Saham IHSG Hari Ini 28 Februari 2026 Melemah 0,44 Persen, Transaksi Justru Melonjak

MataBerita – Saham IHSG hari ini 28 Februari 2026 menjadi sorotan pelaku pasar setelah mencatat pelemahan tipis selama sepekan terakhir. Di tengah tekanan tersebut, aktivitas

redaksi 2

MataBerita – Saham IHSG hari ini 28 Februari 2026 menjadi sorotan pelaku pasar setelah mencatat pelemahan tipis selama sepekan terakhir. Di tengah tekanan tersebut, aktivitas transaksi di Bursa justru menunjukkan lonjakan signifikan, menandakan dinamika pasar yang masih aktif.

Data resmi dari Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,44 persen pada periode perdagangan 23–27 Februari 2026. Meski penurunan relatif terbatas, pergerakan ini tetap menjadi perhatian karena terjadi di tengah peningkatan nilai dan volume transaksi harian.

Menariknya, arus dana asing masih mencatatkan aksi jual bersih (net sell), sementara pasar obligasi dan sukuk justru ramai dengan pencatatan baru. Lalu, bagaimana gambaran lengkap pergerakan pasar pekan ini?

IHSG Turun Tipis, Ditutup di Level 8.235

Selama periode 23–27 Februari 2026, IHSG mengalami koreksi sebesar 0,44 persen dan ditutup di level 8.235,485. Angka ini lebih rendah dibandingkan posisi pekan sebelumnya di level 8.271,767.

Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, dalam keterangan resminya menjelaskan bahwa data perdagangan saham selama sepekan ditutup dengan pergerakan yang bervariasi.

“Pergerakan IHSG selama sepekan mengalami perubahan sebesar 0,44 persen hingga ditutup pada level 8.235,485,” ujarnya dalam keterangan resmi yang dirilis Sabtu (28/2).

Penurunan ini juga diikuti oleh turunnya kapitalisasi pasar sebesar 1,03 persen menjadi Rp14.787 triliun, dari sebelumnya Rp14.941 triliun.

Frekuensi Transaksi Turun

Meski nilai dan volume meningkat, rata-rata frekuensi transaksi harian justru mengalami penurunan sebesar 3,72 persen. Rata-rata frekuensi tercatat 2,95 juta kali transaksi, turun dari 3,06 juta kali pada pekan sebelumnya.

Baca Juga:  IPO PJHB Resmi Dibuka! Cek Harga Saham Mulai Rp310 & Bonus Waran Gratis

Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun transaksi membesar secara nominal, jumlah transaksi individual sedikit berkurang—kemungkinan dipengaruhi oleh aksi transaksi dalam nominal besar.

Nilai dan Volume Transaksi Melonjak

Di tengah pelemahan IHSG, aktivitas perdagangan justru meningkat tajam.

Nilai Transaksi Harian Naik 25,35 Persen

Rata-rata nilai transaksi harian melonjak 25,35 persen menjadi Rp29,52 triliun, dari Rp23,89 triliun pada pekan sebelumnya. Ini menjadi peningkatan tertinggi dalam indikator perdagangan selama periode tersebut.

Lonjakan ini menunjukkan likuiditas pasar yang tetap terjaga, bahkan meningkat, meskipun indeks utama mengalami tekanan.

Volume Transaksi Ikut Terkerek

Rata-rata volume transaksi harian juga naik 8,55 persen menjadi 51,02 miliar lembar saham, dari 47 miliar lembar saham pada pekan sebelumnya.

Secara umum, kombinasi naiknya volume dan nilai transaksi di tengah pelemahan indeks sering diartikan sebagai fase konsolidasi atau rotasi sektor oleh investor.

Investor Asing Catat Net Sell

Pergerakan investor asing masih menjadi faktor penting dalam dinamika pasar modal domestik.

Per Jumat (27/2), investor asing mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp694,22 miliar. Sepanjang tahun 2026, total nilai jual bersih asing telah mencapai Rp9,51 triliun.

Aksi net sell ini menjadi salah satu sentimen yang menekan IHSG. Secara historis, arus keluar dana asing kerap berdampak pada volatilitas indeks, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Namun demikian, analis pasar modal menilai tekanan ini masih dalam batas wajar dan belum mengindikasikan perubahan tren jangka panjang.

Ramai Pencatatan Obligasi dan Sukuk di BEI

Di tengah dinamika saham, pasar surat utang justru mencatat aktivitas yang cukup ramai. Selama periode 23–27 Februari 2026, terdapat delapan pencatatan efek baru yang terdiri dari enam obligasi dan dua sukuk.

Obligasi Indomobil Finance

Pada Rabu (25/2), PT Indomobil Finance Indonesia mencatatkan Obligasi Berkelanjutan VI Tahap II Tahun 2026 dengan nilai pokok Rp2,5 triliun. Obligasi ini memperoleh peringkat AA- dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO), dengan wali amanat PT Bank Mega Tbk.

Peringkat AA- menunjukkan kemampuan yang kuat dalam memenuhi kewajiban keuangan jangka panjang.

Baca Juga:  IHSG Anjlok Lagi! Ini Penyebab dan Saham yang Paling Terpukul Hari Ini

Lontar Papyrus Catat Dua Instrumen

Masih di hari yang sama, PT Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry mencatatkan:

  • Obligasi Berkelanjutan IV Tahap II Tahun 2026 senilai Rp1,05 triliun
  • Sukuk Mudharabah Berkelanjutan II Tahap II Tahun 2026 senilai Rp1,55 triliun

PEFINDO memberikan peringkat idA untuk obligasi dan idA(sy) untuk sukuk, dengan wali amanat PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk.

Obligasi SANF dan Bank Panin

Pada Kamis (26/2), PT Surya Artha Nusantara Finance mencatatkan obligasi senilai Rp1,2 triliun dengan peringkat idAA dari PEFINDO dan wali amanat PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Di hari yang sama, PT Bank Pan Indonesia Tbk atau Bank Pan Indonesia Tbk mencatatkan obligasi senilai Rp2,71 triliun dengan peringkat idAA, dengan wali amanat PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Federal International Finance dan Adira

Pada Jumat (27/2), PT Federal International Finance mencatatkan obligasi senilai Rp2,5 triliun dengan peringkat tertinggi AAA(idn) dari Fitch Ratings Indonesia, wali amanat PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Selain itu, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk mencatatkan:

  • Obligasi Berkelanjutan VII Tahap III Tahun 2026 senilai Rp2 triliun
  • Sukuk Mudharabah Berkelanjutan VI Tahap III Tahun 2026 senilai Rp500 miliar

Keduanya memperoleh peringkat idAAA dan idAAA(sy) dari PEFINDO, dengan wali amanat PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

Total Emisi 2026 Capai Rp28,71 Triliun

Sepanjang tahun 2026, total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat mencapai 30 emisi dari 21 emiten dengan nilai Rp28,71 triliun.

Secara keseluruhan, saat ini terdapat 677 emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI dengan nilai beredar Rp560,01 triliun dan USD134,01 juta, diterbitkan oleh 133 emiten.

Selain itu, Surat Berharga Negara (SBN) yang tercatat mencapai 186 seri dengan nilai nominal Rp6.683,44 triliun dan USD352,10 juta. Sementara Efek Beragun Aset (EBA) tercatat sebanyak tujuh emisi senilai Rp3,69 triliun.

Apa Artinya bagi Investor?

Meski saham IHSG hari ini 28 Februari 2026 menunjukkan pelemahan tipis, peningkatan nilai dan volume transaksi mengindikasikan pasar masih aktif dan likuid.

Kombinasi koreksi ringan, aksi net sell asing, dan ramainya penerbitan obligasi menunjukkan bahwa investor tengah melakukan penyesuaian portofolio. Bagi investor jangka panjang, kondisi seperti ini sering dimanfaatkan untuk melakukan akumulasi bertahap, dengan tetap memperhatikan fundamental dan manajemen risiko.

BEI dalam berbagai kesempatan menegaskan komitmennya menjaga transparansi dan integritas pasar demi mendukung pertumbuhan pasar modal Indonesia yang sehat dan berkelanjutan.

Ikuti Kami di Google News

Related Post

rajadewa138