MataBerita – PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk atau yang lebih dikenal dengan merek SINERGY Networks bersiap melakukan langkah korporasi besar di awal 2026. Perusahaan telekomunikasi dan jaringan ini akan menggelar Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PM-HMETD) I atau rights issue, yang juga disertai penerbitan Waran Seri II.
Aksi korporasi ini menjadi perhatian pelaku pasar karena nilainya yang tergolong jumbo. Dengan potensi perolehan dana triliunan rupiah, rights issue INET dinilai berpotensi mengubah struktur permodalan perusahaan sekaligus membuka ruang ekspansi bisnis yang lebih agresif ke depan.
Bagi investor pasar modal, rencana ini bukan sekadar agenda rutin emiten. Jadwal yang padat, nilai dana yang besar, serta keterlibatan pemegang saham pengendali sebagai pembeli siaga membuat rights issue INET layak dicermati sejak dini.
Restu OJK Jadi Lampu Hijau Rights Issue INET
Langkah PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk untuk menggelar rights issue telah mengantongi izin dari regulator. Perseroan memperoleh Pernyataan Efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang terbit pada Selasa, 23 Desember 2025.
Persetujuan ini menjadi penanda bahwa rencana PM-HMETD I telah memenuhi ketentuan yang berlaku di pasar modal. Dengan restu OJK, perseroan kini dapat melangkah ke tahap pelaksanaan sesuai jadwal yang telah diumumkan.
Dalam praktiknya, Pernyataan Efektif OJK juga menjadi dasar hukum bagi investor untuk menilai bahwa dokumen dan informasi yang disampaikan emiten telah melalui proses penelaahan regulator.
Terbitkan Hingga 12,8 Miliar Saham Baru
Berdasarkan prospektus ringkas yang dipublikasikan melalui laman Bursa Efek Indonesia (BEI), INET akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 12,8 miliar saham baru biasa. Seluruh saham baru ini memiliki nilai nominal Rp10 per lembar.
Jumlah saham yang diterbitkan tergolong sangat besar dan mencerminkan skala rights issue yang direncanakan perseroan. Dengan aksi ini, struktur kepemilikan saham akan mengalami perubahan, terutama jika tidak seluruh pemegang saham lama mengeksekusi haknya.
Rights issue ini juga berpotensi meningkatkan likuiditas saham INET di pasar, seiring bertambahnya jumlah saham beredar setelah aksi korporasi rampung.
Target Dana Maksimal Rp3,2 Triliun
Salah satu poin paling krusial dalam rights issue INET adalah target dana yang hendak dihimpun. Dengan harga pelaksanaan HMETD sebesar Rp250 per saham, perseroan menargetkan perolehan dana maksimal mencapai Rp3,2 triliun.
Dana ini disebut-sebut akan memperkuat struktur permodalan perusahaan serta mendukung kebutuhan pendanaan jangka menengah hingga panjang. Meski dalam prospektus ringkas belum dirinci secara mendalam, lazimnya dana hasil rights issue digunakan untuk ekspansi jaringan, penguatan modal kerja, atau pelunasan kewajiban tertentu.
Bagi investor, besaran dana ini menjadi indikasi seriusnya langkah korporasi yang diambil manajemen dalam mengakselerasi pertumbuhan bisnis.
Penerbitan Waran Seri II Sebagai Insentif
Selain menerbitkan saham baru, INET juga akan mengeluarkan Waran Seri II secara bersamaan dengan pelaksanaan PM-HMETD I. Total jumlah Waran Seri II yang dapat diterbitkan mencapai sebanyak-banyaknya 3,2 miliar waran, sesuai dengan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Dari jumlah tersebut, sekitar 2.304.000.000 Waran Seri II akan menyertai saham baru yang diterbitkan dalam rights issue. Waran ini diberikan secara cuma-cuma sebagai insentif bagi pemegang saham yang melaksanakan haknya.
Jika seluruh waran dieksekusi di kemudian hari, potensi tambahan dana yang bisa diperoleh perseroan mencapai sekitar Rp691,2 miliar. Artinya, total dana yang berpotensi masuk ke kas perseroan tidak hanya berasal dari rights issue, tetapi juga dari pelaksanaan waran.
Peran Pemegang Saham Pengendali sebagai Pembeli Siaga
Untuk menjamin keberhasilan rights issue, pemegang saham pengendali INET, yakni PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara, telah menyatakan kesanggupannya bertindak sebagai Pembeli Siaga (standby buyer).
Perusahaan ini siap menyerap sisa saham porsi publik yang tidak diambil oleh pemegang hak, dengan jumlah maksimal mencapai 5.652.377.067 saham. Kehadiran standby buyer menjadi faktor penting dalam aksi rights issue, karena memberikan kepastian bahwa dana yang ditargetkan tetap dapat dihimpun.
Dalam perspektif pasar modal, komitmen pemegang saham pengendali sering dipandang sebagai sinyal kepercayaan terhadap prospek jangka panjang perusahaan.
Jadwal Penting Rights Issue INET yang Wajib Dicermati
Investor yang ingin berpartisipasi dalam rights issue PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk perlu memperhatikan sejumlah tanggal penting berikut:
Jadwal Cum dan Ex Rights
-
Cum Right HMETD di Pasar Reguler & Negosiasi: Jumat, 2 Januari 2026
-
Ex Right HMETD di Pasar Reguler & Negosiasi: Senin, 5 Januari 2026
Pasar Tunai dan Recording Date
-
Cum HMETD di Pasar Tunai: Selasa, 6 Januari 2026
-
Recording Date HMETD: Selasa, 6 Januari 2026
-
Ex HMETD di Pasar Tunai: Rabu, 7 Januari 2026
Perdagangan dan Pelaksanaan HMETD
-
Distribusi HMETD: Rabu, 7 Januari 2026
-
Pencatatan dan Awal Perdagangan HMETD: Kamis, 8 Januari 2026
-
Akhir Perdagangan HMETD: Kamis, 22 Januari 2026
-
Awal Pelaksanaan HMETD: Kamis, 8 Januari 2026
-
Akhir Pelaksanaan HMETD: Kamis, 22 Januari 2026
Pemesanan Saham Tambahan
-
Awal Penyerahan HMETD: Senin, 12 Januari 2026
-
Akhir Penyerahan HMETD: Senin, 26 Januari 2026
-
Tanggal Akhir Pembayaran Saham Tambahan: Jumat, 23 Januari 2026
-
Tanggal Penjatahan Saham Tambahan: Senin, 26 Januari 2026
-
Refund Pemesanan Saham Tambahan: Rabu, 28 Januari 2026
-
Penyampaian Audit Penjatahan: Senin, 16 Februari 2026
Rangkaian jadwal ini tergolong panjang dan membutuhkan perhatian khusus, terutama bagi investor ritel agar tidak melewatkan haknya.
Dampak Rights Issue bagi Investor dan Emiten
Rights issue dengan skala besar seperti yang dilakukan INET berpotensi memberikan dua dampak utama. Di satu sisi, perusahaan memperoleh tambahan modal signifikan untuk mendukung strategi bisnis. Di sisi lain, investor lama menghadapi potensi dilusi kepemilikan jika tidak mengeksekusi HMETD.
Namun, keberadaan waran gratis dan komitmen standby buyer bisa menjadi faktor penyeimbang. Investor yang percaya pada prospek jangka panjang perseroan dapat memanfaatkan rights issue ini untuk meningkatkan porsi kepemilikan dengan harga yang telah ditentukan.
Prospek Setelah Rights Issue
Dengan dana hingga Rp3,2 triliun dari rights issue dan potensi tambahan dari pelaksanaan Waran Seri II, PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk memiliki ruang yang lebih luas untuk memperkuat fundamental bisnis. Langkah ini juga mencerminkan ambisi manajemen dalam memperbesar skala usaha di tengah persaingan industri jaringan dan telekomunikasi yang semakin ketat.
Bagi pasar, realisasi penggunaan dana nantinya akan menjadi kunci penilaian keberhasilan aksi korporasi ini. Investor umumnya akan menanti transparansi dan kinerja pasca-rights issue sebagai tolok ukur kepercayaan jangka panjang.








