Tanggal 28 Februari 2026 Puasa Keberapa? Ini Hitungan Resmi Muhammadiyah dan Pemerintah

MataBerita – Memasuki pekan kedua Ramadan 1447 Hijriah, pertanyaan sederhana tapi penting mulai sering terdengar: Tanggal 28 Februari 2026 puasa keberapa? Di meja makan saat

redaksi 2

MataBerita – Memasuki pekan kedua Ramadan 1447 Hijriah, pertanyaan sederhana tapi penting mulai sering terdengar: Tanggal 28 Februari 2026 puasa keberapa? Di meja makan saat sahur, di grup WhatsApp keluarga, sampai di sela-sela obrolan kantor, topik ini jadi pembuka percakapan yang hangat.

Perbedaan metode penetapan awal Ramadan di Indonesia membuat hitungan hari puasa tidak selalu sama bagi semua umat Islam. Ada yang lebih dulu memulai, ada pula yang mengikuti hasil sidang isbat pemerintah. Selisihnya memang hanya satu hari, tetapi cukup membuat sebagian orang ingin memastikan kembali.

Lantas, jika hari ini Sabtu, 28 Februari 2026, sebenarnya sudah memasuki hari puasa keberapa? Berikut penjelasan lengkapnya berdasarkan keputusan resmi dari pihak terkait.

Tanggal 28 Februari 2026 Puasa Keberapa?

Jawabannya tergantung pada metode penetapan awal 1 Ramadan 1447 H yang diikuti.

Di Indonesia, terdapat dua pendekatan utama dalam menentukan awal bulan Hijriah:

  • Metode hisab wujudul hilal
  • Metode rukyatul hilal (MABIMS) yang digunakan pemerintah

Perbedaan ini menyebabkan selisih satu hari dalam memulai ibadah puasa Ramadan tahun ini.

Versi Muhammadiyah: Puasa Hari ke-11

Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan bahwa 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan ini menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yakni perhitungan astronomi untuk menentukan posisi bulan.

Dengan dasar tersebut, maka:

  • 18 Februari 2026 → 1 Ramadan
  • 28 Februari 2026 → 11 Ramadan

Artinya, bagi warga Muhammadiyah dan masyarakat yang mengikuti keputusan tersebut, Sabtu, 28 Februari 2026 adalah puasa hari ke-11.

Baca Juga:  Komite Reformasi Polri Dilantik Prabowo: Tugas, Anggota, & Harapan Baru untuk Kepolisian

Metode hisab yang digunakan Muhammadiyah sudah lama menjadi pedoman resmi organisasi tersebut dan dilakukan melalui Majelis Tarjih dan Tajdid. Penetapan ini biasanya diumumkan jauh hari sebelum Ramadan dimulai sehingga memberi kepastian lebih awal kepada jamaah.

Versi Pemerintah dan NU: Puasa Hari ke-10

Sementara itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan awal Ramadan melalui Sidang Isbat. Metode yang digunakan adalah rukyatul hilal, yakni pemantauan langsung posisi bulan sabit, yang mengacu pada kesepakatan kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

Apabila hilal tidak memenuhi kriteria pada 17 Februari 2026, maka 1 Ramadan ditetapkan pada Kamis, 19 Februari 2026.

Dengan hitungan tersebut:

  • 19 Februari 2026 → 1 Ramadan
  • 28 Februari 2026 → 10 Ramadan

Mayoritas warga Nahdlatul Ulama (NU) mengikuti keputusan pemerintah ini. Maka, bagi yang berpedoman pada hasil Sidang Isbat, 28 Februari 2026 adalah puasa hari ke-10.

Kementerian Agama dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa perbedaan ini adalah hal yang wajar dalam fiqh dan tidak perlu dipersoalkan. Pemerintah juga selalu mengimbau masyarakat untuk saling menghormati perbedaan metode penetapan awal Ramadan.

Mengapa Bisa Berbeda Satu Hari?

Perbedaan Metode Hisab dan Rukyat

Secara sederhana, hisab adalah metode perhitungan astronomi, sedangkan rukyat adalah metode pengamatan langsung hilal. Keduanya sama-sama memiliki dasar syariat dan telah digunakan sejak lama dalam tradisi Islam.

Muhammadiyah menggunakan pendekatan hisab dengan kriteria wujudul hilal, yaitu ketika bulan sudah berada di atas ufuk saat matahari terbenam.

Sementara pemerintah mengacu pada kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat) yang disepakati negara-negara MABIMS. Jika posisi hilal belum memenuhi syarat ketinggian dan elongasi tertentu, maka bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari.

Perbedaan interpretasi inilah yang memunculkan selisih satu hari dalam penetapan awal Ramadan.

Sikap Resmi Pemerintah

Dalam setiap Sidang Isbat, Kementerian Agama selalu melibatkan perwakilan ormas Islam, ahli astronomi, serta pakar falak dari berbagai lembaga. Keputusan diambil berdasarkan data hisab dan laporan rukyat dari berbagai titik pemantauan di Indonesia.

Baca Juga:  Biaya Haji 2026 Disepakati Rp 54 Juta: DPR dan Pemerintah Sepakat Turunkan BPIH

Pemerintah menekankan bahwa keputusan tersebut bersifat nasional dan menjadi pedoman resmi bagi umat Islam di Indonesia yang mengikuti ketetapan negara.

Makna Hari ke-10 dan ke-11 Ramadan

Selain hitungan kalender, banyak umat Islam juga memaknai fase-fase Ramadan secara spiritual.

Dalam tradisi yang populer di masyarakat, Ramadan sering dibagi menjadi tiga fase:

  • 10 hari pertama → fase Rahmah (kasih sayang)
  • 10 hari kedua → fase Maghfirah (ampunan)
  • 10 hari terakhir → fase Itqun minan Nar (pembebasan dari api neraka)

Jika mengikuti hitungan pemerintah, maka 28 Februari 2026 menjadi hari terakhir fase Rahmah, yakni hari ke-10.

Namun jika mengikuti versi Muhammadiyah, hari tersebut sudah memasuki fase Maghfirah, yaitu hari ke-11 Ramadan.

Walaupun pembagian ini tidak secara eksplisit disebut dalam Al-Qur’an, banyak ulama menjelaskan bahwa semangatnya adalah mendorong umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah secara bertahap sepanjang bulan suci.

Dampak Perbedaan Hitungan di Masyarakat

Secara praktik, perbedaan satu hari ini biasanya hanya berdampak pada:

  • Awal puasa
  • Awal dan akhir tarawih
  • Penentuan malam Lailatul Qadar
  • Tanggal Idulfitri

Namun dalam kehidupan sosial, masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan kondisi tersebut. Toleransi antarormas Islam menjadi salah satu ciri khas keberagaman praktik keagamaan di Tanah Air.

Para tokoh agama dari berbagai organisasi kerap mengimbau agar umat fokus pada esensi ibadah, bukan pada perbedaan teknis yang memang memiliki dasar masing-masing.

Kesimpulan: 28 Februari 2026 Puasa ke-10 atau ke-11?

Jadi, menjawab pertanyaan “Tanggal 28 Februari 2026 puasa keberapa?”:

  • Puasa hari ke-11 → bagi yang mengikuti penetapan Muhammadiyah (1 Ramadan: 18 Februari 2026)
  • Puasa hari ke-10 → bagi yang mengikuti keputusan pemerintah dan NU (1 Ramadan: 19 Februari 2026)

Perbedaan ini sepenuhnya sah secara syariat dan telah menjadi dinamika tahunan dalam penentuan awal Ramadan di Indonesia.

Yang terpenting, semangat beribadah tetap terjaga. Entah hari ke-10 atau ke-11, Ramadan adalah momentum untuk memperbanyak amal, memperkuat keimanan, dan mempererat silaturahmi.

Ikuti Kami di Google News

Related Post

rajadewa138