Gejala, Cara Penularan, Risiko Penyakit Virus Nipah Kembali Disorot Dunia

MataBerita – Ancaman penyakit infeksi emerging kembali menghantui dunia. Kali ini, Virus Nipah kembali menjadi sorotan serius otoritas kesehatan global setelah dua kasus terkonfirmasi dilaporkan

redaksi 2

MataBerita – Ancaman penyakit infeksi emerging kembali menghantui dunia. Kali ini, Virus Nipah kembali menjadi sorotan serius otoritas kesehatan global setelah dua kasus terkonfirmasi dilaporkan terjadi di West Bengal, India. Situasi tersebut memicu kekhawatiran akan potensi penyebaran lintas negara, termasuk ke kawasan Asia Tenggara.

Bagi Indonesia, isu ini bukan sekadar kabar luar negeri. Posisi geografis dan keberadaan kelelawar buah sebagai inang alami Virus Nipah membuat risiko penularan tetap harus diwaspadai, meski hingga kini belum ada laporan kasus konfirmasi pada manusia di dalam negeri.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa kewaspadaan dini, pemahaman masyarakat, serta kesiapan sistem kesehatan menjadi kunci utama untuk mencegah dampak yang lebih luas dari penyakit zoonosis berbahaya ini.

Fakta Utama: Apa yang Terjadi?

Dua kasus terkonfirmasi Virus Nipah dilaporkan terjadi di wilayah West Bengal, India, pada awal 2026. Laporan ini kembali mengingatkan dunia bahwa Virus Nipah masih aktif dan berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) jika tidak diantisipasi dengan baik.

Peringatan tersebut disampaikan oleh NPO Epidemiologist WHO Health Emergency (WHE) Programme WHO Indonesia, dr. Endang Widuri Wulandari, dalam sebuah webinar perkembangan terkini Virus Nipah yang digelar di Jakarta, Senin (2/2/2026).

Menurut WHO, Virus Nipah termasuk penyakit emerging dan re-emerging yang memiliki tingkat kematian tinggi serta belum memiliki vaksin maupun terapi spesifik.

Virus Nipah, Penyakit Zoonosis Berisiko Tinggi

Apa Itu Virus Nipah?

Virus Nipah merupakan virus RNA dari famili Paramyxoviridae. Penyakit ini tergolong zoonosis, artinya dapat menular dari hewan ke manusia. Inang alami Virus Nipah adalah kelelawar buah dari genus Pteropus yang banyak ditemukan di wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Baca Juga:  Apakah Besok Tanggal Merah? Siap-Siap Nikmati Long Weekend di Awal April 2026

Dalam beberapa kejadian sebelumnya, virus ini juga dapat menular melalui hewan perantara seperti babi dan kuda sebelum akhirnya menginfeksi manusia.

“Virus Nipah adalah penyakit emerging dan re-emerging yang berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa. Oleh karena itu, kewaspadaan dini serta pemahaman masyarakat menjadi sangat penting,” ujar dr. Endang Widuri Wulandari, dikutip dari InfoPublik.id.

Cara Penularan Virus Nipah yang Perlu Diwaspadai

Penularan dari Hewan ke Manusia

Cara penularan utama Virus Nipah terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, khususnya kelelawar buah dan babi. Risiko meningkat ketika manusia bersentuhan dengan cairan tubuh hewan, seperti air liur, urin, atau darah.

Selain itu, konsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi juga menjadi jalur penularan yang cukup sering dilaporkan. Contohnya adalah nira atau air aren mentah yang tercemar air liur atau urin kelelawar, serta buah-buahan yang telah tergigit hewan tersebut.

Penularan Antarmanusia

Virus Nipah juga dapat menular dari manusia ke manusia. Penularan ini terjadi melalui kontak erat dengan darah, cairan tubuh, atau sekresi pernapasan pasien terinfeksi.

WHO mencatat bahwa fasilitas pelayanan kesehatan menjadi salah satu lokasi dengan risiko penularan cukup tinggi. Sekitar 10 persen kasus Virus Nipah dilaporkan melibatkan tenaga kesehatan yang terpapar saat merawat pasien tanpa perlindungan memadai.

Gejala Virus Nipah: Dari Ringan hingga Berat

Masa Inkubasi yang Panjang

Virus Nipah memiliki masa inkubasi rata-rata antara 3 hingga 14 hari. Namun, dalam kondisi tertentu, masa inkubasi dapat berlangsung hingga 45 hari, sehingga menyulitkan deteksi dini dan pelacakan kontak.

Gejala Awal yang Tidak Spesifik

Pada tahap awal, gejala Virus Nipah sering kali menyerupai penyakit infeksi lain, sehingga kerap tidak disadari. Gejala awal meliputi:

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Muntah
  • Sakit tenggorokan
Baca Juga:  Ha Jung Woo dan Cha Jung Won Resmi Berpacaran, Mereka Bantah Kabar Pernikahan Juli 2026, Itu Baru Rencana

Gejala Lanjutan dan Komplikasi Serius

Jika kondisi memburuk, pasien dapat mengalami gangguan pernapasan akut seperti pneumonia dan acute respiratory distress syndrome (ARDS). Selain itu, Virus Nipah juga menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan ensefalitis atau peradangan otak.

“Dampak jangka panjangnya cukup serius. Sekitar 20 persen pasien yang selamat dapat mengalami gangguan neurologis menetap, seperti kejang berulang dan perubahan perilaku,” jelas dr. Endang.

Risiko Penyakit Virus Nipah Menurut WHO

WHO mencatat case fatality rate Virus Nipah berkisar antara 40 hingga 75 persen, menjadikannya salah satu penyakit infeksi dengan tingkat kematian tertinggi di dunia.

Hingga saat ini, belum tersedia vaksin maupun obat antivirus spesifik untuk Virus Nipah. Penanganan medis masih bersifat suportif, meliputi:

  • Pemantauan ketat kondisi pasien
  • Pengelolaan cairan dan elektrolit
  • Dukungan pernapasan
  • Perawatan intensif untuk komplikasi neurologis

Situasi di Indonesia: Belum Ada Kasus, Tapi Tetap Waspada

Meski belum ada laporan kasus konfirmasi Virus Nipah pada manusia di Indonesia, para ahli menilai risiko tetap ada. Indonesia berada di wilayah sebaran alami kelelawar Pteropus, dan bukti keberadaan Virus Nipah pada populasi kelelawar telah ditemukan di sejumlah wilayah.

Kondisi ini membuat kewaspadaan dini menjadi sangat penting, terutama di daerah dengan interaksi tinggi antara manusia, hewan ternak, dan satwa liar.

Langkah Antisipasi Pemerintah dan Imbauan ke Masyarakat

Sebagai langkah pencegahan, pemerintah Indonesia telah menerbitkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/445/2026 tentang peningkatan kewaspadaan dan pencegahan Virus Nipah.

Beberapa imbauan utama yang disampaikan antara lain:

  • Memasak nira atau air aren hingga matang sebelum dikonsumsi
  • Mencuci dan mengupas buah sebelum dimakan
  • Menghindari konsumsi buah yang menunjukkan bekas gigitan hewan
  • Memasak daging ternak hingga benar-benar matang
  • Menggunakan alat pelindung diri saat berinteraksi dengan hewan berisiko
  • Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk cuci tangan pakai sabun

Masyarakat juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala mencurigakan, terutama setelah kontak dengan hewan atau pasien bergejala serupa.

Pentingnya Informasi Resmi dan Kesiapsiagaan Bersama

WHO dan Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan organisasi kesehatan untuk mencegah kepanikan serta disinformasi.

Dengan pemahaman yang tepat mengenai gejala, cara penularan, dan risiko penyakit Virus Nipah, masyarakat diharapkan dapat berperan aktif dalam upaya pencegahan dan deteksi dini, sehingga potensi wabah dapat ditekan sejak awal.

Ikuti Kami di Google News

Related Post

rajadewa138