Kekalahan memang selalu menyisakan cerita. Namun, hasil Persis Solo saat menjamu Borneo FC di Stadion Manahan kali ini terasa jauh lebih menyakitkan dari sekadar kehilangan tiga poin. Bukan hanya posisi di klasemen yang makin tertekan, tapi juga muncul gejolak di kalangan suporter setia Laskar Sambernyawa.
Laga Persis vs Borneo FC pada pekan ke-18 Super League 2025/2026 seharusnya menjadi momentum kebangkitan. Bermain di kandang sendiri, di hadapan ribuan Pasoepati, ekspektasi jelas tinggi. Sayangnya, harapan itu runtuh setelah Persis takluk tipis 0-1 dari tim tamu.
Usai pertandingan, sorotan publik tak hanya tertuju pada hasil akhir. Satu nama pemain justru jadi pusat kemarahan suporter. Sutanto Tan, gelandang bertahan Persis Solo, ramai didesak untuk hengkang setelah penampilannya dinilai jauh dari kata memuaskan.
Persis Solo Gagal Manfaatkan Laga Kandang
Bermain di Stadion Manahan biasanya memberi energi ekstra bagi Persis Solo. Dukungan Pasoepati dikenal militan dan kerap menjadi pembeda. Namun, saat menghadapi Borneo FC, keunggulan kandang itu tak mampu dimaksimalkan.
Sejak menit awal, Persis memang mencoba tampil agresif. Penguasaan bola relatif seimbang, tetapi efektivitas menjadi masalah utama. Serangan yang dibangun kerap mentok sebelum masuk area berbahaya.
Gol Tunggal Borneo FC Jadi Pembeda
Borneo FC tampil lebih pragmatis. Mereka tidak terlalu mendominasi, namun bermain rapi dan disiplin. Satu kesalahan kecil Persis cukup untuk dimanfaatkan menjadi gol penentu kemenangan Pesut Etam.
Skor 0-1 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan. Kekalahan ini membuat Persis kian terpuruk di papan bawah klasemen Super League 2025/2026.
Tekanan Klasemen Makin Berat
Hasil Persis vs Borneo FC ini membuat posisi Laskar Sambernyawa makin rawan. Setiap poin kini terasa sangat berharga, terutama untuk menjauh dari zona merah.
Di sisi lain, Borneo FC justru pulang dengan senyum lebar. Tambahan tiga poin membuat mereka semakin kokoh di papan atas dan menjaga konsistensi sebagai salah satu kandidat kuat juara.
Sutanto Tan Jadi Sorotan Pasoepati
Di balik kekalahan tersebut, satu nama langsung mencuat di media sosial. Sutanto Tan, gelandang bertahan yang tampil penuh 90 menit, menjadi sasaran kritik paling keras dari Pasoepati.
Banyak suporter menilai kontribusinya di lini tengah tidak sebanding dengan ekspektasi yang dibebankan.
Penampilan Dinilai Jauh dari Harapan
Sebagai gelandang bertahan, peran Sutanto Tan seharusnya krusial. Menjaga keseimbangan tim, memutus alur serangan lawan, serta membantu transisi bertahan ke menyerang.
Namun, dalam laga Persis vs Borneo FC, banyak suporter menilai perannya tidak terlihat signifikan. Aliran bola dari lini tengah kerap tersendat, dan beberapa momen krusial gagal diantisipasi dengan baik.
Nilai pasar Sutanto Tan yang disebut mencapai Rp3,04 miliar pun menjadi bahan perbandingan. Pasoepati merasa kontribusi di lapangan belum sebanding dengan status dan pengalaman yang dimiliki.
Kolom Komentar Dipenuhi Desakan Out
Kekecewaan Pasoepati memuncak di media sosial. Pada unggahan terbaru akun resmi Persis Solo usai pertandingan, kolom komentar dibanjiri kritik tajam.
Tak sedikit yang secara terang-terangan mendesak Sutanto Tan untuk angkat kaki dari Manahan. Nada komentar bervariasi, mulai dari kritik performa hingga desakan agar manajemen segera melakukan evaluasi.
Fenomena ini menunjukkan betapa tipisnya batas antara dukungan dan kekecewaan dalam sepak bola, terutama saat hasil tak sesuai harapan.
Reaksi Suporter: Emosi atau Bentuk Kepedulian?
Kemarahan Pasoepati tentu bukan tanpa alasan. Sebagai suporter setia, mereka telah lama menunggu Persis Solo kembali kompetitif dan stabil di Super League.
Namun, desakan agar pemain hengkang juga memicu perdebatan. Apakah ini murni reaksi emosional sesaat, atau justru bentuk kepedulian karena ingin tim segera berbenah?
Tekanan Mental Pemain di Tengah Performa Buruk
Dalam situasi sulit seperti ini, tekanan mental pemain jelas meningkat. Bermain di bawah sorotan tajam suporter bisa berdampak pada kepercayaan diri, terutama bagi pemain yang sedang disorot seperti Sutanto Tan.
Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini bisa berdampak pada performa tim secara keseluruhan di laga-laga berikutnya.
Tanggung Jawab Pelatih dan Manajemen
Pelatih dan manajemen Persis Solo kini berada di posisi krusial. Evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya pada satu individu.
Kekalahan Persis vs Borneo FC seharusnya menjadi alarm bahwa ada masalah struktural yang perlu dibenahi, baik dari segi taktik, mental, maupun kedalaman skuad.
Persis vs Borneo FC, Bukan Sekadar Soal Satu Pemain
Menjadikan satu pemain sebagai kambing hitam memang kerap terjadi dalam sepak bola. Namun, hasil buruk biasanya merupakan akumulasi dari banyak faktor.
Persis Solo perlu melihat kekalahan ini secara lebih objektif. Lini serang yang kurang tajam, transisi bertahan yang lambat, serta minimnya kreativitas di tengah menjadi pekerjaan rumah besar.
Jika fokus hanya pada satu nama, risiko terjebak pada solusi instan tanpa perbaikan jangka panjang akan semakin besar.
Langkah ke Depan untuk Persis Solo
Musim masih panjang, meski tekanan semakin berat. Persis Solo masih punya peluang untuk bangkit jika mampu segera merespons situasi dengan tepat.
Komunikasi antara tim, pelatih, dan suporter menjadi kunci. Pasoepati dikenal loyal, namun juga kritis. Jika tim menunjukkan progres dan semangat juang, dukungan biasanya akan kembali mengalir.
Bagi Sutanto Tan, sorotan ini bisa menjadi ujian karakter. Bangkit dari kritik dan menjawabnya lewat performa di lapangan mungkin menjadi satu-satunya cara untuk meredam suara sumbang.
Kekalahan yang Jadi Cermin
Laga Persis vs Borneo FC bukan hanya tentang skor 0-1 di papan hasil. Pertandingan ini menjadi cermin kondisi Persis Solo saat ini—rapuh, tertekan, dan butuh perubahan.
Desakan Pasoepati agar Sutanto Tan hengkang mungkin terdengar keras, tetapi di balik itu ada harapan besar agar Laskar Sambernyawa segera menemukan arah yang jelas.
Kini, semua mata tertuju pada bagaimana Persis Solo merespons. Apakah kekalahan ini akan menjadi awal keterpurukan, atau justru titik balik menuju kebangkitan? Jawabannya akan terlihat di laga-laga berikutnya.








