AS Serang Iran dengan B-52, Lebih dari 1.700 Target Dihancurkan dalam 72 Jam

Mataberita.co.id – Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki babak yang paling mengkhawatirkan sepanjang sejarah modern. Amerika Serikat kini secara resmi mengerahkan pesawat pengebom strategis B-52

Redaksi

AS Serang Iran dengan B-52, Lebih dari 1.700 Target Dihancurkan dalam 72 Jam

Mataberita.co.idEskalasi konflik di Timur Tengah memasuki babak yang paling mengkhawatirkan sepanjang sejarah modern. Amerika Serikat kini secara resmi mengerahkan pesawat pengebom strategis B-52 dalam serangan terkoordinasinya bersama Israel terhadap Iran sebuah langkah yang menandai intensitas baru dari operasi militer yang sudah berlangsung sejak akhir Februari 2026. Dunia menyaksikan dengan napas tertahan.

Dalam 72 jam pertama sejak operasi dimulai, AS mengklaim telah menghancurkan lebih dari 1.700 target di berbagai wilayah Iran. Angka ini melonjak drastis dibandingkan laporan 48 jam sebelumnya yang menyebut 1.200 target. Artinya, laju serangan justru semakin intensif, bukan mereda. Operasi ini diberi nama resmi Operasi Epic Fury, dan berdasarkan laporan Komando Pusat AS (CENTCOM), cakupan kehancurannya jauh melampaui ekspektasi awal.

Di tengah semua ini, laporan korban jiwa terus bertambah. Bulan Sabit Merah Iran mencatat sedikitnya 787 orang tewas akibat gelombang serangan AS-Israel. Dan konflik ini tidak berhenti satu arah Iran membalas dengan serangan rudal dan drone ke Israel serta pangkalan-pangkalan AS di kawasan Teluk. Situasi yang tadinya disebut “konflik terbatas” kini berubah menjadi perang terbuka yang penuh ketidakpastian.

Pertama Kali B-52 Dikerahkan: Apa Artinya?

Pengerahan pesawat pengebom B-52 dalam Operasi Epic Fury bukan keputusan sembarangan. Ini adalah pertama kalinya AS menggunakan B-52 dalam serangannya terhadap Iran, setelah sebelumnya mengandalkan pesawat pengebom siluman B-2 dan B-1 pada tahap-tahap awal operasi.

Kemampuan B-52 yang Membuat Iran Khawatir

Pesawat pengebom strategis B-52 Stratofortress dikenal sebagai salah satu aset udara paling tangguh dan serbaguna dalam arsenal militer Amerika. Pesawat ini mampu membawa amunisi dalam jumlah sangat besar mulai dari bom konvensional, bom bunker buster, hingga senjata jelajah jarak jauh yang bisa diluncurkan dari jarak aman tanpa harus menembus sistem pertahanan udara musuh.

Baca Juga:  Rating Pemain Wolves vs Aston Villa: João Gomes Bersinar di Molineux

Pengerahan B-52 setelah B-2 dan B-1 mengisyaratkan bahwa AS sedang memaksimalkan seluruh kapabilitas udara strategisnya secara berurutan dan terencana. B-2 digunakan untuk menembus pertahanan udara terintegrasi di tahap awal, B-1 untuk serangan presisi berikutnya, dan kini B-52 hadir dengan kapasitas angkut amunisi yang jauh lebih besar untuk memperluas jangkauan kehancuran.

CENTCOM merilis pencapaian harian melalui fact sheet resmi Operasi Epic Fury yang dikutip Al Arabiya pada Rabu, 4 Maret 2026, membenarkan penggunaan B-52 dalam serangan-serangan terbaru terhadap Iran. Meski waktu pasti pengerahan B-52 tidak diungkap secara spesifik, konfirmasinya sendiri sudah cukup mengirimkan pesan yang keras ke Teheran.

Daftar Target yang Diklaim Berhasil Dihancurkan AS

CENTCOM merinci sejumlah target strategis Iran yang diklaim telah berhasil dihancurkan dalam rangkaian serangan Operasi Epic Fury. Kehancuran infrastruktur militer Iran digambarkan sangat masif dan sistematis.

Infrastruktur Militer Iran yang Luluh Lantak

Target pertama dan paling signifikan yang dikonfirmasi hancur adalah markas besar Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) tulang punggung kekuatan militer non-konvensional Iran yang selama ini menjadi ujung tombak proyeksi kekuatan Teheran di kawasan Timur Tengah.

Selain itu, serangan AS juga diklaim telah menghancurkan pusat komando dan kontrol Iran, markas besar gabungan IRGC, markas besar pasukan Angkatan Udara IRGC, serta sistem pertahanan udara terpadu yang selama ini menjadi perisai utama wilayah udara Iran.

Di lini maritim, kapal-kapal Angkatan Laut Iran dan kapal selam milik Iran juga diklaim menjadi target yang berhasil dinetralisir. Ditambah dengan penghancuran situs-situs rudal balistik, situs rudal anti-kapal, dan kemampuan komunikasi militer Iran, gambaran yang muncul adalah upaya sistematis untuk melumpuhkan seluruh jaringan pertahanan dan kekuatan ofensif Iran sekaligus.

Tokoh-Tokoh Penting Iran yang Dilaporkan Tewas

Operasi Epic Fury tidak hanya menghancurkan infrastruktur fisik. Rentetan serangan AS-Israel juga dilaporkan menewaskan sejumlah tokoh penting dan pejabat tinggi Teheran.

Baca Juga:  Vonis Nikita Mirzani: Hakim Putuskan 4 Tahun Penjara, Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa

Khamenei Dilaporkan Tewas

Yang paling mengejutkan dan berdampak besar adalah laporan mengenai tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam salah satu gelombang serangan. Jika dikonfirmasi, ini akan menjadi salah satu peristiwa geopolitik paling monumental abad ini sebanding dengan kejatuhan pemimpin-pemimpin negara dalam konflik bersenjata besar sepanjang sejarah.

Kehilangan figur pemimpin tertinggi dalam sebuah teokrasi seperti Iran tentu akan memicu guncangan politik dan keagamaan yang sangat dalam, tidak hanya di dalam negeri tapi juga di seluruh jaringan proksi Iran di kawasan.

Balasan Iran: Rudal dan Drone Menghujani Israel dan Pangkalan AS

Perang ini tidak berjalan satu arah. Iran melancarkan aksi balasan dengan menembakkan rudal balistik dan drone ke berbagai target di Israel serta pangkalan-pangkalan militer AS yang tersebar di negara-negara Teluk.

Ancaman Selat Hormuz yang Mengguncang Pasar Global

Di tengah eskalasi ini, Iran juga mengancam menutup Selat Hormuz jalur pelayaran yang menjadi arteri vital perdagangan energi global. Seorang komandan senior Garda Revolusi Iran bahkan menyatakan jalur tersebut telah ditutup dan memperingatkan kapal-kapal yang mencoba melintas akan menjadi sasaran.

Merespons ancaman ini, Presiden AS Donald Trump menyatakan Angkatan Laut AS siap mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz jika diperlukan. Ancaman penutupan jalur ini langsung mengguncang pasar komoditas global harga minyak Brent melonjak signifikan merespons ketegangan yang terus meningkat.

Pasukan Tambahan AS Siap Dikirim ke Kawasan

Pemimpin Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, mengumumkan pada Senin, 2 Maret 2026, bahwa CENTCOM akan menerima penguatan pasukan tambahan dalam waktu dekat. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Washington belum berencana untuk mengakhiri operasi militernya dalam waktu singkat.

Operasi Epic Fury tampaknya dirancang bukan hanya sebagai serangan terbatas, melainkan sebagai upaya komprehensif untuk mengubah peta kekuatan militer di kawasan Timur Tengah secara permanen.

Konflik AS versus Iran ini sudah jauh melampaui batas yang pernah dibayangkan sebelumnya. Dengan korban jiwa yang terus bertambah, infrastruktur militer Iran yang diklaim luluh lantak, dan ancaman terhadap jalur energi global yang semakin nyata, dunia sedang menyaksikan salah satu krisis geopolitik paling serius dalam beberapa dekade terakhir. Pertanyaan terbesar yang kini menggantung: sampai di mana batas operasi ini, dan bagaimana dampaknya terhadap stabilitas kawasan dan ekonomi global? Pantau terus perkembangan terbaru konflik AS-Iran hanya di sini!

Ikuti Kami di Google News

Related Post

rajadewa138