Konflik di Jalur Gaza belum benar-benar mereda. Meski gencatan senjata sudah diumumkan sejak Oktober 2025, situasi di lapangan masih rapuh dan penuh ketegangan. Di tengah kondisi tersebut, muncul kabar bahwa Indonesia tengah mempersiapkan pengiriman pasukan keamanan ke Gaza.
Isu Tentara Indonesia Dikirim ke Gaza ini langsung menarik perhatian internasional. Bukan hanya karena skalanya yang disebut mencapai ribuan personel, tetapi juga karena melibatkan skema baru bernama International Stabilization Force (ISF).
Di sisi lain, pemerintah China turut menyampaikan harapannya terkait efektivitas gencatan senjata dan stabilitas kawasan. Pernyataan resmi dari Beijing memperlihatkan bagaimana dinamika geopolitik Gaza kini tidak lagi sekadar konflik lokal, melainkan isu global yang melibatkan banyak negara.
China Harapkan Gencatan Senjata Gaza Berjalan Efektif
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyampaikan bahwa pihaknya berharap perjanjian gencatan senjata di Gaza dapat diimplementasikan secara efektif.
China menekankan beberapa poin utama:
- Gencatan senjata penuh dan langgeng harus terwujud.
- Krisis kemanusiaan di Gaza perlu segera diatasi.
- Stabilitas kawasan harus dipulihkan secepat mungkin.
Pernyataan tersebut menunjukkan posisi China yang mendorong stabilitas regional sebagai prioritas utama. Dalam konteks ini, wacana Tentara Indonesia Dikirim ke Gaza melalui mekanisme internasional menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan pasca-konflik.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia sebelumnya menyampaikan bahwa Indonesia sedang mempersiapkan pengiriman pasukan keamanan ke Gaza melalui skema ISF.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menyebut jumlah yang dipertimbangkan mencapai sekitar 8.000 personel TNI. Angka ini tentu tidak kecil dan menandakan komitmen serius dalam mendukung stabilisasi wilayah.
Namun penting dicatat, keterlibatan Indonesia difokuskan pada aspek kemanusiaan. Pemerintah menegaskan bahwa partisipasi ini tidak bertujuan untuk terlibat dalam pelucutan senjata.
Apa Itu International Stabilization Force (ISF)?
ISF merupakan mandat berdasarkan resolusi Dewan Keamanan PBB pada 17 November 2025 yang diajukan oleh Amerika Serikat.
Mandat dan Tujuan ISF
ISF dibentuk sebagai pasukan sementara di Gaza dengan komando terpadu. Negara-negara anggota PBB dan Board of Peace (BoP) dapat berkontribusi pasukan sesuai ketentuan hukum internasional.
Tugas utama ISF antara lain:
- Mengamankan wilayah perbatasan.
- Menstabilkan lingkungan keamanan.
- Membantu proses demiliterisasi di Jalur Gaza.
- Melindungi warga sipil.
- Mengamankan koridor bantuan kemanusiaan.
Resolusi tersebut juga mengatur bahwa Israel akan menarik pasukannya setelah ISF mengambil kendali penuh atas Gaza.
Pendanaan dan Komando
ISF beroperasi di bawah panduan strategis Board of Peace (BoP). Pendanaannya berasal dari kontribusi sukarela para donor serta sumber pendanaan BoP dan pemerintah peserta.
Model ini menunjukkan bahwa operasi stabilisasi Gaza dirancang sebagai kolaborasi multilateral, bukan aksi sepihak.
Board of Peace dan Posisi Indonesia
Indonesia menjadi salah satu negara penandatangan Piagam Dewan Perdamaian (BoP) pada 22 Januari 2026 di Davos, Swiss.
BoP terdiri dari sejumlah negara, termasuk Argentina, Armenia, Azerbaijan, Albania, Bahrain, Belarus, Bulgaria, Kamboja, El Salvador, Mesir, Hungaria, Indonesia, Israel, Yordania, Kazakhstan, Kosovo, Kuwait, Mongolia, Maroko, Pakistan, Paraguay, Qatar, Arab Saudi, Türkiye, Uni Emirat Arab, Uzbekistan, dan Vietnam.
BoP dipimpin oleh Amerika Serikat. Namun beberapa negara besar Eropa seperti Prancis, Jerman, dan Inggris tidak tercantum sebagai anggota. Begitu pula China dan Rusia yang tidak termasuk dalam daftar tersebut.
Keterlibatan Indonesia dalam BoP disebut sebagai bagian dari komitmen mendukung solusi dua negara bagi Palestina.
Sikap China soal Solusi Dua Negara
China secara konsisten menyatakan bahwa solusi dua negara adalah jalan keluar mendasar bagi konflik Palestina.
Beijing juga menegaskan penolakannya terhadap:
- Pembangunan pemukiman di wilayah Palestina yang diduduki.
- Upaya pencaplokan wilayah Palestina.
- Tindakan yang melemahkan landasan politik solusi dua negara.
Pernyataan ini memperlihatkan bahwa China tetap berada pada posisi diplomatik yang mendorong penyelesaian politik jangka panjang.
Situasi Terkini di Gaza Masih Rapuh
Meski gencatan senjata telah berlangsung sejak 10 Oktober 2025 antara Israel dan Hamas, pelanggaran masih kerap terjadi.
Data dari Kementerian Kesehatan Gaza mencatat bahwa sejak konflik berkobar pada Oktober 2023:
- Lebih dari 71.000 orang tewas, mayoritas perempuan dan anak-anak.
- Lebih dari 171.000 orang mengalami luka-luka.
Bahkan setelah gencatan senjata diberlakukan, ratusan korban jiwa tambahan masih tercatat akibat serangan yang terjadi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meski ada kesepakatan formal, stabilitas di lapangan belum sepenuhnya tercapai.
Tantangan Jika Tentara Dikirim ke Gaza
Rencana tentara dikirim ke Gaza tentu memiliki sejumlah tantangan.
Kompleksitas Keamanan
Lingkungan pasca-konflik biasanya dipenuhi ketidakpastian. Demiliterisasi, pengamanan perbatasan, dan perlindungan warga sipil membutuhkan koordinasi yang ketat.
Sensitivitas Politik
Kehadiran pasukan internasional di wilayah konflik selalu memicu dinamika politik baru. Setiap langkah harus mempertimbangkan legitimasi hukum internasional dan dukungan masyarakat lokal.
Aspek Kemanusiaan
Fokus Indonesia pada misi kemanusiaan menjadi pembeda. Pendekatan ini menekankan perlindungan warga sipil dan stabilisasi lingkungan, bukan keterlibatan langsung dalam konflik bersenjata.
Isu tentara dikirim ke Gaza melalui ISF menjadi bagian dari babak baru upaya stabilisasi kawasan. Di satu sisi, China mendorong gencatan senjata efektif dan solusi dua negara. Di sisi lain, Indonesia menunjukkan komitmennya melalui partisipasi dalam skema multilateral.
Situasi Gaza masih sangat rapuh. Upaya internasional, termasuk kemungkinan pengiriman pasukan keamanan, akan sangat bergantung pada koordinasi, legitimasi hukum, dan dukungan politik global.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah tentara akan benar-benar dikirim ke Gaza, tetapi juga apakah langkah tersebut mampu menciptakan perdamaian yang berkelanjutan.








