Lil Public Ubah Novel Zenitendo Jadi Koleksi Fashion di JF3 2026, Ini Hasilnya

Lil Public hadirkan koleksi Tendo Series di JF3 Fashion Festival 2026, mengadaptasi novel Zenitendo karya Reiko Hiroshima ke dalam enam tampilan busana unik.

Redaksi

Lil Public Ubah Novel Zenitendo Jadi Koleksi Fashion di JF3 2026, Ini Hasilnya

Mata Berita – Bayangkan sebuah novel anak-anak asal Jepang yang penuh monster ajaib tiba-tiba menjelma menjadi koleksi busana di atas panggung runway. Bukan metafora, bukan sekadar kiasan — itulah yang benar-benar terjadi di JF3 Fashion Festival 2026. Di sinilah Lil Public, label urban wear yang dikenal gemar bermain di persimpangan literasi dan fesyen, membuktikan bahwa sebuah buku bisa diterjemahkan jauh melampaui kata-kata.

JF3 Fashion Tent di Summarecon Mall Kelapa Gading pada Kamis, 23 Juli lalu menjadi saksi bisu momen tersebut. Ruangan itu disulap menjadi semacam portal menuju dunia fiksi karya Reiko Hiroshima — penulis asal Jepang di balik novel “Toko Jajanan Ajaib Zenitendo” yang selama ini sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan digemari banyak pembaca Tanah Air. Kali ini, Lil Public mengambil giliran untuk menerjemahkan Zenitendo ke dalam bahasa yang jauh lebih visual: bahasa fesyen.

Di balik persiapan koleksi bertajuk Tendo Series ini, ada proses kreatif yang tidak instan. Duo pendiri Lil Public, Muhammad Hafiz dan Al Liefta, tidak langsung membuka meja gambar begitu memilih tema. Mereka membaca buku dulu — beneran. Dan dari sanalah segalanya bermula.

Ketika Tim Desainer Wajib Membaca Buku Lebih Dulu

Bagi sebagian brand fesyen, inspirasi bisa datang dari mood board visual semata. Tapi Lil Public punya cara kerja yang berbeda sejak awal. Label ini membangun identitasnya dari sebuah komunitas buku, sehingga menghubungkan dunia literasi dengan dunia busana sudah menjadi DNA mereka — bukan sekadar gimmick marketing.

Al Liefta mengungkapkan bahwa proses riset dimulai jauh sebelum satu pun sketsa dibuat. “Tim kita baca buku dulu, riset macam-macam. Setelah kita riset, kira-kira novel apa nih yang lagi happening atau yang lagi menarik, yang bisa inline sama karakter-karakter kita. Nah, sekarang kita mengangkatnya Zenitendo,” ujar Al dalam konferensi pers JF3 Fashion Festival 2026 di Summarecon Mall Kelapa Gading, Senin (20/07).

Jadi prosesnya organik: baca dulu, pahami karakternya, baru kemudian putuskan apakah ada kecocokan dengan semesta visual Lil Public. Novel Zenitendo ternyata lolos seleksi itu dengan mulus — dunia penuh makhluk ajaib di dalamnya berpadu sempurna dengan karakter monster bermata empat dan berbentuk likuid yang selama ini jadi ciri khas jenama tersebut.

Baca Juga:  Profil dan Nama Pemain Drama China Close to You: Lengkap dengan Biodata, Peran, dan Fakta Menarik

Enam Tampilan, Enam Emosi dari Dunia Zenitendo

Novel Zenitendo memiliki banyak karakter, dan tidak semua bisa diwujudkan dalam satu koleksi. Maka Hafiz dan Al menerapkan metode yang cukup demokratis: voting. Seluruh tim membedah isi buku bersama-sama, lalu memilih karakter mana yang paling layak naik ke runway.

“Zenitendo kan karakternya banyak banget. Enggak mungkin semuanya kita bikin. Jadi kita vote, karakter mana yang mau dikeluarin supaya orang-orang tahu chapter itu seseru apa,” jelas Hafiz.

Hasilnya adalah enam tampilan yang masing-masing mengambil inspirasi dari karakter maupun emosi dalam cerita — rasa takut, iri hati, keraguan, hingga kerinduan untuk diterima. Keenam tampilan itu hadir dalam nama-nama yang terasa seperti daftar karakter dalam sebuah manga: Goburin Cardigan, Yukie Jacket, Akira Jacket, Keiji Jacket, Hidea Cardigan, dan Ide Moto Beskap.

Setiap emosi mendapat wujudnya sendiri. Misalnya, sebuah headpiece yang menjuntai panjang hingga menutupi seluruh wajah model — seolah karakter itu tengah bersembunyi dari tatapan dunia. Detail seperti ini bukan kebetulan. Ini adalah keputusan desain yang lahir dari pemahaman mendalam terhadap teks sumbernya.

Tren Global, Tapi Tetap Bernapas Lil Public

Kalau diperhatikan lebih seksama, Tendo Series bukan hanya soal adaptasi literasi. Koleksi ini juga memperlihatkan kepekaan Lil Public terhadap arus tren fesyen global — dan kemampuan mereka untuk menyerap tren itu tanpa kehilangan jati diri.

Polkadot yang Tidak Biasa

Motif polkadot muncul dalam salah satu tampilan, tetapi jangan bayangkan polkadot klasik yang tersusun rapi dan simetris. Di sini, lingkaran-lingkaran itu disebar secara acak dengan ukuran yang sengaja dibuat kontras — ada yang sangat besar, ada yang sangat kecil. Hasilnya adalah ritme visual yang lebih ekspresif dan terasa hidup, jauh dari kesan kaku.

Palet Warna yang Bicara Zaman

Perpaduan biru dan cokelat hadir dalam satu tampilan — kombinasi yang belakangan kerap muncul di koleksi rumah mode internasional. Butter yellow, warna yang mendominasi dunia mode musim panas tahun ini, juga mendapat tempat di dalam koleksi. Bagi yang mengikuti perkembangan tren fesyen global, kemunculan warna-warna ini terasa familier namun tetap segar karena konteksnya berbeda: mereka hadir di dalam semesta monster Lil Public.

Baca Juga:  Nonton Drama China Nafsu Terlarang Full Episode Sub Indo

Di sinilah yang menarik — Lil Public tidak anti-tren, tapi mereka tidak pernah sepenuhnya tunduk padanya. Apapun yang masuk ke dalam koleksi mereka, tetap harus melewati filter identitas: apakah ini masih terasa seperti dunia monster kami?

Monster yang Akhirnya Turun ke Runway

Salah satu terobosan paling nyata dari Tendo Series adalah bagaimana Lil Public membawa monster-monster mereka dari dimensi dua ke dimensi tiga. Jika sebelumnya karakter-karakter itu hidup sebagai ilustrasi di atas kain, kali ini mereka benar-benar “turun” ke panggung dan menempel pada tubuh para model.

Para model tampil mengenakan furry monster headpiece, custom 3D art headpiece, sepatu berbulu, ekor yang bergoyang mengikuti langkah, sarung tangan berukuran tidak proporsional, hingga berbagai aksesori tiga dimensi lainnya. Keseluruhan penampilan itu membuat mereka tampak seperti karakter yang baru saja keluar dari halaman buku Zenitendo.

Al menjelaskan bahwa keputusan ini lahir dari keinginan yang sudah lama tersimpan. “Kita pengen si modelnya menjadi monster. Selama ini baru bajunya doang yang monster. Nah sekarang pengen si manusianya itu menjadi monster Lil Public,” ungkapnya.

Ada sesuatu yang menyentuh dari pernyataan itu. Ini bukan sekadar soal kostum atau aksesori tambahan. Ini adalah pernyataan artistik: bahwa batas antara manusia dan karakter fiksi bisa — dan memang seharusnya — dikaburkan di atas panggung. Apalagi ketika ekor model bergoyang di bawah sorot lampu dan sepatu berbulu monster melangkah di atas catwalk, suasana yang tercipta terasa seperti lahir dari imajinasi liar seorang anak kecil yang belum mengenal batas antara nyata dan fantasi.

Mimpi Berikutnya: Kolaborasi dengan Dee Lestari

Usai menuntaskan perjalanan di JF3 Fashion Festival 2026, pertanyaan alamiah pun muncul: siapa penulis berikutnya yang ingin diadaptasi oleh Lil Public?

Hafiz menjawab tanpa perlu berpikir lama. “Dee Lestari,” katanya mantap. Nama penulis di balik Aroma Karsa dan serial Supernova itu langsung terlontar. Al yang mendengar jawaban rekannya langsung berkelakar, “Tolong dihubungi.”

Respons spontan itu terasa jujur dan menarik. Karya-karya Dee Lestari memang kaya akan semesta yang kompleks, penuh metafora, dan sarat lapisan makna — bahan yang tampaknya sangat subur untuk dijelajahi oleh tangan-tangan kreatif Lil Public.

Sinopsis novel Zenitendo sendiri bertulis: “Di Toko Jajanan Ajaib Zenitendo, semua keinginanmu bisa terwujud!” Dan kelihatannya, Lil Public sudah membuktikan bahwa mereka tahu betul cara mengabulkan keinginan itu — setidaknya di atas panggung JF3. Jika kolaborasi dengan Dee Lestari benar-benar terwujud suatu hari nanti, rasanya perjalanan dari halaman buku ke atas runway akan semakin jauh dan semakin menakjubkan untuk diikuti.

Ikuti Kami di Google News

Related Post

rajadewa138