Mataberita.co.id – Harga emas Antam mencatatkan penurunan signifikan dalam sepekan terakhir meski situasi geopolitik Timur Tengah terus memanas. Berdasarkan data Logam Mulia, harga emas Antam turun Rp99.000 dari Rp2.992.000 per gram pada Senin 16 Maret menjadi Rp2.893.000 per gram pada Sabtu 21 Maret 2026. Harga buyback ikut merosot lebih dalam, turun Rp164.000 dari Rp2.774.000 menjadi Rp2.610.000 per gram. Tren serupa terjadi di Galeri24 dengan penurunan Rp82.000 menjadi Rp2.930.000 per gram.
Yang menarik, penurunan harga emas Antam ini terjadi justru di saat konflik bersenjata di Timur Tengah sedang berlangsung dan harga minyak dunia meroket. Secara historis, kondisi seperti ini seharusnya mendorong permintaan emas sebagai aset safe haven. Tapi kali ini berbeda, dan para ekonom sudah memberikan penjelasannya.
Bukan Safe Haven yang Melemah, Tapi Faktor Moneter yang Lebih Kuat
Ekonom dari CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengungkap bahwa tekanan utama terhadap harga emas bukan berasal dari geopolitik, melainkan dari dua faktor moneter: penguatan dolar AS dan ekspektasi suku bunga global yang masih tinggi.
“Ketika pasar mulai percaya bahwa The Fed akan menahan suku bunga lebih lama, imbal hasil obligasi naik dan ini langsung menekan emas karena emas tidak memberikan yield. Jadi opportunity cost-nya meningkat,” ujar Yusuf kepada kumparan, Minggu 22 Maret 2026.
Logikanya sederhana: ketika obligasi memberikan imbal hasil yang menarik, investor lebih memilih instrumen berbunga dibanding emas yang tidak menghasilkan yield apapun selama dipegang. Harga emas Antam yang turun dalam kondisi ini adalah konsekuensi langsung dari pergeseran preferensi investor tersebut.
Tapi Yusuf menegaskan ini bukan berarti fungsi safe haven emas melemah secara fundamental. “Ini menunjukkan bahwa fungsi safe haven-nya tidak hilang, tapi sedang dikalahkan oleh faktor moneter. Safe haven demand masih ada, hanya saja belum jadi faktor utama dalam pergerakan harga jangka pendek,” jelasnya.
Koreksi Sementara, Bukan Tren Turun Jangka Panjang
Kedua ekonom yang dikutip sama-sama menilai penurunan harga emas Antam saat ini bersifat sementara dan tidak mencerminkan melemahnya nilai dasar emas sebagai instrumen investasi.
Yusuf menyebut tekanan saat ini lebih ke pasar kertas atau paper gold, bukan nilai dasarnya. Permintaan struktural terhadap emas masih kuat, baik dari pembelian bank sentral global maupun instrumen investasi berbasis emas dalam jangka menengah hingga panjang.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menambahkan bahwa kenaikan harga energi akibat konflik Timur Tengah mendorong inflasi global, yang pada gilirannya memaksa bank sentral mempertahankan bahkan berpotensi menaikkan suku bunga. Kondisi ini memang menekan emas dalam jangka pendek, tapi juga memperkuat argumen bahwa koreksi ini tidak akan bertahan lama.
Ini Saat yang Tepat untuk Beli, Harga Bisa Tembus Rp3,5 Juta
Ibrahim justru melihat kondisi harga emas Antam yang sedang terkoreksi ini sebagai peluang investasi yang tidak boleh dilewatkan. “Pada saat sekarang itu terkoreksi, ya sebenarnya ini yang paling tepat untuk melakukan pembelian. Bayangkan harga logam mulia sampai di Rp2.893.000, artinya apa? Ini kesempatan bagi masyarakat untuk melakukan pembelian kembali terhadap logam mulia,” jelasnya.
Proyeksi Ibrahim untuk akhir 2026 cukup optimistis: harga emas masih berpotensi melesat hingga sekitar Rp3.500.000 per gram. Jika proyeksi ini terbukti akurat, mereka yang membeli di harga Rp2.893.000 saat ini berpotensi meraih keuntungan sekitar Rp607.000 per gram atau lebih dari 20 persen dalam satu tahun.
Tentu saja proyeksi investasi selalu mengandung ketidakpastian dan bergantung pada banyak faktor yang tidak bisa diprediksi sepenuhnya. Tapi dari perspektif dua ekonom yang dikutip, konsensusnya jelas: penurunan harga emas Antam saat ini adalah koreksi temporer yang didorong faktor moneter, bukan sinyal melemahnya nilai jangka panjang emas sebagai instrumen investasi.








