Harga Perak Meroket 137% dalam Setahun, Reli Tajam Bikin Investor Waspada

MataBerita – Harga perak global mencuri perhatian pasar komoditas setelah melonjak tajam dalam 12 bulan terakhir. Kenaikan drastis ini membuat logam mulia tersebut menjadi salah

redaksi 2

MataBerita – Harga perak global mencuri perhatian pasar komoditas setelah melonjak tajam dalam 12 bulan terakhir. Kenaikan drastis ini membuat logam mulia tersebut menjadi salah satu aset dengan performa paling impresif sejak awal 2025 hingga Februari 2026.

Reli besar ini tak hanya mendorong keuntungan bagi investor, tetapi juga memicu perdebatan baru: apakah tren bullish masih akan berlanjut, atau justru koreksi tajam sudah di depan mata? Di tengah volatilitas tinggi dan perubahan sentimen pasar, pelaku investasi kini mulai berhitung ulang terhadap risiko dan peluang yang ada.

Dengan harga yang mendekati level tertinggi baru, perak kembali menjadi sorotan. Lonjakan permintaan industri, kebijakan moneter global, hingga spekulasi investor ritel ikut membentuk dinamika pasar yang semakin kompleks.

Lonjakan Harga Perak dalam Setahun Terakhir

Harga perak mencatat kenaikan sekitar 137% dari Februari 2025 hingga Februari 2026. Data pasar yang dikutip dari Yahoo Finance menunjukkan produk ETF perak terbesar, iShares Silver Trust (SLV), melesat dari sekitar USD 29,46 menjadi USD 69,72 dalam periode tersebut.

Kenaikan ini menjadikan perak sebagai salah satu komoditas dengan performa terbaik sepanjang setahun terakhir. Biasanya, reli sebesar ini membutuhkan waktu beberapa tahun, namun kali ini terjadi hanya dalam 12 bulan.

Volatilitas Tinggi di Awal 2026

Perjalanan harga perak tidak selalu mulus. Pada Januari 2026, logam ini sempat anjlok sekitar 17,5% akibat penguatan dolar AS dan spekulasi perubahan kepemimpinan bank sentral Amerika Serikat.

Baca Juga:  Saham DEWA Melejit, Aksi Borong CGS dan Prospek Ekspansi Jadi Penggerak Utama

Gejolak dipicu oleh kabar pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve. Pasar bereaksi keras karena ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat berpotensi menekan harga komoditas.

Setelah koreksi tajam itu, sentimen investor ritel di media sosial seperti Reddit sempat memburuk. Banyak investor mengaku mengalami kerugian besar, sementara sebagian lainnya memanfaatkan opsi jual untuk meraih keuntungan.

Sentimen Investor dan Dampak ke Saham Tambang

Reli perak juga berdampak signifikan pada saham perusahaan tambang. Kenaikan harga logam ini meningkatkan pendapatan dan prospek perusahaan, sehingga mendorong lonjakan harga saham.

Beberapa emiten tambang perak mencatat kenaikan luar biasa dalam setahun terakhir:

  • First Majestic Silver: naik sekitar 304%
  • Hecla Mining: naik sekitar 256%
  • Coeur Mining: naik sekitar 211%
  • Pan American Silver: naik sekitar 135%

Kinerja saham-saham ini tidak hanya dipicu harga perak yang tinggi, tetapi juga perbaikan operasional dan efisiensi produksi. Namun, beberapa analis menilai valuasi perusahaan tambang mulai terlalu mahal, sehingga rawan koreksi jika harga perak melemah.

Aset ETF dan Sentimen Pasar

ETF perak terbesar saat ini mengelola aset puluhan miliar dolar dengan rasio biaya sekitar 0,5%. Sepanjang awal 2026, produk ini masih mencatat kenaikan sekitar 8% meski diwarnai volatilitas tajam.

Sentimen investor sempat berbalik negatif saat koreksi Januari, tetapi kembali membaik pada pertengahan Februari. Hal ini menunjukkan pasar masih optimistis, meski lebih berhati-hati.

Faktor Fundamental Penopang Harga Perak

Dari sisi fundamental, permintaan industri menjadi pendorong utama harga perak. Logam ini digunakan dalam berbagai sektor strategis, seperti:

  • Panel surya dan energi terbarukan
  • Infrastruktur kecerdasan buatan (AI)
  • Elektronik dan semikonduktor

Permintaan struktural ini memberi dukungan jangka panjang terhadap harga perak. Beberapa bank investasi global, termasuk Goldman Sachs, menilai logam mulia tetap relevan sebagai bagian dari strategi portofolio yang tahan terhadap perkembangan teknologi.

Baca Juga:  MotoGP Buriram 2026: Alex Marquez Tercepat di Hari Pertama Tes, Ducati GP26 Langsung Unjuk Gigi

Selain itu, pembelian emas oleh bank sentral di berbagai negara juga ikut mendorong harga perak melalui rasio emas-perak yang saling berkaitan.

Risiko Koreksi dan Hal yang Perlu Dicermati

Meski tren jangka panjang masih positif, analis menilai ada sejumlah risiko yang perlu diperhatikan investor:

1. Permintaan Industri Global

Jika ekonomi global melambat, permintaan industri terhadap perak bisa menurun dan menekan harga.

2. Produksi Tambang

Ekspansi produksi yang terlalu agresif dapat meningkatkan pasokan dan memicu koreksi harga.

3. Sentimen Investor Ritel

Kerugian besar yang dialami investor ritel saat volatilitas tinggi bisa membuat mereka lebih berhati-hati untuk kembali masuk pasar.

Sejarah menunjukkan bahwa setelah reli besar, perak biasanya mengalami fase konsolidasi sebelum melanjutkan tren naik. Koreksi jangka pendek dianggap wajar dalam siklus komoditas.

Prospek Harga Perak ke Depan

Dengan harga yang mendekati USD 70 per ons, pasar kini berada di persimpangan. Di satu sisi, permintaan industri dan dukungan struktural masih kuat. Di sisi lain, volatilitas akibat kebijakan moneter dan pergerakan dolar AS tetap menjadi risiko utama.

Banyak analis menyarankan investor untuk tetap waspada dan tidak terburu-buru mengejar harga tinggi. Diversifikasi portofolio dan strategi jangka panjang dinilai lebih aman dalam menghadapi kondisi pasar yang fluktuatif.

Meski reli harga perak meroket 137% dalam setahun menjadi pencapaian luar biasa, fase koreksi atau konsolidasi kemungkinan masih akan terjadi sebelum tren naik berlanjut secara berkelanjutan.

Ikuti Kami di Google News

Related Post

rajadewa138