Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Terbaru 22 Februari 2026 Masih Tertekan, BI Optimistis Stabil di 2026

MataBerita – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih bergerak fluktuatif di pekan ketiga Februari 2026. Rupiah sempat menyentuh kisaran Rp16.900 per dolar Amerika Serikat

redaksi 2

MataBerita – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih bergerak fluktuatif di pekan ketiga Februari 2026. Rupiah sempat menyentuh kisaran Rp16.900 per dolar Amerika Serikat (AS), mencerminkan tekanan yang belum sepenuhnya mereda di pasar keuangan domestik.

Tekanan ini tidak datang dari satu arah saja. Sentimen geopolitik global yang memanas, meningkatnya permintaan valuta asing (valas) korporasi dalam negeri, hingga dinamika kebijakan suku bunga bank sentral dunia turut membayangi pergerakan rupiah.

Meski demikian, Bank Indonesia (BI) menilai pelemahan saat ini tidak mencerminkan fundamental ekonomi nasional yang sebenarnya. Otoritas moneter optimistis nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpeluang stabil dan bahkan menguat secara bertahap sepanjang 2026.

Rupiah Bergerak di Kisaran Rp16.900 per Dolar AS

Pada perdagangan Jumat, 20 Februari 2026, rupiah di pasar spot sempat melemah 13 poin atau 0,08 persen ke level Rp16.907 per dolar AS pada pukul 09.03 WIB. Namun, berdasarkan data Bloomberg, rupiah kemudian menguat tipis 0,04 persen secara harian menjadi Rp16.888 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis oleh Bank Indonesia mencatat penguatan 0,24 persen ke posisi Rp16.885 per dolar AS.

Pergerakan ini menunjukkan volatilitas masih terjadi, meski belum mengarah pada tekanan ekstrem seperti yang pernah terjadi pada periode krisis sebelumnya.

Faktor Global Masih Mendominasi

Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu sentimen risk-off di pasar keuangan global. Investor cenderung mencari aset safe haven seperti dolar AS, sehingga mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan.

Baca Juga:  Riva Siahaan Divonis 9 Tahun Penjara di Kasus Korupsi Tata Kelola Minyak Mentah

Selain itu, divergensi kebijakan moneter global juga menambah ketidakpastian. European Central Bank disebut menahan laju penurunan suku bunga, sementara Bank of Japan melanjutkan tren kenaikan suku bunga. Perbedaan arah kebijakan ini memengaruhi arus modal global dan memperkuat dolar AS.

Pernyataan Resmi BI: Rupiah Dinilai Undervalued

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini berada dalam kondisi undervalued atau lebih rendah dari nilai fundamentalnya.

Menurut Perry, tekanan yang terjadi lebih disebabkan oleh faktor eksternal dan meningkatnya kebutuhan valas korporasi domestik, bukan karena melemahnya kondisi ekonomi Indonesia.

“Fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, dengan inflasi yang terkendali dan pertumbuhan ekonomi yang terjaga,” tegasnya dalam pernyataan resmi seusai Rapat Dewan Gubernur (RDG) Februari 2026.

BI juga menegaskan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar sesuai dengan mekanisme pasar dan fundamental ekonomi.

Permintaan Valas Domestik Ikut Mendorong Tekanan

Dari sisi domestik, permintaan valas meningkat menjelang periode pembayaran impor dan dividen investor asing pada Maret hingga Juli. Kondisi ini lazim terjadi setiap tahun dan seringkali memberi tekanan musiman terhadap rupiah.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengingatkan bahwa pelaku pasar perlu mencermati arus modal keluar (capital outflow) yang dipicu sentimen global.

Ia menilai meskipun likuiditas valas dalam negeri relatif memadai, realisasi pasokan dolar AS masih belum optimal. Beberapa eksportir, terutama sektor sumber daya alam nonmigas, disebut belum sepenuhnya mengonversi devisa hasil ekspor ke rupiah.

Strategi Bank Indonesia Jaga Stabilitas

Untuk meredam gejolak, Bank Indonesia melakukan intervensi di berbagai instrumen, mulai dari pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), hingga non-deliverable forward (NDF) offshore.

Baca Juga:  Hotman Paris Bongkar Kejanggalan Kasus Sritex: Jaksa Dinilai Tak Berwenang, Dakwaan Disebut Prematur

Selain itu, dalam RDG 18–19 Februari 2026, BI memutuskan mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen. Kebijakan ini bertujuan menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Langkah tersebut juga diarahkan untuk memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5±1 persen pada 2026–2027.

Fundamental Ekonomi Dinilai Masih Kuat

Optimisme terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak lepas dari indikator makroekonomi yang relatif solid. Inflasi yang rendah, imbal hasil aset domestik yang kompetitif, serta prospek pertumbuhan ekonomi menjadi penopang utama.

Permata Institute for Economic Research (PIER) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,1–5,2 persen pada 2026. Sementara Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada di rentang 4,9–5,7 persen.

Proyeksi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih bersifat jangka pendek akibat sentimen global, bukan persoalan struktural domestik.

Proyeksi Rupiah hingga Akhir 2026

Sejumlah ekonom memperkirakan rupiah berpotensi stabil di kisaran Rp16.700–Rp16.800 per dolar AS pada akhir 2026, dengan peluang menguat jika tekanan geopolitik mereda dan arus investasi asing kembali masuk.

Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai rupiah berpeluang mendekati asumsi APBN di kisaran Rp16.500 per dolar AS pada paruh kedua 2026, terutama jika aliran investasi langsung (FDI) dan dana asing ke pasar keuangan meningkat.

Namun, risiko tetap perlu diantisipasi. Tekanan harga pangan musiman serta volatilitas nilai tukar global dapat memengaruhi stabilitas harga dalam negeri.

Kesimpulan: Waspada, Tapi Tidak Panik

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di kisaran Rp16.900 menunjukkan tekanan eksternal masih kuat. Faktor geopolitik global, kebijakan bank sentral dunia, serta kebutuhan valas domestik menjadi pemicu utama.

Meski begitu, Bank Indonesia menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap solid. Dengan bauran kebijakan moneter yang terukur dan intervensi yang konsisten, rupiah diproyeksikan stabil dan berpotensi menguat secara bertahap sepanjang 2026.

Bagi pelaku usaha dan investor, kewaspadaan tetap diperlukan. Namun, kondisi saat ini belum mencerminkan tekanan struktural yang mengkhawatirkan terhadap perekonomian nasional.

Ikuti Kami di Google News

Related Post

rajadewa138