Iran Tuding AS dan Barat Munafik soal Kerusuhan Dalam Negeri, Soroti Sikap terhadap Gaza

MataBerita – Pemerintah Iran kembali melontarkan kritik keras terhadap Amerika Serikat dan negara-negara Barat menyusul reaksi internasional atas gelombang kerusuhan yang terjadi di dalam negeri.

redaksi 2

MataBerita – Pemerintah Iran kembali melontarkan kritik keras terhadap Amerika Serikat dan negara-negara Barat menyusul reaksi internasional atas gelombang kerusuhan yang terjadi di dalam negeri. Teheran menilai Barat bersikap tidak konsisten dan cenderung munafik karena mengecam situasi di Iran, namun tetap bungkam terhadap operasi militer Israel di Jalur Gaza.

Pernyataan tersebut muncul di tengah eskalasi protes yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Iran. Aksi demonstrasi yang awalnya dipicu persoalan ekonomi, khususnya lonjakan harga kebutuhan pokok, kini berkembang menjadi ekspresi ketidakpuasan yang lebih luas terhadap pemerintahan ulama.

Pemerintah Iran menegaskan bahwa situasi keamanan nasional tetap berada di bawah kendali aparat. Namun, data dari lembaga pemantau independen menunjukkan dampak kerusuhan telah menimbulkan korban jiwa dan penangkapan dalam jumlah besar, sekaligus memicu sorotan tajam dari komunitas internasional.

Iran Nilai Barat Bersikap Standar Ganda

Pernyataan Menlu Iran soal “Air Mata Buaya” Barat

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara terbuka menuduh Amerika Serikat dan sekutunya menunjukkan kemarahan yang selektif. Menurutnya, negara-negara Barat justru menaruh simpati terhadap kelompok yang oleh Teheran disebut sebagai pelaku kekerasan di Iran, sementara mengabaikan penderitaan warga sipil Palestina di Gaza.

Dalam pernyataannya, Araghchi menyebut Barat “meneteskan air mata buaya” atas situasi di Iran, tetapi memilih diam terhadap apa yang ia klaim sebagai kejahatan Israel di Jalur Gaza. Sikap ini, menurut Iran, mencerminkan standar ganda dalam menilai isu hak asasi manusia dan stabilitas regional.

Baca Juga:  Ha Jung Woo dan Cha Jung Won Resmi Berpacaran, Mereka Bantah Kabar Pernikahan Juli 2026, Itu Baru Rencana

Pandangan tersebut sejalan dengan posisi resmi Iran yang sejak lama vokal mengkritik kebijakan Israel dan dukungan Barat terhadap Tel Aviv dalam konflik Palestina.

Latar Belakang Kerusuhan di Iran

Dipicu Tekanan Ekonomi, Berkembang Jadi Protes Politik

Gelombang unjuk rasa di Iran dilaporkan mulai pecah sejak akhir bulan lalu. Pemicu awalnya adalah kenaikan harga kebutuhan pokok dan tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Dalam perkembangannya, demonstrasi berubah menjadi kritik terbuka terhadap pemerintahan dan kebijakan negara.

Aksi protes terjadi di berbagai kota besar, termasuk Teheran. Sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan massa memadati jalanan pada malam hari, meneriakkan yel-yel protes dan mengekspresikan ketidakpuasan mereka terhadap kondisi sosial-politik.

Dalam salah satu rekaman yang beredar luas, terdengar suara menyebutkan bahwa “kerumunan ini tidak berujung dan tidak bermula,” menggambarkan skala serta spontanitas aksi yang terjadi.

Respons Pemerintah Iran terhadap Demonstrasi

Klaim Keamanan Terkendali

Menanggapi situasi tersebut, Abbas Araghchi menegaskan bahwa kondisi keamanan nasional telah terkendali. Ia menyatakan pemerintah memiliki bukti berupa rekaman video yang menunjukkan adanya distribusi senjata kepada para pengunjuk rasa.

Selain itu, Araghchi juga menyebutkan bahwa pengakuan dari sejumlah orang yang ditahan akan segera dipublikasikan sebagai bagian dari upaya transparansi pemerintah. Namun, hingga kini, detail dan waktu publikasi bukti tersebut belum dijelaskan secara rinci kepada publik.

Pembatasan Internet Dilakukan Bertahap

Pemerintah Iran juga mengakui telah memberlakukan pembatasan akses internet di sejumlah wilayah. Menurut Araghchi, layanan internet akan dipulihkan secara bertahap dengan koordinasi aparat keamanan.

Langkah ini, menurut pemerintah, ditujukan untuk meredam penyebaran informasi yang dianggap dapat memperkeruh situasi. Namun, kebijakan pembatasan internet kerap menuai kritik dari kelompok masyarakat sipil dan pemerhati kebebasan berekspresi.

Tudingan terhadap AS dan Israel

Iran Sebut Ada Campur Tangan Asing

Otoritas Iran sebelumnya secara terbuka menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik aksi protes yang terjadi. Pemerintah bahkan menyerukan aksi unjuk rasa nasional untuk mengecam apa yang mereka sebut sebagai “tindakan terorisme yang dipimpin AS dan Israel”.

Baca Juga:  Bupati TTU Diminta Nonaktifkan Sekda Terkait Pembatalan Kelulusan Calon PPPK Tahap II

Narasi campur tangan asing bukan hal baru dalam politik Iran. Pemerintah kerap menekankan bahwa instabilitas domestik tidak lepas dari pengaruh eksternal yang ingin melemahkan kedaulatan negara.

Data Korban Versi Lembaga HAM

Ratusan Tewas dan Ribuan Ditangkap

Lembaga pemantau hak asasi manusia berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), melaporkan dampak serius dari kerusuhan tersebut. Menurut catatan HRANA, sedikitnya 490 pengunjuk rasa dan 48 aparat keamanan dilaporkan tewas sejak aksi protes pecah.

Selain itu, lebih dari 10.600 orang disebut telah ditangkap oleh aparat keamanan. Data ini menjadi rujukan penting bagi komunitas internasional, meski pemerintah Iran kerap membantah atau memberikan angka berbeda terkait korban dan penangkapan.

Respons dan Tekanan dari Amerika Serikat

Ancaman dan Opsi Kebijakan

Di tengah situasi yang memanas, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan mengeluarkan peringatan keras kepada Iran. Ia mengancam akan mengambil tindakan jika aparat keamanan Iran menembaki para demonstran.

Laporan media internasional, termasuk Wall Street Journal, menyebutkan bahwa pemerintahan AS mempertimbangkan berbagai opsi kebijakan. Opsi tersebut mencakup kemungkinan serangan militer, operasi siber rahasia, perluasan sanksi ekonomi, hingga dukungan daring bagi kelompok anti-pemerintah di Iran.

Meski demikian, hingga kini belum ada pernyataan resmi mengenai langkah konkret yang akan diambil Washington.

Analisis Singkat: Ketegangan Internal dan Eksternal Beririsan

Situasi di Iran menunjukkan bagaimana persoalan domestik dengan cepat beririsan dengan dinamika geopolitik regional dan global. Di satu sisi, pemerintah Iran berupaya mempertahankan stabilitas dan narasi kedaulatan. Di sisi lain, tekanan internasional dan sorotan HAM terus meningkat.

Bagi pengamat Timur Tengah, eskalasi ini berpotensi memperdalam ketegangan antara Iran dan Barat, terutama jika isu Gaza terus menjadi pembanding dalam perdebatan diplomatik. Dalam jangka pendek, fokus utama Iran adalah mengendalikan situasi dalam negeri, sementara dunia internasional terus mencermati perkembangan di lapangan.

Kesimpulan

Pernyataan keras Iran terhadap Amerika Serikat dan Barat mencerminkan ketegangan yang belum mereda, baik di tingkat domestik maupun internasional. Di tengah kerusuhan yang masih berlangsung, isu hak asasi manusia, stabilitas nasional, dan konflik regional kembali menjadi sorotan utama dalam hubungan Iran dengan dunia luar.

Ikuti Kami di Google News

Related Post

rajadewa138