Kabar duka datang dari Gunung Slamet, salah satu gunung tertinggi dan paling menantang di Pulau Jawa. Seorang pendaki muda asal Magelang, Syafiq Ridhan Ali Razan, akhirnya ditemukan setelah dilaporkan hilang selama lebih dari dua minggu. Sayangnya, pencarian panjang itu berakhir dengan kabar yang sangat menyedihkan. Syafiq ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa di kawasan Gunung Malang, area Watu Langgar.
Kisah Syafiq Gunung Slamet ini dengan cepat menyita perhatian publik. Banyak pendaki dan pecinta alam ikut mengikuti perkembangan pencarian ini dari hari ke hari. Harapan bahwa Syafiq masih bisa ditemukan selamat sempat terus tumbuh, terutama setelah temannya berhasil dievakuasi lebih dulu. Namun alam pegunungan memang tidak pernah bisa diprediksi, bahkan oleh pendaki yang paling siap sekalipun.
Di balik berita duka ini, ada banyak pelajaran penting tentang keselamatan, solidaritas, dan betapa kerasnya medan Gunung Slamet. Artikel ini akan mengulas kronologi lengkap hilangnya Syafiq, proses pencarian, hingga bagaimana ia akhirnya ditemukan oleh tim relawan gabungan.
Kronologi Hilangnya Syafiq di Gunung Slamet
Peristiwa ini bermula pada akhir Desember 2025. Syafiq Ridhan Ali Razan, pendaki muda berusia 18 tahun asal Magelang, memutuskan mendaki Gunung Slamet bersama seorang temannya, Himawan Haidar Bahran.
Mereka memulai pendakian pada Sabtu, 27 Desember 2025 melalui Basecamp Dipajaya yang berada di Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang. Rencana awalnya cukup sederhana, yakni melakukan pendakian tektok, naik dan turun dalam waktu singkat tanpa bermalam di gunung.
Rencana Tektok yang Berubah Jadi Misi Penyelamatan
Awalnya, Syafiq dan Himawan menargetkan turun pada Minggu, 28 Desember 2025. Namun di tengah perjalanan, situasi tidak berjalan sesuai rencana. Himawan mengalami cedera kaki yang cukup serius sehingga tidak bisa melanjutkan perjalanan dengan normal.
Melihat kondisi temannya, Syafiq mengambil keputusan penting. Ia memutuskan untuk turun lebih dulu guna mencari bantuan dan pertolongan. Ini adalah keputusan yang penuh tanggung jawab, tetapi juga penuh risiko karena harus menempuh jalur turun seorang diri di gunung yang dikenal ekstrem.
Sayangnya, setelah Syafiq turun, ia tidak kunjung kembali. Hingga malam Minggu, 28 Desember 2025, keberadaan Syafiq masih tidak diketahui. Kondisi inilah yang membuat pihak keluarga dan rekan-rekan pendaki mulai merasa cemas dan akhirnya melapor ke pihak berwenang.

Pencarian Besar-besaran oleh Tim Relawan
Menyusul laporan tersebut, tim relawan gabungan segera diterjunkan untuk melakukan pencarian. Operasi ini melibatkan BPBD, relawan pendaki, hingga unsur SAR. Gunung Slamet bukanlah medan yang mudah. Jalurnya panjang, banyak area tertutup vegetasi, serta cuaca yang sering berubah-ubah.
Himawan Berhasil Ditemukan Lebih Dulu
Di tengah pencarian yang berlangsung beberapa hari, kabar baik sempat datang. Himawan Haidar Bahran akhirnya ditemukan di Pos 9 pada Selasa, 30 Desember 2025. Kondisinya lemas, namun masih selamat. Ia kemudian dievakuasi ke basecamp untuk mendapatkan perawatan.
Namun, Syafiq belum juga ditemukan. Fokus pencarian pun sepenuhnya diarahkan untuk menemukan pendaki muda tersebut. Banyak pendaki dan masyarakat luas ikut mendoakan serta menyebarkan informasi agar pencarian bisa berjalan lebih cepat.
Gunung Slamet Ditemukan di Hari ke-17
Setelah lebih dari dua pekan pencarian tanpa hasil, akhirnya titik terang muncul. Pada Rabu, 14 Januari 2026, Kepala BPBD Kabupaten Pemalang, Agus Ikmaludin, mengonfirmasi bahwa jenazah Syafiq telah ditemukan.
Syafiq ditemukan di kawasan Gunung Malang, area Watu Langgar, yang masih berada di lingkungan Gunung Slamet. Penemuan ini terjadi pada hari ke-17 sejak ia dinyatakan hilang.
Agus menyampaikan bahwa saat ini proses evakuasi sedang dilakukan oleh para relawan. Medan yang sulit membuat evakuasi jenazah membutuhkan waktu dan tenaga ekstra. Para relawan harus bekerja dengan penuh kehati-hatian agar proses berjalan aman dan lancar.
Medan Gunung Slamet yang Penuh Tantangan
Gunung Slamet memang dikenal sebagai salah satu gunung paling berat di Jawa. Jalurnya panjang, tanjakan ekstrem, serta kondisi cuaca yang bisa berubah tiba-tiba membuat gunung ini tidak bisa dianggap remeh.
Area Watu Langgar dan Gunung Malang
Lokasi ditemukannya Syafiq berada di area yang cukup jarang dilalui pendaki. Watu Langgar dan kawasan Gunung Malang dikenal memiliki kontur berbatu dan vegetasi lebat. Jika seorang pendaki tersesat di area ini, sangat sulit untuk menemukan jalur keluar tanpa bantuan.
Banyak pendaki berpengalaman menyebut bahwa navigasi di Gunung Slamet harus benar-benar mengandalkan peta, kompas, atau GPS. Sedikit saja keluar jalur, seseorang bisa masuk ke area yang sangat berbahaya.
Duka Mendalam dan Pelajaran Berharga
Kabar meninggalnya Syafiq Ridhan Ali Razan tentu meninggalkan duka mendalam, terutama bagi keluarga, teman, dan komunitas pendaki. Di usia yang masih sangat muda, Syafiq menunjukkan keberanian dan kepedulian dengan berusaha mencari bantuan untuk temannya yang cedera.
Kisah Syafiq Gunung Slamet menjadi pengingat keras bahwa alam tidak pernah bisa diprediksi. Persiapan fisik, mental, serta perlengkapan navigasi adalah hal yang mutlak dalam setiap pendakian.
Banyak pihak berharap, tragedi ini bisa menjadi pelajaran agar para pendaki lebih berhati-hati dan tidak meremehkan risiko di gunung, seindah dan setenar apa pun jalurnya.
Perjalanan Syafiq Ridhan Ali Razan di Gunung Slamet berakhir dengan cara yang sangat menyedihkan, tetapi kisahnya akan selalu dikenang sebagai simbol keberanian dan kepedulian. Di tengah kerasnya alam, ia memilih untuk menolong temannya, meski harus menempuh jalan berbahaya seorang diri.
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan. Bagi kita semua, kisah Syafiq Gunung Slamet seharusnya menjadi pengingat bahwa keselamatan adalah prioritas utama dalam setiap petualangan alam. Jika kamu seorang pendaki, pastikan selalu mempersiapkan diri dengan matang, agar setiap perjalanan pulang bisa kembali dengan selamat.








