MataBerita – Perdebatan tentang sholat Tarawih yang benar 8 atau 20 rakaat selalu muncul setiap bulan Ramadan. Di masjid, media sosial, hingga obrolan santai, pertanyaan ini kerap memicu diskusi panjang. Sebagian umat Islam memilih delapan rakaat, sementara yang lain menjalankan dua puluh rakaat sebagai tradisi yang sudah berlangsung lama.
Perbedaan ini sebenarnya bukan hal baru. Sejak masa sahabat Nabi, umat Islam telah mengenal variasi jumlah rakaat Tarawih. Meski begitu, keduanya memiliki dasar dalil yang kuat dalam literatur hadis dan praktik para ulama. Artinya, perbedaan ini bukan soal benar atau salah secara mutlak.
Lalu, mana yang paling sesuai dengan sunnah? Apakah delapan rakaat lebih utama, atau dua puluh rakaat lebih dianjurkan? Berikut penjelasan lengkap dari sisi hadis, sejarah, dan pandangan ulama agar umat Islam bisa memahami perbedaan ini dengan lebih bijak.
Apa Itu Sholat Tarawih dan Kedudukannya dalam Islam
Sholat Tarawih adalah ibadah sunnah muakkadah yang dilakukan setelah sholat Isya pada malam-malam Ramadan. Ibadah ini termasuk dalam qiyam al-lail (shalat malam) yang sangat dianjurkan bagi umat Islam.
Tarawih biasanya dikerjakan secara berjamaah di masjid, meskipun juga boleh dilakukan sendiri di rumah. Keutamaan Tarawih disebutkan dalam banyak hadis, salah satunya bahwa siapa yang menghidupkan malam Ramadan dengan iman dan harapan pahala akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Dalil Hadis: Nabi SAW Sholat Malam 11 Rakaat
Perdebatan jumlah rakaat Tarawih sering merujuk pada hadis riwayat Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim. Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menambah sholat malam lebih dari sebelas rakaat, baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan.
Sebagian ulama memahami sebelas rakaat ini sebagai delapan rakaat sholat malam ditambah tiga rakaat witir. Dari sinilah muncul pendapat bahwa Tarawih yang paling mendekati praktik Nabi adalah delapan rakaat.
Pandangan Ulama Pendukung 8 Rakaat
Ulama yang memilih delapan rakaat berpendapat bahwa mengikuti kebiasaan Nabi SAW adalah bentuk ittiba’ (meneladani sunnah) yang paling utama. Mereka menekankan kualitas bacaan dan kekhusyukan dalam sholat malam.
Namun, para ulama juga sepakat bahwa hadis tersebut tidak secara tegas membatasi jumlah rakaat sholat malam. Artinya, Nabi SAW tidak melarang penambahan rakaat.
Praktik 20 Rakaat Sejak Masa Sahabat
Di sisi lain, terdapat riwayat sejarah yang kuat bahwa pada masa Khalifah Umar bin Khattab, sholat Tarawih dikerjakan sebanyak dua puluh rakaat secara berjamaah di masjid.
Kebijakan ini diambil untuk menyatukan umat dan memudahkan pelaksanaan sholat malam secara kolektif. Praktik dua puluh rakaat kemudian diteruskan oleh para sahabat, tabi’in, hingga menjadi tradisi di banyak negeri Muslim.
Mazhab yang Mengikuti 20 Rakaat
Mayoritas mazhab fikih seperti mazhab Mazhab Syafi’i, Hanafi, dan Hanbali membolehkan bahkan menganjurkan dua puluh rakaat Tarawih. Mereka memandang praktik sahabat sebagai bentuk ijtihad yang sah dan memiliki dasar kuat.
Dalam pandangan ini, jumlah rakaat yang lebih banyak memberi kesempatan memperbanyak ibadah di bulan Ramadan, selama tetap menjaga ketertiban dan kekhusyukan.
Kenapa Terjadi Perbedaan?
Perbedaan ini terjadi karena sholat Tarawih pada dasarnya adalah sholat malam yang tidak dibatasi jumlah rakaatnya secara tegas. Nabi SAW memang sering melaksanakan sebelas rakaat, tetapi tidak ada larangan untuk menambah rakaat.
Para ulama menjelaskan bahwa ini termasuk ranah ijtihadiyyah, yaitu wilayah yang terbuka untuk perbedaan pendapat selama memiliki dalil yang kuat. Oleh karena itu, baik delapan maupun dua puluh rakaat sama-sama memiliki dasar dalam tradisi Islam.
Prinsip Utama: Kualitas Lebih Penting dari Kuantitas
Banyak ulama menekankan bahwa kualitas sholat lebih utama daripada sekadar jumlah rakaat. Delapan rakaat dengan bacaan panjang dan khusyuk bisa lebih baik daripada dua puluh rakaat yang tergesa-gesa.
Sebaliknya, dua puluh rakaat yang dilakukan dengan tertib dan penuh kekhusyukan juga merupakan ibadah yang sangat baik. Intinya, setiap muslim dianjurkan memilih yang paling membuatnya konsisten dan khusyuk.
Sikap Bijak Menyikapi Perbedaan
Para ulama sepakat bahwa perbedaan jumlah rakaat Tarawih tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan. Kedua praktik tersebut sah dan berpahala selama dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai tuntunan syariat.
Di Indonesia sendiri, praktik dua puluh rakaat lebih umum di banyak masjid, tetapi delapan rakaat juga banyak dilakukan. Keduanya merupakan bagian dari kekayaan tradisi ibadah umat Islam.
Pesan Ulama
Banyak ulama menekankan pentingnya toleransi dalam masalah furu’ (cabang fikih). Selama memiliki landasan dalil, perbedaan seperti ini seharusnya disikapi dengan saling menghormati.
Umat Islam dianjurkan fokus pada tujuan utama Ramadan: meningkatkan ibadah, memperbanyak amal, dan memperbaiki diri.
Kesimpulan: 8 atau 20 Rakaat Sama-sama Benar
Pertanyaan sholat Tarawih yang benar 8 atau 20 rakaat sebenarnya tidak memiliki satu jawaban tunggal. Delapan rakaat mendekati praktik Nabi SAW, sementara dua puluh rakaat merupakan tradisi sahabat yang diikuti banyak ulama.
Keduanya sah, memiliki dasar kuat, dan sama-sama berpahala. Yang paling penting adalah kekhusyukan, keikhlasan, dan konsistensi dalam beribadah selama Ramadan.
Dengan memahami dalil dan sejarahnya, umat Islam diharapkan bisa lebih bijak dan tidak memperdebatkan hal yang bersifat ijtihadiyyah. Ramadan seharusnya menjadi momen persatuan, bukan perpecahan.








