Sempat Anjlok 5 Persen, Prediksi IHSG dan Rekomendasi Saham Hari Ini 2 Februari 2026

MataBerita – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih berpeluang melemah pada perdagangan Senin, 2 Februari 2026. Meskipun ditutup menguat 1,18% pada Jumat (30/1/2026), pasar

redaksi 2

MataBerita – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih berpeluang melemah pada perdagangan Senin, 2 Februari 2026. Meskipun ditutup menguat 1,18% pada Jumat (30/1/2026), pasar saham masih menunjukkan tekanan dari aksi jual investor asing yang mencapai Rp1,87 triliun, khususnya pada saham TLKM, PTRO, BUMI, IMPC, dan BBNI.

Pergerakan IHSG belakangan ini memang fluktuatif. Menurut Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas, “IHSG masih rentan koreksi sepanjang belum berhasil menembus level resistance 8.420.” Sementara level support berada di kisaran 8.050-8.220, sehingga investor disarankan tetap berhati-hati dan selektif dalam memilih saham.

Di sisi lain, analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, lebih optimistis. Ia menilai IHSG hari ini berpotensi menguat menuju target 8.600 sebagai posisi awal, sebelum mencoba menutup gap di level resistance 8.700 hingga 8.873. Strategi “speculative buy” bisa diterapkan dengan pengelolaan risiko yang ketat, mengingat volatilitas pasar masih tinggi.

Analisis IHSG dan Faktor Penggerak Pasar

IHSG Ditutup Menguat Tapi Tekanan Asing Masih Ada

Pada penutupan perdagangan Jumat, IHSG berada di 8.329,60 atau naik 1,18%, sementara indeks saham LQ45 meningkat 2,52%. Sebanyak 551 saham menguat, 194 saham melemah, dan 65 saham stagnan. Penguatan ini terjadi setelah dua hari berturut-turut IHSG melemah karena sentimen negatif dari pengumuman MSCI dan downgrade IHSG.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan, “Penguatan IHSG lebih bersifat technical rebound. Sentimen positif dari pasar belum kuat, namun secara teknikal pasar mencoba pulih setelah dua hari sebelumnya menurun.”

Baca Juga:  Harga Emas Di Pegadaian Hari Ini Minggu 19 Oktober 2025: Galeri24, Antam & UBS Naik Lagi?

Sektor Saham yang Menonjol

Mayoritas sektor saham menghijau. Sektor transportasi mencatat kenaikan terbesar 6,14%, diikuti sektor keuangan 3,05%, consumer non-siklikal 1,97%, teknologi 1,7%, properti 1,47%, dan kesehatan 0,91%. Sektor energi dan basic materials juga menguat tipis masing-masing 0,27% dan 0,25%.

Frekuensi perdagangan saham tercatat 3,4 juta kali dengan volume 57,8 miliar saham, serta nilai transaksi harian mencapai Rp41,7 triliun. Posisi kurs dolar AS terhadap rupiah berada di kisaran Rp16.765.

Rekomendasi Saham Hari Ini 2 Februari 2026

Berdasarkan catatan BNI Sekuritas, sejumlah saham menarik untuk diperhatikan hari ini, terutama bagi investor yang menerapkan strategi buy on weakness dan speculative buy dengan manajemen risiko ketat:

SahamStrategiArea BeliCutlossTarget
BUMIBuy on Weakness234–250<226270–280
IMPCBuy on Weakness2.120–2.260<2.1002.500–2.700
MEDCBuy on Weakness1.430–1.500<1.3801.570–1.600
BRENSpeculative Buy8.350–8.450<8.1008.650–9.000
ENRGSpeculative Buy1.255–1.265<1.2101.335–1.410
RMKOBuy on Weakness925–1.010<9151.115–1.175

Catatan: Semua keputusan investasi tetap berada di tangan investor. Disarankan melakukan analisis mendalam sebelum membeli atau menjual saham.

Sentimen Pasar dan Proyeksi IHSG

Beberapa faktor yang memengaruhi IHSG hari ini antara lain:

  • Pergantian posisi Direktur Utama BEI, yang sempat menimbulkan sentimen negatif.
  • Rencana pemerintah menaikkan limit di dapen dan asuransi, yang bisa mempengaruhi aliran modal.
  • Pergerakan teknikal IHSG yang masih fluktuatif setelah penurunan sebelumnya.

Meski sempat anjlok hingga 5 persen beberapa waktu lalu, rebound IHSG menunjukkan adanya resiliensi pasar. Investor disarankan tetap waspada pada level support dan resistance, serta memantau aksi asing yang masih cenderung net sell.

IHSG pada 2 Februari 2026 diperkirakan bergerak fluktuatif dengan tekanan jual asing masih terasa, namun sejumlah saham seperti BUMI, IMPC, MEDC, BREN, ENRG, dan RMKO menawarkan peluang trading bagi investor dengan strategi selektif. Analisis teknikal dan manajemen risiko menjadi kunci dalam menghadapi volatilitas pasar yang masih tinggi.

Ikuti Kami di Google News

Related Post

rajadewa138