Perusahaan AS iRobot Bangkrut di Tengah Gempuran Produk China dan Tarif Trump

MataBerita – Produsen robot penyedot debu legendaris Roomba, iRobot Corp, resmi mengajukan perlindungan kebangkrutan Bab 11 di Amerika Serikat. Perusahaan teknologi asal Massachusetts ini tak mampu

Redaksi

iRobot
iRobot

MataBerita – Produsen robot penyedot debu legendaris Roomba, iRobot Corp, resmi mengajukan perlindungan kebangkrutan Bab 11 di Amerika Serikat. Perusahaan teknologi asal Massachusetts ini tak mampu lagi menahan tekanan biaya produksi yang melonjak, di tengah persaingan harga ketat dari produsen robot murah asal Asia.

Kebangkrutan iRobot menjadi sorotan karena perusahaan ini pernah menjadi simbol inovasi rumah tangga pintar global. Dari dominasi pasar hingga valuasi miliaran dolar, perjalanan iRobot kini berbelok tajam akibat kebijakan tarif impor AS dan kegagalan strategi ekspansi.

Lantas, apa sebenarnya yang terjadi dengan iRobot? Mengapa perusahaan yang pernah berjaya ini akhirnya memilih jalur pailit, dan bagaimana masa depan Roomba setelah restrukturisasi?

iRobot Ajukan Kebangkrutan Bab 11 di AS

iRobot Corp secara resmi mengajukan perlindungan kebangkrutan Bab 11 di Pengadilan Delaware, Amerika Serikat. Informasi ini dilaporkan Reuters pada Selasa, 16 Desember 2025.

Dalam dokumen pengadilan, manajemen iRobot menyatakan bahwa langkah ini diambil sebagai upaya restrukturisasi keuangan agar operasional perusahaan tetap berjalan. Setelah proses tersebut rampung, iRobot akan berubah status menjadi perusahaan tertutup (private company).

Perubahan status ini terjadi setelah seluruh saham iRobot diambil alih oleh Picea Robotics, mitra manufaktur utamanya yang berbasis di China.

Tekanan Tarif Impor Jadi Pukulan Terberat

Salah satu faktor utama yang mempercepat kebangkrutan iRobot adalah kenaikan tarif impor Amerika Serikat. Sejak era pemerintahan Presiden Donald Trump, kebijakan proteksionisme perdagangan kembali diperketat, termasuk untuk produk elektronik dan teknologi.

iRobot memproduksi sebagian besar robot penyedot debunya di Vietnam untuk pasar AS. Namun, kebijakan tarif impor sebesar 46% untuk produk asal Vietnam membuat biaya produksi melonjak drastis.

Baca Juga:  Rupiah Melemah 4 Hari Berturut-turut, Ini Penyebab Utamanya

Beban Biaya Tembus US$ 23 Juta

Berdasarkan dokumen pengadilan, tarif impor tersebut menambah beban biaya iRobot hingga sekitar US$ 23 juta sepanjang 2025. Kenaikan biaya ini membuat perencanaan bisnis jangka panjang menjadi semakin sulit, terutama dalam menjaga harga jual tetap kompetitif.

Manajemen iRobot sebelumnya telah memperingatkan investor sejak Maret 2025 bahwa kebijakan tarif impor berpotensi mengancam kelangsungan usaha (going concern) perusahaan.

Persaingan Robot Murah dari China Kian Ketat

Selain tekanan tarif, iRobot juga terjepit oleh banjir produk robot penyedot debu murah, terutama dari produsen China. Merek-merek seperti Ecovacs Robotics dan sejumlah pemain baru menawarkan fitur serupa dengan harga jauh lebih rendah.

Kondisi ini memaksa iRobot melakukan dua langkah berat sekaligus:

  • Menurunkan harga jual produk Roomba

  • Menggelontorkan investasi besar untuk riset dan pengembangan teknologi

Sayangnya, strategi tersebut justru semakin menekan margin keuntungan perusahaan.

Pendapatan Masih Besar, Tapi Margin Tergerus

Ironisnya, iRobot sebenarnya masih mencatatkan pendapatan yang relatif besar. Sepanjang 2024, perusahaan membukukan pendapatan sekitar US$ 682 juta.

Namun, pendapatan tersebut tidak sebanding dengan beban biaya operasional, investasi teknologi, dan kewajiban utang yang terus menumpuk. Alhasil, arus kas perusahaan semakin tertekan dan sulit bernafas.

Tumpukan Utang US$ 190 Juta Jadi Beban Tambahan

Masalah iRobot tak berhenti pada tarif dan persaingan. Perusahaan juga menanggung utang besar sekitar US$ 190 juta, yang berasal dari pinjaman pada tahun 2023.

Dana tersebut digunakan untuk menopang operasional setelah rencana akuisisi senilai US$ 1,4 miliar oleh Amazon.com gagal terealisasi.

Akuisisi Amazon Gagal Akibat Regulasi Eropa

Rencana Amazon mengakuisisi iRobot batal setelah menghadapi penyelidikan ketat dari regulator persaingan usaha di Eropa. Kekhawatiran akan dominasi pasar dan penggunaan data konsumen menjadi faktor utama gagalnya kesepakatan tersebut.

Kegagalan akuisisi ini menjadi pukulan telak bagi iRobot, yang sebelumnya berharap suntikan modal besar dari Amazon untuk memperkuat posisinya di pasar smart home.

Baca Juga:  Harga Emas Antam Hari Ini 11 November 2025 Naik, Simak Daftar Terbarunya

Picea Robotics Ambil Alih iRobot

Setelah kesepakatan dengan Amazon kandas dan iRobot menunggak pembayaran kepada Picea Robotics, perusahaan manufaktur tersebut akhirnya mengambil alih utang iRobot dari konsorsium dana investasi yang dikelola oleh Carlyle Group.

Skema Restrukturisasi

Dalam rencana restrukturisasi kebangkrutan:

  • Picea Robotics akan menguasai 100% saham iRobot

  • Seluruh sisa pinjaman US$ 190 juta akan dihapuskan

  • Termasuk tambahan utang US$ 74 juta dari perjanjian manufaktur

  • Kreditur dan pemasok lain akan dibayar penuh

Langkah ini dinilai sebagai solusi tercepat untuk menyelamatkan operasional iRobot tanpa harus melakukan likuidasi aset besar-besaran.

Layanan Pelanggan Dijamin Tetap Berjalan

Manajemen iRobot menegaskan bahwa proses kebangkrutan ini tidak akan mengganggu layanan pelanggan. Dalam pernyataan resminya, perusahaan menyebutkan bahwa:

  • Aplikasi Roomba tetap berfungsi

  • Dukungan produk tetap berjalan

  • Rantai pasok global tidak terganggu

  • Garansi dan layanan purna jual tetap berlaku

Pernyataan ini penting untuk menjaga kepercayaan jutaan pengguna Roomba di seluruh dunia.

Dari Puncak Kejayaan ke Jurang Kebangkrutan

iRobot pernah berada di puncak kejayaan pada masa pandemi. Pada 2021, valuasi perusahaan mencapai sekitar US$ 3,56 miliar, didorong lonjakan permintaan perangkat rumah tangga pintar saat masyarakat lebih banyak beraktivitas di rumah.

Namun, empat tahun berselang, nilai perusahaan tersebut anjlok tajam menjadi hanya sekitar US$ 140 juta.

Penurunan drastis ini mencerminkan betapa cepatnya perubahan dinamika industri teknologi konsumen, terutama ketika inovasi tak lagi diiringi efisiensi biaya.

Sejarah Panjang iRobot dan Roomba

iRobot didirikan pada 1990 oleh tiga ilmuwan robotika dari Massachusetts Institute of Technology (MIT). Pada awalnya, perusahaan fokus pada teknologi robot untuk sektor pertahanan dan antariksa.

Titik balik iRobot terjadi pada 2002, ketika mereka meluncurkan Roomba, robot penyedot debu otomatis yang kemudian merevolusi cara membersihkan rumah.

Dominasi Pasar Global

Pada masa kejayaannya:

  • Pangsa pasar iRobot mencapai 42% di Amerika Serikat

  • Menguasai sekitar 65% pasar Jepang

Roomba menjadi sinonim dengan robot vacuum cleaner, mirip seperti “Aqua” untuk air mineral di Indonesia.

Kondisi Terkini Perusahaan

Saat ini, iRobot berkantor pusat di Bedford, Massachusetts, dan mempekerjakan sekitar 274 karyawan, berdasarkan dokumen kebangkrutan.

Restrukturisasi ini diharapkan mampu menjaga lapangan kerja dan keberlanjutan teknologi iRobot di tengah tekanan industri global.

Dampak Kebangkrutan iRobot bagi Industri Teknologi

Kasus perusahaan AS iRobot bangkrut menjadi sinyal kuat bagi industri teknologi konsumen global. Kebijakan perdagangan, geopolitik, dan persaingan harga kini sama pentingnya dengan inovasi teknologi itu sendiri.

Para analis menilai, perusahaan teknologi harus lebih fleksibel dalam mengelola rantai pasok dan biaya produksi, terutama di tengah ketidakpastian kebijakan perdagangan internasional.

Ikuti Kami di Google News

Related Post

rajadewa138