IHSG Diprediksi Menguat Hari Ini 24 Februari 2026, Berpeluang Uji Level 8.500

MataBerita – IHSG diprediksi menguat hari ini setelah berhasil ditutup naik signifikan pada awal pekan. Sentimen positif dari global dan domestik menjadi kombinasi yang mendorong

redaksi 2

MataBerita – IHSG diprediksi menguat hari ini setelah berhasil ditutup naik signifikan pada awal pekan. Sentimen positif dari global dan domestik menjadi kombinasi yang mendorong optimisme pelaku pasar.

Pada perdagangan Senin (23/2/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,5% ke level 8.396. Penguatan ini dinilai membuka ruang kenaikan lanjutan pada Selasa (24/2/2026), dengan potensi menguji area resistance 8.450 hingga 8.500.

Kondisi tersebut terjadi di tengah dinamika kebijakan perdagangan Amerika Serikat serta perbaikan indikator likuiditas domestik. Lantas, seberapa kuat peluang penguatan IHSG hari ini?

IHSG Ditutup Menguat, Momentum Teknikal Masih Positif

Secara teknikal, pergerakan IHSG menunjukkan sinyal yang cukup solid. Berdasarkan riset dari Phintraco Sekuritas, indeks berhasil bertahan di atas level rata-rata pergerakan 20 hari (MA20), yang kerap menjadi indikator tren jangka pendek.

Dalam ulasan resminya, analis Phintraco menyebut:

“IHSG ditutup di atas level MA20. Histogram MACD bergerak di teritori positif dengan dukungan volume beli. Selama mampu bertahan di atas 8.400, IHSG berpeluang menguji 8.450–8.500.”

Indikator MACD yang berada di zona positif menunjukkan momentum beli masih dominan. Meski begitu, Stochastic RSI mulai melambat dan mendekati area overbought, yang berarti potensi konsolidasi tetap perlu diantisipasi.

Level Psikologis 8.400 Jadi Kunci

Level 8.400 kini menjadi area psikologis penting bagi pelaku pasar. Penutupan di atas level ini memperkuat sinyal bullish jangka pendek.

Baca Juga:  Cuti Bersama 2026 Resmi Ditetapkan Total 25 Hari Libur dan Deretan Long Weekend

Secara historis, ketika IHSG mampu bertahan di atas resistance kunci dan disertai volume transaksi yang meningkat, peluang kenaikan lanjutan cenderung lebih terbuka. Namun, volatilitas global tetap menjadi faktor risiko yang harus dicermati.

Sentimen Global: Kebijakan Tarif AS Jadi Sorotan

Dari sisi global, pasar merespons positif keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang membatalkan pemberlakuan tarif resiprokal Presiden AS sebelumnya.

Meski demikian, Presiden AS Donald Trump menyatakan tetap akan menerapkan tarif global baru sebesar 10–15%. Kebijakan ini masih menjadi perhatian investor karena berpotensi memengaruhi arus perdagangan dan aliran modal global.

Dampak Tarif terhadap Pasar Negara Berkembang

Dalam beberapa periode sebelumnya, kebijakan tarif AS terbukti memicu volatilitas signifikan di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan arus keluar modal asing sempat terjadi saat tensi perdagangan global meningkat.

Namun kali ini, respons pasar domestik terlihat lebih resilien. Mayoritas indeks bursa Asia ditutup menguat pada perdagangan Senin, meski bursa China dan Jepang sedang libur. Sementara itu, indeks Eropa dan kontrak berjangka Wall Street terpantau melemah pada perdagangan siang waktu setempat.

Perbedaan respons ini menunjukkan bahwa investor domestik lebih fokus pada fundamental internal yang dinilai cukup solid.

Rupiah Menguat dan Likuiditas Meningkat

Dari dalam negeri, sentimen tambahan datang dari penguatan nilai tukar rupiah. Pada perdagangan Senin (23/2/2026), rupiah ditutup di level Rp16.802 per dolar AS di pasar spot.

Stabilitas nilai tukar menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor asing. Ketika rupiah relatif stabil, risiko investasi di pasar saham Indonesia cenderung lebih terkontrol.

Pertumbuhan Uang Beredar (M2) Meningkat

Data likuiditas juga menunjukkan perbaikan. Jumlah uang beredar luas (M2) pada Januari 2026 tumbuh 10% secara tahunan (year-on-year), meningkat dari 9,6% YoY pada Desember 2025.

Baca Juga:  Rekomendasi Saham Hari Ini Senin 10 November 2025: IHSG Menguat, Asing Masuk Rp920 Miliar

Akselerasi ini mengindikasikan adanya dukungan pembiayaan terhadap aktivitas ekonomi dan pasar keuangan. Likuiditas yang memadai biasanya menjadi bahan bakar bagi penguatan pasar saham, terutama dalam jangka pendek hingga menengah.

Secara makroekonomi, pertumbuhan M2 yang stabil sering kali berkorelasi dengan meningkatnya aktivitas kredit dan konsumsi, yang pada akhirnya menopang kinerja emiten di berbagai sektor.

Faktor MSCI dan Potensi Arus Modal Asing

Investor juga mencermati perkembangan proposal yang diajukan Bursa Efek Indonesia bersama Otoritas Jasa Keuangan kepada MSCI.

MSCI merupakan penyedia indeks global yang menjadi acuan dana investasi internasional. Setiap perubahan kebijakan, klasifikasi, atau penyesuaian metodologi dapat memengaruhi arus modal asing secara signifikan.

Jika proposal tersebut benar mendapat respons positif, peluang masuknya dana asing ke pasar saham Indonesia bisa semakin terbuka. Hal ini berpotensi menjadi katalis tambahan bagi IHSG dalam beberapa waktu ke depan.

Rekomendasi Saham Hari Ini

Untuk perdagangan Selasa (24/2/2026), Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham berbasis momentum teknikal dan sentimen sektoral, yaitu:

  • BBRI
  • BRPT
  • UNVR
  • ESSA
  • TINS

Saham-saham tersebut dinilai memiliki peluang pergerakan positif dalam jangka pendek, seiring dengan membaiknya sentimen pasar dan dukungan indikator teknikal.

Namun demikian, investor tetap disarankan menerapkan manajemen risiko, mengingat indikator mulai mendekati area jenuh beli.

Analisis: Seberapa Kuat Peluang Penguatan IHSG?

Melihat kombinasi faktor global yang relatif mereda dan data domestik yang solid, prospek IHSG diprediksi menguat hari ini masih terbuka.

Ada tiga faktor utama yang menopang optimisme:

  1. Momentum teknikal yang positif
  2. Stabilitas rupiah dan peningkatan likuiditas
  3. Potensi sentimen arus modal dari MSCI

Meski demikian, risiko eksternal dari kebijakan tarif AS tetap perlu diwaspadai. Jika tensi perdagangan kembali meningkat, volatilitas bisa muncul secara tiba-tiba.

Untuk jangka pendek, selama IHSG bertahan di atas 8.400, peluang menguji 8.450 hingga 8.500 masih cukup realistis. Investor jangka pendek bisa memanfaatkan momentum, sementara investor jangka panjang tetap fokus pada fundamental emiten dan diversifikasi portofolio.

Ikuti Kami di Google News

Related Post

rajadewa138