MataBerita – Harga cabai kembali jadi perhatian menjelang Ramadan 1447 Hijriah. Di sejumlah pasar, cabai rawit merah terpantau masih bertahan di level tinggi, bahkan menyentuh Rp76.300 per kilogram di beberapa wilayah pada awal Februari 2026. Kenaikan harga komoditas dapur ini menjadi indikator penting bagi stabilitas pangan sekaligus daya beli masyarakat.
Di tengah kondisi tersebut, data resmi menunjukkan dinamika harga pangan sebenarnya tidak sepenuhnya seragam. Ada sinyal deflasi bulanan pada awal tahun, namun inflasi tahunan masih berada di atas tiga persen. Artinya, tekanan harga secara keseluruhan belum sepenuhnya reda meski ada penurunan pada periode tertentu.
Menjelang Ramadan, tren ini menjadi sorotan karena konsumsi rumah tangga biasanya meningkat. Komoditas seperti cabai, telur, ayam, dan beras memiliki peran besar dalam pengeluaran masyarakat, sehingga setiap perubahan harga akan langsung terasa di dapur rumah tangga.
Harga Cabai Kian Menyala di Awal 2026
Data pemantauan harga pangan nasional awal Februari 2026 menunjukkan cabai rawit merah di beberapa daerah mencapai Rp76.300 per kilogram. Di wilayah lain, harga masih berada di kisaran Rp69.000 per kilogram. Angka ini menunjukkan harga cabai belum kembali ke level rendah meski pasokan relatif tersedia.
Kondisi ini sejalan dengan rilis terbaru dari Badan Pusat Statistik yang mencatat adanya deflasi bulanan sebesar -0,15% pada Januari 2026. Penurunan harga terutama terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Meski begitu, secara tahunan inflasi Januari 2026 masih tercatat 3,55%. Artinya, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, harga barang dan jasa secara umum masih lebih tinggi.
Komoditas Pangan Bergerak Tidak Seragam
Dalam rincian data BPS Januari 2026, beberapa komoditas pangan justru menyumbang deflasi bulanan. Cabai merah mencatat andil deflasi sebesar -0,16%, cabai rawit -0,08%, bawang merah -0,07%, dan daging ayam ras -0,05%.
Penurunan ini menunjukkan harga relatif lebih rendah dibanding bulan sebelumnya. Namun jika ditarik ke periode Desember 2025, kelompok makanan dan minuman justru menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar. Kelompok volatile food bahkan menyumbang sekitar 0,45 poin persentase terhadap inflasi saat itu.
Pergerakan harga yang tidak linear ini dipengaruhi banyak faktor, mulai dari musim panen, distribusi logistik, hingga permintaan musiman menjelang hari besar keagamaan.
Tekanan Harga di Daerah Berbeda-beda
Dinamika harga juga terlihat di tingkat regional. Beberapa daerah mencatat inflasi tahunan yang sedikit lebih tinggi dibanding nasional. Misalnya, salah satu wilayah di Kalimantan mencatat inflasi tahunan Januari 2026 sekitar 3,62% dengan komoditas penyumbang utama seperti beras, telur ayam ras, minyak goreng, dan cabai rawit.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa kondisi pasokan dan distribusi sangat memengaruhi harga di tingkat lokal. Wilayah yang bergantung pada pasokan dari luar daerah biasanya lebih rentan terhadap fluktuasi harga.
Faktor Distribusi dan Cuaca
Komoditas hortikultura seperti cabai sangat sensitif terhadap perubahan cuaca dan distribusi. Hujan berlebihan, gangguan panen, atau kendala transportasi bisa langsung mendorong kenaikan harga di pasar.
Selain itu, menjelang Ramadan, permintaan rumah tangga biasanya meningkat. Kebutuhan untuk sahur, berbuka, dan persiapan Idulfitri membuat konsumsi bahan pangan melonjak dalam waktu singkat.
Antara Deflasi Bulanan dan Inflasi Tahunan
Deflasi bulanan Januari 2026 menjadi salah satu yang terdalam dalam beberapa tahun terakhir. Secara statistik, ini mencerminkan penurunan harga dibanding Desember 2025. Namun inflasi tahunan 3,55% menunjukkan bahwa harga secara umum masih lebih tinggi dibanding Januari 2025.
Menurut Bank Indonesia, target inflasi nasional berada dalam kisaran 2,5% ±1%. Angka 3,55% masih berada dalam rentang tersebut meski mendekati batas atas.
Pemerintah pun menyiapkan langkah antisipasi. Salah satunya dengan meningkatkan target Cadangan Beras Pemerintah menjadi 4 juta ton, naik dari sebelumnya 3 juta ton. Cadangan ini akan digunakan untuk operasi pasar dan intervensi distribusi jika terjadi lonjakan harga signifikan.
Peran Cadangan Beras
Beras memiliki bobot besar dalam pembentukan inflasi pangan. Karena itu, penguatan cadangan menjadi salah satu strategi utama menjaga stabilitas harga. Dengan stok yang cukup, pemerintah dapat menekan gejolak harga jika permintaan melonjak.
Namun stabilitas harga tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan stok. Distribusi yang lancar, biaya logistik, dan kondisi cuaca tetap menjadi faktor penting yang memengaruhi harga di tingkat konsumen.
Ramadan dan Lonjakan Konsumsi Rumah Tangga
Secara historis, Ramadan identik dengan peningkatan konsumsi. Permintaan terhadap bahan pangan naik untuk kebutuhan sahur, berbuka, dan persiapan Lebaran. Dalam struktur ekonomi nasional, konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh produk domestik bruto di Indonesia.
Kenaikan harga pada komoditas dengan frekuensi konsumsi tinggi seperti cabai, telur, ayam, dan beras akan langsung berdampak pada pengeluaran rutin masyarakat. Karena itu, pergerakan harga pangan menjelang Ramadan menjadi indikator penting bagi stabilitas ekonomi domestik.
Harga Cabai Kian Menyala, Apa Dampaknya?
Harga cabai yang masih berada di atas Rp70.000 per kilogram menunjukkan volatilitas komoditas hortikultura masih tinggi. Meski deflasi bulanan terjadi, harga di tingkat konsumen belum sepenuhnya turun.
Bagi rumah tangga, kondisi ini berarti pengeluaran pangan tetap perlu diantisipasi. Sementara bagi pemerintah dan pelaku pasar, data inflasi Januari 2026 menjadi indikator awal kondisi harga menjelang puncak konsumsi Ramadan.
Antara Pasokan dan Permintaan
Menjelang Ramadan 1447 H, keseimbangan antara pasokan dan permintaan akan menjadi faktor utama penentu harga. Jika pasokan terjaga dan distribusi lancar, lonjakan harga bisa ditekan. Namun jika permintaan melonjak tajam sementara pasokan terganggu, harga berpotensi kembali naik.
Data awal 2026 menunjukkan stabilitas makro masih terjaga. Inflasi berada dalam target, dan deflasi bulanan sempat terjadi. Namun harga komoditas tertentu seperti cabai rawit masih berada pada level tinggi di beberapa wilayah.
Bagi rumah tangga, pelaku usaha, dan pembuat kebijakan, angka-angka ini menjadi acuan dalam menyusun strategi menghadapi Ramadan. Karena di balik tradisi dan peningkatan konsumsi, stabilitas harga pangan tetap menjadi indikator penting kondisi ekonomi nasional.








