrab dipanggil Dirga — menyampaikan konfirmasi tersebut dengan nada yang penuh penghormatan terhadap sosok Nanik. Ia menuturkan, “Hari ini, 22 Juli 2026, Ibu Nanik Deyang berpamitan kepada Presiden Prabowo untuk menjalani pengobatan jantung. Beliau juga mengundurkan diri sebagai Kepala Badan Gizi Nasional.”

Baca Juga:  Kenapa Prabowo Berani Ucapkan "Endasmu" di Depan Petani dan Malah Tertawa soal Konsekuensinya?

Dirga bahkan mengungkapkan sisi personal hubungannya dengan Nanik. Ia mengaku telah mengenal perempuan tersebut sejak menjelang Pemilu 2014 — lebih dari satu dekade yang lalu. Dan selama lebih dari sepuluh tahun itu, ada satu hal yang ia nilai tidak pernah berubah dari Nanik: semangatnya yang tidak bisa padam ketika melihat rakyat menghadapi ketidakadilan dan kesulitan.

“Ketika dipercaya Presiden memimpin BGN, hanya dalam satu setengah bulan, ia membongkar masalah dan meletakkan fondasi perbaikan,” ungkap Dirga. Kalimat itu terasa seperti sebuah penghargaan yang tulus, bukan sekadar basa-basi protokoler.

Alasan Nanik Mundur: Soal Jantung, Bukan Soal Politik

Nanik sendiri tidak berdiam diri. Ia memilih untuk bicara langsung kepada publik melalui akun Facebook pribadinya — sesuatu yang terasa lebih manusiawi dibanding sekadar pernyataan resmi dari humas pemerintah. Dalam unggahannya, ia menulis dengan jujur dan terbuka.

“Dengan berat hati akhirnya saya pamit Bapak Presiden untuk melakukan pengobatan di luar negeri untuk jantung saya, rencananya hari ini, Rabu (22/7) saya berangkat,” tulisnya. Ada nada berat dalam pilihan katanya — seolah ia benar-benar tidak ingin meninggalkan posisi itu, tapi tubuhnya tidak memberi pilihan lain.

Bukan Tidak Percaya Dokter Indonesia

Tentu, keputusan berobat ke luar negeri tidak luput dari sorotan. Nanik pun tampaknya sudah mengantisipasi pertanyaan itu. Ia menegaskan bahwa keputusannya pergi ke luar negeri bukan karena meragukan kompetensi dokter Indonesia.

“Saya sampaikan bukan karena tidak percaya dengan dokter Indonesia, ini hanya untuk second opinion, serta direkomendasikan oleh teman saya,” jelasnya. Sebuah klarifikasi yang penting, karena figur publik yang memilih berobat ke luar negeri kerap menjadi bahan perdebatan di ruang-ruang media sosial.

Presiden Setuju, tapi dengan Satu Syarat

Yang menarik dari cerita ini adalah bagaimana Presiden Prabowo merespons pengunduran diri Nanik. Menurut penuturan Nanik sendiri, Presiden menyetujui permintaannya, namun tidak begitu saja melepasnya sepenuhnya dari lingkaran BGN.

“Saya sampaikan ke Presiden juga dengan beribu maaf, sepertinya saya harus mundur sebagai Kepala BGN, demi kesehatan saya. Dan karena Presiden prihatin dan kasihan dengan saya, Presiden menyetujui, namun saya diminta tetap ikut mengawasi BGN,” ungkap Nanik. Ini menarik — mundur dari jabatan, tapi tetap diminta berkontribusi. Sebuah bentuk kepercayaan yang tidak biasa.

Nanik Akan Pimpin Dewan Pengawas BGN

Pengunduran diri Nanik ternyata tidak berarti pemutusan hubungannya dengan Badan Gizi Nasional secara total. Presiden Prabowo disebut akan membentuk semacam dewan pengawas untuk BGN, dan Nanik direncanakan menjadi ketua dari lembaga pengawas tersebut.

Baca Juga:  Pemilik Bakso Remaja Gading Solo Tegas Bantah Isu Non-Halal: “Ayah Saya Salah Paham Saat Ditanya Petugas”

Ini adalah langkah yang cukup strategis. Pengalaman dan pemahaman Nanik terhadap persoalan internal BGN — meski baru sebulan ia menjabat — tetap dianggap berharga. Kehadirannya sebagai pengawas bisa menjadi jembatan antara visi program MBG di lapangan dengan evaluasi kebijakan di tingkat atas.

Dampak MBG yang Dirasakan Langsung oleh Nanik

Satu hal yang disinggung oleh Dirga dan cukup menyentuh adalah pengamatan langsung Nanik terhadap dampak program Makan Bergizi Gratis bagi masyarakat kecil. Ketika program MBG sempat berhenti selama tiga minggu masa libur sekolah, efek dominonya terasa sampai ke tingkat paling bawah.

“Ia juga melihat sendiri bagaimana MBG menghidupkan ekonomi rakyat. Ketika program berhenti selama tiga minggu libur sekolah, petani dan peternak mengeluh hasil produksinya tidak terserap. Pedagang pasar harus membuang sayur dan buah karena kehilangan pembeli,” cerita Dirga. Gambaran ini memperkuat betapa program MBG bukan sekadar soal anak-anak mendapat makanan bergizi, tapi juga soal rantai ekonomi yang bergerak dari hulu ke hilir.

Nanik, yang menyaksikan sendiri realita itu, menegaskan komitmennya untuk tidak berhenti berjuang meski sudah tidak lagi memegang jabatan resmi. “Saya tetap berjuang dan mendukung Pak Presiden yang saat ini sangat keras berupaya memperbaiki kehidupan rakyat Indonesia,” tulisnya dengan penuh keyakinan.

Apa Artinya Ini bagi BGN ke Depan?

Pergantian kepemimpinan di lembaga baru seperti BGN dalam waktu sesingkat ini tentu menimbulkan pertanyaan soal kesinambungan program. Namun di sisi lain, rencana pembentukan dewan pengawas dengan Nanik sebagai ketua bisa menjadi mekanisme transisi yang relatif mulus.

Yang perlu dicermati adalah siapa yang akan mengisi posisi Kepala BGN selanjutnya, dan bagaimana mereka akan melanjutkan fondasi yang sudah mulai dibangun Nanik dalam waktu singkat. Dalam dunia birokrasi, pergantian pemimpin tidak selalu berarti pergantian arah — tapi tetap butuh waktu untuk adaptasi.

Program MBG sendiri terlalu besar dan terlalu berdampak untuk terhenti hanya karena satu pergantian pejabat. Namun kepercayaan publik terhadap konsistensi kebijakan tetap perlu dijaga dengan komunikasi yang transparan dari pemerintah.

Kisah Nanik S Deyang ini sejatinya adalah pengingat bahwa di balik setiap jabatan publik, ada manusia dengan keterbatasannya. Ia datang dengan semangat, bekerja keras dalam waktu singkat, lalu harus mengundurkan diri demi menjaga kesehatan dirinya sendiri — sesuatu yang sangat manusiawi. Yang menarik untuk ditunggu adalah bagaimana BGN akan bergerak setelah ini, dan apakah peran Nanik sebagai kepala dewan pengawas benar-benar akan terwujud dan memberi dampak nyata bagi keberlangsungan program gizi nasional yang sudah menyentuh banyak kehidupan rakyat kecil.

Ikuti Kami di Google News

Related Post

rajadewa138