Geger! Mantan Penyiar Radio Gugat Google karena Suara Dipakai untuk AI

Mataberita.co.id – Dunia radio kembali jadi sorotan. Bukan karena program baru atau rating siaran yang melonjak, melainkan karena gugatan hukum yang menyeret nama besar di

Redaksi

Geger! Mantan Penyiar Radio Gugat Google karena Suara Dipakai untuk AI

Mataberita.co.id – Dunia radio kembali jadi sorotan. Bukan karena program baru atau rating siaran yang melonjak, melainkan karena gugatan hukum yang menyeret nama besar di industri teknologi global. Kali ini, isu yang muncul bukan sekadar soal hak cipta lagu atau konten siaran, melainkan soal suara manusia yang diduga dipakai untuk melatih sistem kecerdasan buatan.

Kasus ini bermula ketika seorang mantan penyiar radio ternama di Amerika Serikat merasa suaranya “hidup” kembali dalam bentuk yang tak pernah ia setujui. Ia mengaku menerima pesan dari banyak orang yang mengatakan bahwa suara dalam sebuah fitur AI terdengar sangat mirip dengannya. Dugaan itu kemudian berkembang menjadi gugatan resmi terhadap raksasa teknologi dunia.

Perkara ini pun memantik perdebatan luas: sejauh mana perusahaan teknologi boleh menggunakan data suara untuk mengembangkan AI? Dan bagaimana posisi para profesional radio yang selama ini mengandalkan karakter vokal sebagai identitas utama mereka?

Kronologi Gugatan: Dari Studio Radio ke Ruang Sidang

Kasus ini melibatkan David Greene, mantan host program Morning Edition milik NPR sekaligus pembawa acara Left, Right & Center di stasiun radio KCRW. Greene dikenal luas di dunia radio Amerika Serikat karena gaya penyampaiannya yang khas dan suara yang kuat secara karakter.

Ia menggugat Google beserta induk perusahaannya, Alphabet, ke Pengadilan Tinggi California di Santa Clara County. Dalam dokumen gugatannya, Greene menuduh bahwa suaranya telah digunakan tanpa izin untuk melatih dan mengembangkan produk AI milik Google.

Produk yang dimaksud adalah NotebookLM, sebuah asisten riset berbasis AI yang dirancang untuk membantu pengguna merangkum dan mengolah dokumen digital.

Baca Juga:  Cara Menggunakan Braintext AI Gratis Untuk Membuat Makalah

Fitur Audio Overviews yang Jadi Sorotan

Pada musim gugur 2024, Google menambahkan fitur bernama Audio Overviews di NotebookLM. Fitur ini memungkinkan sistem menghasilkan konten audio bergaya podcast berdasarkan dokumen yang diunggah pengguna.

Bagi banyak orang, ini adalah inovasi menarik. Bayangkan file riset panjang bisa berubah menjadi percakapan audio yang enak didengar, seperti program radio atau podcast profesional.

Namun bagi Greene, fitur inilah yang memicu masalah. Setelah Audio Overviews dirilis, ia mulai menerima pesan dari pendengar dan kolega yang mengatakan bahwa salah satu suara pria dalam output audio tersebut terdengar sangat mirip dengan suaranya.

Analisis Forensik Suara: Seberapa Mirip?

Merasa klaimnya perlu dibuktikan secara ilmiah, Greene menyewa perusahaan forensik independen yang memiliki spesialisasi dalam pengenalan suara.

Perusahaan tersebut diminta membandingkan rekaman suara Greene dengan suara yang digunakan dalam fitur Audio Overviews NotebookLM. Hasil analisis menunjukkan tingkat keyakinan antara 53 hingga 60 persen (dari skala minus 100 hingga 100 persen) bahwa suara Greene digunakan untuk melatih sistem AI tersebut.

Angka ini memang tidak menunjukkan kepastian mutlak. Namun dalam konteks forensik audio, temuan semacam itu cukup untuk memunculkan pertanyaan serius mengenai sumber data pelatihan AI.

Bantahan dari Google

Menanggapi gugatan tersebut, Google membantah seluruh tuduhan. Juru bicara perusahaan menyatakan bahwa klaim Greene tidak berdasar.

Menurut Google, suara pria yang digunakan dalam fitur Audio Overviews berasal dari aktor profesional berbayar yang secara khusus direkrut untuk proyek tersebut. Perusahaan juga menegaskan bahwa mereka tidak menggunakan suara Greene tanpa izin.

Meski demikian, Google tidak mengungkap identitas aktor yang dimaksud. Hal inilah yang membuat Greene tetap melanjutkan proses hukum.

Dampak bagi Industri Radio dan Profesional Suara

Kasus ini tidak hanya soal satu individu melawan perusahaan teknologi besar. Isunya jauh lebih luas, terutama bagi dunia radio dan industri penyiaran.

Suara sebagai Aset Utama

Dalam dunia radio, suara adalah identitas. Berbeda dengan televisi yang mengandalkan visual, penyiar radio membangun reputasi dan kredibilitas melalui karakter vokal, intonasi, dan gaya berbicara.

Baca Juga:  Inovasi Terbaru AI Google, Gemini 2.5 Kini Bisa Mengakses Web Layaknya Manusia

Jika suara dapat ditiru atau direplikasi oleh AI tanpa izin, maka nilai ekonomi dan eksklusivitas seorang penyiar bisa tergerus. Ini membuka diskusi baru tentang hak atas suara sebagai bagian dari kekayaan intelektual.

Preseden dari Industri Hiburan

Kasus ini bukan yang pertama. Pada 2024, aktris Scarlett Johansson juga menyampaikan keberatan terhadap suara AI di chatbot milik OpenAI yang dianggap mirip dengan suaranya. Dalam kasus tersebut, OpenAI menarik suara AI yang dipermasalahkan dari platformnya.

Di sisi lain, ada pula pendekatan berbeda. Perusahaan AI suara seperti ElevenLabs justru menjalin kerja sama lisensi resmi dengan sejumlah selebritas, termasuk Matthew McConaughey dan Michael Caine.

Model lisensi ini dianggap lebih transparan dan memberikan kompensasi yang jelas kepada pemilik suara asli.

AI, Data, dan Batas Etika Teknologi

Perkembangan kecerdasan buatan memang sangat pesat. Sistem AI membutuhkan data dalam jumlah besar untuk belajar, termasuk data suara. Namun pertanyaannya adalah: dari mana data itu diperoleh dan apakah ada persetujuan eksplisit?

Dalam konteks radio, banyak siaran tersedia secara publik, baik melalui streaming maupun arsip digital. Secara teknis, data tersebut bisa saja diakses. Namun ketersediaan publik tidak otomatis berarti boleh digunakan untuk pelatihan model komersial tanpa izin.

Gugatan ini berpotensi menjadi tonggak penting dalam penentuan batas hukum penggunaan data suara di era AI. Jika pengadilan memutuskan bahwa suara merupakan bagian dari hak yang dilindungi secara ketat, maka perusahaan teknologi harus lebih berhati-hati dalam mengumpulkan dan memproses data audio.

Bagaimana Kelanjutan Kasus Ini?

Hingga saat ini, belum ada keputusan final dari pengadilan. Proses hukum di Santa Clara County masih berjalan dan bisa memakan waktu panjang.

Apa pun hasilnya nanti, kasus ini sudah memberikan sinyal kuat bahwa industri radio dan teknologi tidak lagi berjalan di jalur terpisah. Keduanya kini saling bersinggungan secara langsung.

Bagi para profesional radio, ini menjadi momentum untuk lebih memahami hak atas suara mereka. Sementara bagi perusahaan teknologi, transparansi dan mekanisme lisensi yang jelas bisa menjadi kunci untuk menghindari konflik serupa di masa depan.

Ikuti Kami di Google News

Related Post

rajadewa138