Saham DEWA Melejit, Aksi Borong CGS dan Prospek Ekspansi Jadi Penggerak Utama

MataBerita – Saham DEWA kembali mencuri perhatian pelaku pasar di penghujung 2025. Emiten kontraktor tambang batubara ini mencatat lonjakan harga signifikan dalam satu sesi perdagangan,

Redaksi

Saham DEWA
Saham DEWA

MataBerita – Saham DEWA kembali mencuri perhatian pelaku pasar di penghujung 2025. Emiten kontraktor tambang batubara ini mencatat lonjakan harga signifikan dalam satu sesi perdagangan, didorong oleh kombinasi sentimen positif mulai dari masuknya investor institusi, perbaikan struktur permodalan, hingga rencana ekspansi bisnis yang semakin konkret.

Pergerakan saham PT Darma Henwa Tbk dinilai bukan sekadar kenaikan jangka pendek. Minat beli yang tinggi mencerminkan kepercayaan pasar terhadap arah pemulihan fundamental perusahaan, terutama setelah manajemen menunjukkan langkah strategis yang terukur dan agresif sepanjang tahun ini.

Tak mengherankan jika Saham DEWA menjadi salah satu saham dengan performa paling menonjol di Bursa Efek Indonesia sepanjang 2025, bahkan mencatat rekor harga tertinggi dalam hampir dua dekade terakhir.

Saham DEWA Naik ke Level Tertinggi Sejak 2007

Berdasarkan data perdagangan di Bursa Efek Indonesia, pada Senin, 29 Desember 2025 pukul 10.18 WIB, Saham DEWA melonjak 17,86 persen ke level Rp660 per saham. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp1,17 triliun, menandakan tingginya partisipasi investor dalam penguatan saham ini.

Kenaikan tersebut menempatkan harga Saham DEWA pada posisi tertinggi sejak Desember 2007. Sepanjang 2025, saham ini telah mencatatkan reli hingga sekitar 490 persen, sejalan dengan meningkatnya optimisme pasar terhadap prospek bisnis dan perbaikan kinerja keuangan perusahaan.

CGS International Borong Ratusan Juta Saham

Sentimen positif terhadap Saham DEWA semakin menguat setelah aksi pembelian besar-besaran oleh PT CGS International Sekuritas Indonesia. Pada 11 Desember 2025, CGS memborong sekitar 680,3 juta saham DEWA dengan harga Rp264 per saham.

Baca Juga:  Harga Perak Meroket 137% dalam Setahun, Reli Tajam Bikin Investor Waspada

Total nilai transaksi tersebut mencapai sekitar Rp179,6 miliar dan dilakukan melalui skema repurchase agreement (repo). Dengan transaksi ini, porsi kepemilikan CGS di DEWA meningkat dari sebelumnya 3,86 persen menjadi 5,53 persen.

Masuknya investor institusi dengan kepemilikan signifikan kerap dipandang sebagai sinyal kepercayaan terhadap prospek jangka menengah suatu emiten. Dalam konteks DEWA, aksi ini turut memperkuat persepsi pasar bahwa saham tersebut memiliki potensi lanjutan, bukan sekadar reli sesaat.

Fasilitas Kredit Rp1 Triliun Perkuat Likuiditas

Selain aksi korporasi investor, dukungan pendanaan juga menjadi faktor penting di balik menguatnya Saham DEWA. Perseroan sebelumnya menandatangani perjanjian fasilitas kredit senilai total Rp1 triliun dengan PT Bank Central Asia Tbk pada 19 Desember 2025.

Direktur sekaligus Corporate Secretary DEWA, Mukson Arif Rosyidi, menjelaskan fasilitas kredit tersebut terdiri dari dua jenis, yakni kredit modal kerja dan kredit investasi, dengan tingkat bunga efektif masing-masing sekitar 7 persen per tahun.

Kredit modal kerja sebesar Rp850 miliar memiliki tenor dua tahun dan akan digunakan untuk mendukung kegiatan operasional utama. Dana ini antara lain dialokasikan untuk pengambilalihan penuh pekerjaan subkontraktor di proyek PT Kaltim Prima Coal, peningkatan volume pekerjaan di proyek PT Arutmin Indonesia, serta mendukung pengembangan proyek baru ke depan.

Sementara itu, kredit investasi senilai Rp150 miliar dengan tenor lima tahun akan dimanfaatkan untuk pembelian alat-alat berat baru. Langkah ini penting untuk menunjang peningkatan kapasitas produksi dan menjaga keberlanjutan operasional perseroan.

Rencana Ekspansi Operasional Tahun 2026

Prospek Saham DEWA juga ditopang oleh rencana ekspansi operasional yang semakin jelas pada 2026. Dalam riset yang dirilis Henan Putihrai Sekuritas pada 19 Desember 2025, DEWA diproyeksikan akan mengambil alih penuh operasi tambang Bengalon milik KPC setelah kontrak subkontraktor berakhir di akhir 2025.

Area tambang tersebut dijadwalkan mulai dikosongkan pada kuartal I-2026. Selain Bengalon, manajemen DEWA juga mengungkap adanya sejumlah peluang kontrak baru lainnya, termasuk satu proyek dari Arutmin serta dua potensi kontrak di luar ekosistem KPC dan Arutmin.

Baca Juga:  Rekomendasi Saham Hari Ini Selasa 28 Oktober 2025: Peluang Cuan di Tengah Sentimen Global Positif

Jika kontrak-kontrak tersebut berhasil direalisasikan, visibilitas pendapatan DEWA ke depan dinilai akan semakin kuat dan berkelanjutan.

Proyeksi Pendapatan Naik, Laba Masih Tertahan

HP Sekuritas memproyeksikan peningkatan signifikan pada volume pengupasan lapisan tanah penutup atau overburden removal DEWA, yang diperkirakan mencapai 158 hingga 164 juta bcm pada periode 2026–2027. Kenaikan volume ini menjadi pendorong utama proyeksi pertumbuhan pendapatan perseroan.

Meski demikian, peningkatan laba bersih diperkirakan masih terbatas. Penurunan biaya subkontrak memang berpotensi memperbaiki laba kotor, namun kebutuhan belanja modal atau capex yang cukup besar untuk pengadaan alat berat dapat menahan ekspansi margin keuntungan.

Atas dasar itu, HP Sekuritas tetap bersikap konservatif terhadap estimasi laba DEWA tahun 2026. Proyeksi laba dinilai masih berada di bawah konsensus pasar, meskipun proyeksi pendapatan relatif sejalan.

Restrukturisasi Ekuitas dan Peluang Aksi Korporasi

Dari sisi struktur permodalan, DEWA juga terus melanjutkan proses reklasifikasi ekuitas. Penyesuaian saldo rugi ditahan telah memperoleh persetujuan prinsip dan saat ini sedang dalam pembahasan bersama Otoritas Jasa Keuangan dan auditor eksternal.

Dalam kajian terbaru, OJK menetapkan penyesuaian selisih kurs sebesar Rp2,2 triliun, meningkat dari sebelumnya Rp2,1 triliun. Manajemen optimistis persetujuan final dapat diperoleh bersamaan dengan rampungnya proses impairment aset tidak produktif yang ditargetkan selesai pada kuartal IV-2025.

HP Sekuritas menilai langkah-langkah ini akan memperkuat fleksibilitas keuangan DEWA dalam jangka panjang. Selain itu, terbuka peluang aksi korporasi ke depan, termasuk penerbitan obligasi untuk mendanai ekspansi maupun potensi pembagian dividen guna meningkatkan kepercayaan investor.

Rekomendasi Analis Masih Beli

Dengan mempertimbangkan perbaikan neraca, meningkatnya visibilitas pendapatan, serta akselerasi rencana ekspansi bisnis, HP Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli atau buy untuk Saham DEWA.

Target harga dinaikkan menjadi Rp750 per saham dari sebelumnya Rp500, seiring optimisme terhadap proses pemulihan kinerja DEWA yang kini ditopang oleh struktur keuangan yang lebih sehat dan prospek bisnis yang semakin jelas.

Ikuti Kami di Google News

Related Post

rajadewa138