MataBerita.co.id-Arsenal berhasil mengamankan tiket ke putaran keempat FA Cup setelah melumat Portsmouth dengan skor telak 4-1 di Fratton Park, Minggu (11/1/2026).
Meskipun melakukan rotasi besar-besaran dengan 10 perubahan pemain dari laga sebelumnya, skuad asuhan Mikel Arteta tetap menunjukkan dominasi mental juara.
Kemenangan ini diwarnai oleh performa heroik Gabriel Martinelli yang mencetak hattrick senior pertamanya bagi The Gunners, membungkam kritik yang sempat ia terima usai laga melawan Liverpool.
Namun, laga tidak dimulai dengan mudah bagi pemuncak klasemen sementara Premier League tersebut.
Tuan rumah sempat membuat ribuan pendukung Arsenal terdiam ketika Colby Bishop mencetak gol cepat di menit ke-3, memanfaatkan bola rebound dari penyelamatan Kepa Arrizabalaga.
Gol tersebut menyentak Arsenal, namun respon yang diberikan tim tamu sangatlah brutal dan efisien.
“Timing-nya di dalam kotak penalti sangat bagus, terutama saat dia menyerang ruang kosong,” puji Mikel Arteta mengenai performa Martinelli, seperti dikutip dari pernyataan pasca-laga.
Pujian ini tidak berlebihan mengingat Martinelli menjadi mimpi buruk bagi pertahanan Portsmouth sepanjang sore itu, terutama melalui situasi bola mati.
Kronologi Pertandingan: Drama di Babak Pertama
Menit 1-15: Kejutan Tuan Rumah dan Respon Instan
Laga baru berjalan tiga menit ketika Fratton Park bergemuruh.
Tembakan Conor Chaplin berhasil ditepis oleh Kepa, namun bola muntah jatuh tepat di kaki Colby Bishop yang tanpa ampun menghukum kelengahahan pertahanan Arsenal.
Skor 1-0 untuk Portsmouth membuat atmosfer stadion menjadi sangat “angker” bagi tim tamu.
Namun, keunggulan tersebut hanya bertahan seumur jagung.
Empat menit berselang, Arsenal menyamakan kedudukan melalui skema sepak pojok yang diambil oleh Eberechi Eze.
Bola kemelut di depan gawang akhirnya masuk setelah membentur pemain Portsmouth, Andre Dozzell, yang kemudian disahkan sebagai gol bunuh diri meski Christian Norgaard sempat merayakannya.
Menit 16-45: Dominasi Martinelli dan Kegagalan Penalti
Setelah skor imbang 1-1, Arsenal mulai mengendalikan ritme permainan sepenuhnya.
Pada menit ke-26, Gabriel Martinelli mencetak gol pertamanya melalui tandukan kepala, lagi-lagi bermula dari situasi bola mati yang gagal diantisipasi pertahanan Pompey.
Keunggulan 2-1 seharusnya bisa bertambah lebar menjelang turun minum.
Noni Madueke yang tampil agresif berhasil memenangkan penalti setelah dilanggar oleh Zak Swanson di dalam kotak terlarang.
Sayangnya, eksekusi Madueke justru melebar dari sasaran, membuang peluang emas untuk “membunuh” pertandingan lebih cepat di babak pertama.
Babak Kedua: Martinelli Segel Kemenangan
Memasuki babak kedua, Arsenal tidak mengendurkan serangan meskipun sudah unggul.
Gabriel Martinelli kembali mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-52, kali ini memanfaatkan umpan silang akurat dari Gabriel Jesus yang diawali oleh tendangan bebas cepat Myles Lewis-Skelly.
Gol ini meruntuhkan moral Portsmouth yang sebenarnya sempat memberikan perlawanan sengit di lini tengah.
Puncaknya terjadi di menit ke-72, ketika Martinelli melengkapi hattrick-nya.
Pemain asal Brasil ini kembali menunjukkan ketajamannya dalam duel udara, menyambar umpan sepak pojok Madueke dengan tandukan keras yang tak mampu dihalau kiper Josh Bursik.
Pelatih Portsmouth, John Mousinho, mengakui keunggulan kualitas lawan meski timnya sempat melawan.
“Kami bertahan dalam kontes ini selama 65 menit, tapi tim yang lebih baik yang menang,” ungkap Mousinho dengan lapang dada.
Ia juga menyoroti kelemahan fatal timnya dalam mengantisipasi bola mati yang menjadi senjata utama Arsenal musim ini.
“Bertahan dari situasi bola mati kami tidak cukup baik,” tambahnya, merujuk pada fakta bahwa tiga dari empat gol Arsenal bermula dari set-piece.
Analisis Taktikal: Transformasi “Set-Piece FC”
Senjata Mematikan Bernama Bola Mati
Salah satu sorotan utama dari laga ini adalah betapa mematikannya Arsenal dalam situasi bola mati (set-pieces).
Data statistik menunjukkan bahwa dengan tambahan gol di laga ini, Arsenal telah mencetak lebih dari 17 gol melalui skema bola mati di semua kompetisi musim ini.
Kredit khusus patut diberikan kepada pelatih set-piece mereka, Nicolas Jover, yang berhasil mengubah tendangan sudut menjadi peluang gol yang hampir pasti (xG tinggi).
Dua gol Martinelli yang berasal dari tandukan kepala membuktikan variasi serangan Arsenal tidak hanya bergantung pada open play.
Rotasi yang Berjalan Mulus
Keputusan Arteta untuk mengistirahatkan pemain kunci seperti Bukayo Saka, Declan Rice, dan William Saliba terbukti tepat.
Pemain pelapis seperti Ethan Nwaneri, yang menjadi starter untuk pertama kalinya sejak Oktober, tampil impresif di lini tengah.
Begitu pula dengan rekrutan anyar (dalam konteks 2026) seperti Eberechi Eze dan Christian Norgaard yang langsung nyetel dengan sistem permainan Arteta.
Ini memberikan sinyal bahaya bagi rival-rival Arsenal bahwa kedalaman skuad The Gunners kini sudah berada di level elit.
Rating Pemain Arsenal (vs Portsmouth)
Berikut adalah penilaian performa individu pemain Arsenal berdasarkan kontribusi mereka di lapangan:
- Kepa Arrizabalaga (6/10): Melakukan penyelamatan awal namun kurang sempurna menepis bola yang berujung gol Bishop. Tidak banyak bekerja di babak kedua.
- Ben White (7/10): Solid di sisi kanan, rajin membantu serangan dan disiplin saat transisi bertahan.
- Gabriel Magalhaes (7.5/10): Satu-satunya pemain starter reguler yang dimainkan. Menjadi pemimpin di lini belakang dan ancaman saat bola mati.
- Myles Lewis-Skelly (8/10): Tampil tenang di posisi bek kiri. Inisiatif tendangan bebas cepatnya menjadi kunci gol kedua Martinelli.
- Christian Norgaard (7/10): Memberikan keseimbangan di lini tengah dan terlibat dalam proses gol penyeimbang.
- Ethan Nwaneri (7.5/10): Menunjukkan kedewasaan bermain meski masih muda. Visi passing-nya sangat menjanjikan.
- Eberechi Eze (8/10): Kreator utama dari situasi bola mati. Eksekusi tendangan sudutnya sangat akurat dan berbahaya.
- Noni Madueke (6.5/10): Sangat lincah dan merepotkan bek lawan, namun nilainya berkurang karena gagal eksekusi penalti. Namun, ia membayar lunas dengan assist untuk gol ketiga Martinelli.
- Gabriel Martinelli (10/10): Man of the Match. Hattrick, pergerakan tanpa bola yang elit, dan penyelesaian akhir yang klinis.
- Gabriel Jesus (8/10): Tidak mencetak gol, namun permainannya sangat cair. Memberikan assist brilian untuk gol Martinelli.
Fakta Menarik Pasca Laga
Untuk melengkapi wawasan Anda, berikut adalah beberapa fakta unik yang tercipta usai laga Portsmouth vs Arsenal:
- Hattrick Perdana: Ini adalah hattrick senior pertama Gabriel Martinelli sepanjang kariernya bersama Arsenal.
- Rekor Fratton Park: Kemenangan ini memperpanjang rekor tak terkalahkan Arsenal melawan Portsmouth dalam 23 pertemuan terakhir.
- Kutukan Tuan Rumah: Portsmouth belum pernah menang melawan Arsenal sejak tahun 1958 di laga kompetitif.
- Produktivitas Gol: Arsenal menjadi tim dengan jumlah gol set-piece terbanyak di antara tim Premier League musim ini.
Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya untuk Arsenal?
Kemenangan ini memastikan langkah Arsenal ke putaran keempat (32 besar) FA Cup, di mana undian akan segera dilakukan.
Namun, jadwal padat sudah menanti Mikel Arteta dan pasukannya.
Fokus mereka harus segera beralih ke laga semifinal Carabao Cup melawan Chelsea yang akan digelar pertengahan pekan depan.
Arteta mengisyaratkan bahwa kemenangan di FA Cup ini menjadi modal moral yang sangat penting.
“Kami memulai persis seperti yang tidak kami inginkan [kebobolan cepat], tapi saya senang bisa mengganti 10 pemain dan tetap menang,” ujar Arteta sembari tersenyum lebar dalam konferensi pers.
Ia juga menambahkan bahwa tujuan utama klub musim ini adalah menyapu bersih semua trofi yang tersedia.
“Tujuan kami adalah memenangkan trofi, karena itulah tolak ukur penilaian saya di sini,” tegas pelatih asal Spanyol tersebut.
Dengan performa Martinelli yang sedang on-fire dan kedalaman skuad yang teruji, ambisi tersebut tampaknya bukan sekadar mimpi di siang bolong.








