Harga Bitcoin Anjlok ke $64.000, Analis Sebut BTC Masuk Tahap 4 Bear Market

MataBerita – Harga Bitcoin anjlok lagi dan kini bertengger di kisaran 64.000 dolar AS pada perdagangan Senin (23/2/2026). Penurunan ini memperpanjang tren koreksi tajam setelah

redaksi 2

MataBerita – Harga Bitcoin anjlok lagi dan kini bertengger di kisaran 64.000 dolar AS pada perdagangan Senin (23/2/2026). Penurunan ini memperpanjang tren koreksi tajam setelah sebelumnya BTC sempat mencetak rekor tertinggi di atas 120.000 dolar AS.

Dalam 24 jam terakhir, tekanan jual terlihat cukup dominan. Kapitalisasi pasar menyusut, volatilitas meningkat, dan pelaku pasar mulai bersikap lebih defensif. Sejumlah analis bahkan menyebut kondisi saat ini sebagai fase lanjutan dari siklus bear market.

Salah satu analis kripto yang dikenal dengan nama Doctor Profit menilai Bitcoin telah memasuki Tahap 4 dari pola enam fase bear market. Analisis ini memicu perdebatan di kalangan trader, terutama soal potensi bottom dan risiko likuidasi besar-besaran di pasar derivatif.

Harga Bitcoin Anjlok 4,7% dalam 24 Jam

Data perdagangan pada 23 Februari 2026 menunjukkan harga Bitcoin berada di sekitar 64.979 dolar AS atau setara Rp1,09 miliar. Angka tersebut turun sekitar 4,7 persen dalam 24 jam terakhir.

Sepanjang periode tersebut, BTC sempat menyentuh level terendah di kisaran Rp1,09 miliar dan tertinggi di sekitar Rp1,15 miliar. Kapitalisasi pasar Bitcoin kini berada di area Rp21.767 triliun, sementara volume transaksi harian melonjak lebih dari 50 persen menjadi sekitar Rp504 triliun.

Lonjakan volume saat harga turun biasanya mengindikasikan tekanan jual yang cukup besar. Dalam banyak siklus sebelumnya, kondisi seperti ini kerap menjadi sinyal distribusi atau perpindahan aset dari tangan lemah ke investor jangka panjang.

Baca Juga:  IHSG Zona Hijau Lagi! Bangkit ke Level 8.300 di Tengah Gejolak!

Tahap 4 Bear Market: Apa Artinya?

Struktur Enam Fase Menurut Analis

Doctor Profit membagi siklus penurunan Bitcoin ke dalam enam fase. Menurutnya, Tahap 1 terjadi saat euforia mendominasi pasar, tepatnya ketika harga berada di kisaran 115.000–125.000 dolar AS. Pada fase ini, banyak investor ritel masuk karena optimisme ekstrem.

Tahap 2 dimulai ketika Bitcoin kehilangan level psikologis 100.000 dolar AS. Penembusan ini disebut terjadi cepat dan memicu likuidasi besar di pasar futures.

Masuk ke Tahap 3, harga terjun dari sekitar 97.000 dolar AS ke 60.000 dolar AS hanya dalam waktu sebulan. Penurunan tajam ini menghapus hampir separuh kapitalisasi pasar Bitcoin dalam waktu singkat.

Kini, pasar disebut berada di Tahap 4.

Ciri Tahap 4: Sideways yang Menguras Mental

Menurut Doctor Profit, Tahap 4 ditandai dengan pergerakan sideways dalam rentang harga yang relatif jelas. Fase ini bukan lagi tentang kepanikan ekstrem, melainkan kelelahan psikologis.

“Periode ini cenderung menguras energi pelaku pasar, bukan mengejutkan mereka,” jelasnya dalam analisis terbaru.

Data on-chain yang dirilis sejumlah platform analitik seperti Glassnode juga menunjukkan peningkatan kapitulasi dari pemegang jangka pendek. Artinya, investor yang baru masuk di harga tinggi mulai melepas asetnya karena tekanan pasar.

Potensi Pantulan Harga Jangka Pendek

Meski tren masih bearish, peluang pantulan jangka pendek tetap terbuka. Doctor Profit mengaku telah memasang order beli di kisaran 57.000–60.000 dolar AS.

Namun ia menegaskan, skenario ini hanya untuk rebound sementara, bukan pembalikan tren besar.

Zona Kapitulasi Akhir di 35.000–45.000 Dolar?

Awalnya, analis tersebut memproyeksikan titik terendah di 50.000–60.000 dolar AS. Namun melihat tekanan makroekonomi global dan likuiditas pasar, ia merevisi proyeksi tersebut menjadi 35.000–45.000 dolar AS sebagai ultimate bottom.

Tahap 5 dalam siklusnya disebut sebagai fase ketakutan total. Pada fase ini, harga bisa turun 50–70 persen dari all-time high sebelum akhirnya stabil.

Baca Juga:  Resmi Berpisah, Kyedae dan TenZ Tegaskan Tidak Ada Konflik atau Pihak Ketiga

Setelah itu, Tahap 6 ditandai dengan volatilitas tinggi yang perlahan berubah menjadi stabilisasi struktural, biasanya diiringi akumulasi besar oleh investor institusi dan whale.

Risiko Likuidasi di Pasar Derivatif

Analis lain, Crypto Tice, menyoroti data historis di mana Bitcoin pernah mengalami crash hingga 84 persen dalam satu siklus. Namun ia mengingatkan bahwa yang lebih penting adalah struktur tren, bukan sekadar persentase penurunan.

Sementara itu, Captain Faibik menyebut level EMA200 mingguan di kisaran 68.000 dolar AS sebagai area krusial. Jika mampu dipertahankan, ada peluang rebound menuju 80.000 dolar AS.

Di sisi lain, analis Ted memaparkan data likuidasi yang cukup mencolok. Jika harga naik 20 persen, posisi short senilai sekitar 9,37 miliar dolar AS terancam terlikuidasi. Sebaliknya, jika turun 20 persen, posisi long sekitar 2,24 miliar dolar AS bisa tersapu.

Data ini menunjukkan betapa padatnya posisi leverage di pasar kripto saat ini.

Faktor Makro dan Peran Institusi

Di luar analisis teknikal, faktor makroekonomi global turut memengaruhi harga Bitcoin. Kebijakan suku bunga bank sentral, inflasi, hingga arus dana ke aset berisiko menjadi variabel penting.

Beberapa laporan menunjukkan institusi tetap membangun eksposur jangka panjang terhadap Bitcoin, terutama melalui ETF spot dan produk investasi kripto lainnya. Perkembangan regulasi yang lebih jelas di berbagai negara juga dinilai memberi fondasi jangka panjang yang lebih kuat.

Namun dalam jangka pendek, volatilitas masih akan mendominasi.

Apa yang Perlu Diperhatikan Investor?

Bagi investor ritel, fase seperti ini menuntut manajemen risiko yang disiplin. Menghindari penggunaan leverage berlebihan dan menyesuaikan strategi dengan profil risiko pribadi menjadi kunci.

Bear market bukan hal baru dalam sejarah Bitcoin. Siklus sebelumnya pada 2014, 2018, dan 2022 menunjukkan bahwa koreksi tajam sering kali diikuti fase akumulasi panjang sebelum akhirnya memasuki tren bullish baru.

Pertanyaannya sekarang: apakah harga Bitcoin anjlok kali ini akan mengikuti pola historis tersebut atau menghadirkan dinamika berbeda?

Pasar masih bergerak dinamis. Investor disarankan untuk mencermati data on-chain, level teknikal penting, serta perkembangan kebijakan global sebelum mengambil keputusan.

Ikuti Kami di Google News

Related Post

rajadewa138