Kebijakan Moneter Singapura Bikin Rupiah Makin Tertekan, Ini Penjelasan Para Ekonom

Mataberita.co.id – Selama ini banyak yang mengira pelemahan rupiah hanya soal pengaruh dolar Amerika Serikat dan suku bunga The Fed. Tapi ada ancaman yang lebih

Redaksi

Kebijakan Moneter Singapura Bikin Rupiah Makin Tertekan, Ini Penjelasan Para Ekonom

Mataberita.co.id Selama ini banyak yang mengira pelemahan rupiah hanya soal pengaruh dolar Amerika Serikat dan suku bunga The Fed. Tapi ada ancaman yang lebih dekat dan semakin nyata, yaitu tekanan dari dolar Singapura yang terus menguat terhadap rupiah. Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan hasil langsung dari perbedaan strategi kebijakan moneter antara Singapura dan Indonesia yang semakin melebar jaraknya.

Pada Kamis, 28 Mei 2026, para pengamat ekonomi kembali menyoroti divergensi kekuatan ekonomi di tingkat regional yang kini menjadi alarm baru bagi pemerintah maupun pelaku pasar. Kebijakan moneter Singapura yang dijalankan oleh Monetary Authority of Singapore (MAS) terbukti jauh lebih proaktif dalam menjaga stabilitas nilai tukar dibanding pendekatan yang diterapkan Bank Indonesia. Akibatnya, rupiah tidak hanya tertekan oleh Washington, tapi juga semakin kewalahan menghadapi Singapura.

Yang lebih mengkhawatirkan, dampak pelemahan ini tidak berhenti di angka-angka di layar trading. Masyarakat kelas menengah, industri manufaktur, hingga harga BBM di dalam negeri semuanya berpotensi terkena imbasnya. Artikel ini merangkum penjelasan para ekonom mengenai akar masalah, dampak nyata, dan mengapa kebijakan moneter Singapura menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan lagi.

Strategi Kebijakan Moneter Singapura yang Membuat Dolarnya Terus Menguat

Rahma Gafmi, pengamat ekonomi dari Universitas Airlangga, menjelaskan bahwa kekuatan dolar Singapura bukan terjadi begitu saja. Ada strategi yang sangat terencana di baliknya. MAS secara konsisten menggunakan nilai tukar sebagai instrumen utama kebijakan moneter melalui mekanisme yang dikenal sebagai Nominal Effective Exchange Rate atau NEER.

Berbeda dengan bank sentral kebanyakan yang mengandalkan suku bunga sebagai alat utama, MAS memilih untuk membiarkan dolar Singapura terapresiasi secara terkendali. Tujuannya jelas: meredam inflasi dari barang-barang impor sekaligus menjaga daya beli masyarakat Singapura tetap kuat. Pendekatan ini terbukti efektif dan menjadi salah satu alasan mengapa Singapura tetap menjadi pusat finansial dan perdagangan terkuat di kawasan Asia Tenggara.

Baca Juga:  BI Umumkan BI Rate Siang Ini: Tahan di 4,75% atau Turun Lagi?

Kontras dengan Pendekatan Bank Indonesia

Sementara MAS memilih jalur apresiasi, Bank Indonesia cenderung defensif dengan mengandalkan kenaikan suku bunga sebagai cara utama untuk menahan arus modal keluar. Dua pendekatan yang berbeda ini menciptakan kesenjangan yang semakin besar antara dolar Singapura dan rupiah dari waktu ke waktu.

Rahma Gafmi menegaskan bahwa ketika MAS memilih jalur apresiasi untuk menjaga ekonomi mereka sementara rupiah masih berjuang melawan defisit transaksi berjalan dan fluktuasi harga komoditas, maka secara otomatis selisih nilai tukar antara dolar Singapura dan rupiah akan terus melebar. Inilah inti dari persoalan yang kini dihadapi Indonesia.

Rupiah Jadi Salah Satu Mata Uang dengan Koreksi Terdalam di Asia

Data dari Permata Institute for Economic Research (PIER) menunjukkan gambaran yang cukup memprihatinkan. Josua Pardede, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk, mengonfirmasi bahwa rupiah melemah lebih dari 5 persen secara year to date terhadap dolar AS hingga 22 Mei 2026. Angka ini sangat kontras dengan indeks dolar AS (DXY) yang hanya menguat sekitar 0,9 persen dalam periode yang sama.

Lebih jauh lagi, rupiah tercatat menjadi salah satu mata uang dengan koreksi paling dalam di Asia. Dari seluruh mata uang di kawasan, rupiah hanya mampu menguat terhadap rupee India sebesar 0,8 persen secara year to date. Selebihnya, rupiah kalah dari hampir semua mata uang tetangganya.

Ringgit Malaysia dan Dolar Singapura Paling Memukul Rupiah

Josua Pardede merinci bahwa pelemahan rupiah paling dalam terjadi terhadap ringgit Malaysia, diikuti oleh dolar Singapura di posisi kedua, kemudian dolar Hong Kong dan yuan China. Fakta ini memperlihatkan bahwa tekanan terhadap rupiah bukan hanya datang dari kekuatan global, melainkan juga dari sesama negara tetangga di kawasan Asia.

Kebijakan moneter Singapura yang solid dan kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi negeri singa tersebut menjadi faktor utama yang membuat dolarnya terus unggul atas rupiah dalam beberapa bulan terakhir.

Dampak Nyata Pelemahan Rupiah terhadap Kehidupan Sehari-hari

Pelemahan rupiah terhadap dolar Singapura bukan sekadar isu makroekonomi yang hanya relevan bagi para trader dan analis keuangan. Dampaknya terasa langsung di lapisan masyarakat yang paling luas.

Salah satu dampak paling signifikan adalah pada sektor energi. Rahma Gafmi menjelaskan bahwa pelemahan rupiah menciptakan tekanan tambahan pada subsidi energi dan berpotensi mendorong kenaikan harga BBM nonsubsidi. Ini terjadi karena acuan harga minyak di pasar regional menggunakan Mean of Platts Singapore (MOPS), yang artinya pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Singapura berpengaruh langsung pada perhitungan harga energi di dalam negeri.

Baca Juga:  Saham GOTO dan BUMI Kompak Melemah, Investor Asing Lepas Saham Besar-Besaran

Beban Kelas Menengah yang Semakin Berat

Masyarakat kelas menengah yang aktif mengakses layanan kesehatan, pariwisata, maupun pendidikan di Singapura adalah kelompok yang paling langsung merasakan dampak pelemahan ini. Biaya yang harus dikeluarkan dalam rupiah untuk membayar layanan berdenominasi dolar Singapura otomatis meningkat seiring melemahnya nilai tukar.

Tidak hanya itu, inflasi tersembunyi juga mengintai dalam bentuk kenaikan biaya jasa korporasi yang selama ini bergantung pada layanan berbasis Singapura. Biaya konsultasi, logistik, hingga teknologi yang disuplai dari atau melalui Singapura semuanya berpotensi naik jika rupiah terus melemah.

Daya Saing Manufaktur Nasional Ikut Tergerus

Sektor yang tidak kalah terdampak adalah industri manufaktur nasional. Ketergantungan industri dalam negeri pada rantai pasok global yang sebagian besar melewati pelabuhan Singapura membuat posisi daya saing Indonesia semakin terjepit. Rahma Gafmi menyebut bahwa semakin lemah rupiah terhadap mata uang hub regional ini, semakin tidak kompetitif pula industri manufaktur Indonesia yang masih sangat bergantung pada jalur distribusi tersebut.

Faktor Musiman yang Turut Mendorong Permintaan Dolar

Di luar faktor struktural kebijakan moneter, ada juga faktor musiman yang ikut berkontribusi pada tekanan terhadap rupiah di kuartal II 2026 ini. Josua Pardede menjelaskan bahwa kebutuhan dolar AS di dalam negeri melonjak karena dua hal yang berlangsung hampir bersamaan.

Pertama, momentum pembayaran dividen dari emiten-emiten skala besar yang mayoritas terjadi sepanjang bulan Mei. Kedua, pembiayaan musim haji yang setiap tahunnya membutuhkan konversi rupiah ke valuta asing dalam jumlah yang sangat besar. Josua menegaskan bahwa peningkatan permintaan dolar di kuartal II ini adalah sesuatu yang sangat wajar dan hampir tidak bisa dihindari karena sudah bersifat siklikal.

Kombinasi antara tekanan struktural dari kebijakan moneter Singapura yang menguat dan tekanan musiman dari kebutuhan valas domestik inilah yang membuat rupiah bergerak di zona lemah pada periode ini.

Memahami dinamika kebijakan moneter Singapura dan dampaknya terhadap rupiah bukan hanya tugas para ekonom dan pengambil kebijakan. Sebagai masyarakat, memahami mengapa harga-harga bisa naik dan mengapa nilai uang kita berfluktuasi adalah langkah awal yang penting. Bagikan artikel ini kepada siapapun yang ingin lebih melek ekonomi, dan pantau terus perkembangan nilai tukar rupiah agar tidak terkejut dengan perubahan harga yang bisa datang kapan saja.

Ikuti Kami di Google News

Related Post

rajadewa138