MataBerita – Bitcoin kembali bikin pasar keuangan global bergairah. Pada perdagangan Kamis (26/2/2026) pagi, harga aset kripto terbesar di dunia itu akhirnya Bitcoin Tembus Hingga USD68.000, level yang terakhir disentuh sebelum koreksi tajam pertengahan Februari lalu.
Lonjakan ini bukan sekadar kenaikan biasa. Data menunjukkan ada kombinasi kuat antara likuidasi besar-besaran posisi short, masuknya dana institusi melalui ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat (AS), serta membaiknya sentimen risiko global.
Tak hanya Bitcoin, mayoritas aset kripto utama ikut melesat dua digit. Saham-saham terkait kripto di Wall Street pun bergerak searah, menandakan pasar kripto kini semakin terintegrasi dengan sistem keuangan tradisional.
Bitcoin Tembus Hingga USD68.000, Kapitalisasi Kripto Global Melonjak
Berdasarkan data CoinMarketCap pada Kamis (26/2/2026), kapitalisasi pasar kripto global naik 6,72% menjadi USD2,36 triliun.
Harga Bitcoin melonjak 6,54% ke level USD68.324 per koin atau sekitar Rp1,14 miliar (kurs Rp16.767). Kenaikan ini terjadi setelah sebelumnya Bitcoin sempat tertekan dan turun di bawah USD63.000 akibat sentimen bearish global serta menurunnya minat risiko investor.
Tak hanya BTC, sejumlah kripto besar juga mencatatkan penguatan signifikan:
- Ethereum naik 11,44% ke USD2.069,68
- Solana melonjak 11,73% ke USD88
- Dogecoin menguat 11,28% ke USD0,1
- BNB naik 8,1% ke USD631
- XRP menguat 6,96% ke USD1,44
Sementara itu, CoinDesk 20 Index yang merepresentasikan 20 aset kripto terbesar turut melesat 8,27%.
Likuidasi Short USD400 Juta Jadi Pemicu Reli
Salah satu pendorong utama reli kali ini adalah fenomena short squeeze. Data dari CoinGlass menunjukkan hampir USD400 juta posisi short leveraged dilikuidasi dalam 24 jam terakhir.
Artinya, banyak trader yang sebelumnya bertaruh harga akan turun terpaksa menutup posisi mereka karena harga justru naik tajam. Proses penutupan posisi ini mendorong pembelian paksa (forced buying), sehingga mempercepat kenaikan harga.
Markus Thielen dari 10x Research menjelaskan bahwa reli ini tidak lepas dari tingginya short interest sebelumnya.
“Banyak saham dan aset kripto sebelumnya memiliki short interest tinggi dari hedge fund, sehingga ketika sentimen membaik, pembalikan harga bisa terjadi sangat cepat,” ujar Markus Thielen.
Fenomena serupa pernah terjadi pada kuartal IV 2023 dan awal 2024, terutama setelah ETF spot Bitcoin pertama kali mendapat persetujuan regulator di AS.
Sinyal Kuat dari ETF Spot Bitcoin di AS
Arus dana institusional kembali menunjukkan tanda-tanda menguat. ETF spot Bitcoin di AS mencatat inflow sebesar USD257,7 juta pada Selasa (24/2/2026), tertinggi sejak 6 Februari 2026.
Persetujuan ETF spot Bitcoin oleh U.S. Securities and Exchange Commission pada 2024 memang menjadi titik balik penting dalam sejarah pasar kripto. Sejak saat itu, pergerakan harga Bitcoin semakin dipengaruhi aliran dana institusi, bukan hanya investor ritel.
Masuknya dana ke ETF menunjukkan bahwa investor institusional kembali aktif setelah sempat berhati-hati sepanjang Februari.
Coinbase Premium Kembali Positif
Indikator Coinbase Premium Index juga kembali ke zona positif setelah lebih dari 40 hari berada di wilayah negatif.
Indikator ini mengukur selisih harga Bitcoin di bursa Coinbase dibandingkan harga global, dan kerap dijadikan proksi partisipasi investor institusi AS. Ketika indeks ini positif, artinya permintaan dari investor AS cenderung lebih kuat.
Banyak analis menilai kombinasi inflow ETF dan kembalinya premium Coinbase menjadi sinyal bahwa kepercayaan pasar mulai pulih.
Crypto Fear & Greed Beranjak dari Extreme Fear
Sepanjang Februari, indeks Crypto Fear & Greed sempat berada di level “Extreme Fear”. Kondisi tersebut biasanya mencerminkan dominasi sentimen negatif dan kehati-hatian tinggi dari investor.
Secara historis, fase ketakutan ekstrem sering menjadi area akumulasi sebelum terjadi pembalikan arah harga. Kini, dengan harga Bitcoin kembali mendekati level tertinggi siklus sebelumnya, pasar mulai menunjukkan tanda stabilisasi.
Menariknya, sejumlah trader proprietary menilai reli kali ini relatif lebih sehat dibanding lonjakan berbasis leverage tinggi. Funding rate kontrak perpetual Bitcoin masih berada di bawah level netral, yang berarti kenaikan belum sepenuhnya didorong spekulasi berlebihan.
Saham Kripto dan Wall Street Ikut Menguat
Euforia kripto juga menjalar ke pasar saham AS. Beberapa emiten yang terkait langsung dengan industri kripto mencatat penguatan signifikan:
- Coinbase (COIN) naik 13%
- Circle (CRCL) melonjak 29% setelah melaporkan laba di atas ekspektasi
- MicroStrategy (MSTR) naik sekitar 7–8%
- Galaxy Digital (GLXY) menguat di kisaran serupa
- MARA Holdings dan Bitfarms naik 6–7%
Di saat yang sama, indeks saham utama AS juga bergerak positif. Indeks S&P 500 naik 0,7%, sementara Nasdaq 100 menguat 1,2% pada sesi awal perdagangan.
Korelasi ini menunjukkan bahwa pasar kripto kini semakin sensitif terhadap sentimen risiko global, suku bunga, dan arus modal lintas aset.
Apa Artinya Bagi Investor?
Dengan Bitcoin Tembus Hingga USD68.000, pasar kripto kembali mendekati puncak siklus sebelumnya. Kombinasi inflow ETF, likuidasi short besar, serta membaiknya sentimen institusi menjadi fondasi jangka pendek yang cukup kuat.
Namun demikian, investor tetap perlu memperhatikan volatilitas tinggi yang melekat pada aset kripto. Reli berbasis short squeeze cenderung cepat dan tajam, tetapi juga bisa disertai koreksi teknikal.
Secara struktural, pergerakan Bitcoin kini jauh lebih dipengaruhi dinamika makroekonomi dan arus dana institusional dibanding era 2020–2021. Hal ini membuat pasar kripto semakin matang, tetapi juga semakin terhubung dengan gejolak sistem keuangan global.
Bagi investor jangka panjang, kembalinya minat institusi bisa menjadi indikator penting bahwa kepercayaan terhadap aset digital mulai pulih. Sementara bagi trader jangka pendek, momentum volatilitas tetap membuka peluang—dengan risiko yang sepadan.








