Nilai Mata Uang Iran Terus Merosot, dari 70 Rial per Dolar Sampai Tembus 1,4 Juta di Awal 2026

MataBerita – Nilai tukar mata uang Iran kembali menjadi sorotan dunia. Di awal 2026, rial Iran mencatat titik terendah baru setelah menembus level 1,4 juta

redaksi 2

MataBerita – Nilai tukar mata uang Iran kembali menjadi sorotan dunia. Di awal 2026, rial Iran mencatat titik terendah baru setelah menembus level 1,4 juta rial per dolar AS. Angka ini menegaskan krisis ekonomi yang sudah berlangsung puluhan tahun dan terus menekan kehidupan masyarakat Iran dari berbagai lapisan.

Jika ditarik ke belakang, kondisi ini terasa makin kontras. Pada masa Revolusi Iran 1979, 1 dolar AS hanya setara sekitar 70 rial. Artinya, dalam kurun lebih dari empat dekade, nilai mata uang Iran telah tergerus hingga sekitar 20 ribu kali lipat. Bagi warga Iran, pelemahan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan realitas sehari-hari yang berdampak langsung pada harga pangan, perumahan, hingga layanan kesehatan.

Kemerosotan terbaru ini juga terjadi di tengah situasi politik dan geopolitik yang tidak stabil. Demonstrasi di sejumlah wilayah, tekanan sanksi internasional, serta inflasi yang membandel membuat kepercayaan terhadap rial semakin rapuh. Para ekonom menilai, tanpa perubahan kebijakan yang signifikan, tekanan terhadap mata uang Iran masih akan berlanjut.

Rial Iran Tembus 1,4 Juta per Dolar AS

Fakta utama yang mencuri perhatian adalah nilai tukar rial yang mencapai sekitar 1.457.000 per dolar AS pada awal 2026. Data ini muncul setelah periode volatilitas tinggi di pasar valuta asing domestik, yang dipicu oleh ketidakpastian politik dan ekonomi.

Menurut laporan Euro News yang dikutip Rabu (14/1/2026), pelemahan ini memperpanjang tren depresiasi tajam yang sudah berlangsung lama. Sepanjang 2025 saja, para pengamat pasar memperkirakan rial kehilangan sekitar 45 persen nilainya. Kondisi tersebut membuat Iran masuk dalam daftar negara dengan pelemahan mata uang terburuk di dunia.

Baca Juga:  Iran Siapkan Serangan Balasan, AS–Israel Bahas Opsi Militer di Tengah Protes Nasional

Dari Revolusi 1979 hingga Krisis Berkepanjangan

Pada 1979, sebelum sanksi internasional dan isolasi ekonomi diberlakukan secara luas, perekonomian Iran relatif stabil. Namun, perubahan politik besar kala itu menjadi titik awal serangkaian tekanan eksternal dan internal.

Dalam empat dekade terakhir, rial terus melemah secara bertahap, dengan periode kejatuhan paling tajam terjadi saat sanksi diperketat. Dampaknya terasa nyata: tabungan masyarakat menyusut, daya beli turun drastis, dan sistem keuangan domestik kehilangan kepercayaan publik.

Sanksi Internasional Jadi Faktor Kunci

Sanksi internasional kerap disebut sebagai penyebab utama runtuhnya nilai mata uang Iran. Pada September 2025, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali memberlakukan sanksi setelah Dewan Keamanan gagal mengesahkan resolusi untuk mempertahankan keringanan sanksi yang sebelumnya berlaku.

Keringanan tersebut terkait dengan kesepakatan nonproliferasi nuklir yang bertujuan membatasi kemampuan Iran dalam mengembangkan senjata nuklir. Dengan dipulihkannya sanksi PBB, sejumlah pembatasan kembali diberlakukan.

Jenis Sanksi yang Diberlakukan

Langkah PBB mencakup embargo senjata konvensional, pembatasan terkait program rudal balistik, pembekuan aset tertentu, serta larangan perjalanan bagi individu yang masuk daftar sanksi. Di luar PBB, Uni Eropa juga menerapkan sanksi serupa, ditambah sanksi terkait catatan hak asasi manusia (HAM) Iran.

Selain itu, keterlibatan Iran dalam memasok drone ke Rusia yang digunakan dalam konflik Ukraina turut memperberat tekanan. Kombinasi sanksi ini membatasi akses Iran ke sistem keuangan global dan mempersempit ruang gerak perdagangan internasional.

Pendapatan Minyak Tergerus, Devisa Menyusut

Sebagai negara penghasil minyak, Iran sangat bergantung pada ekspor energi untuk mendatangkan devisa. Namun, sanksi membuat jalur penjualan minyak menjadi semakin mahal dan tidak efisien.

Menurut Iran Open Data, sebuah proyek jurnalisme data nirlaba, Iran kehilangan sekitar 20 persen dari potensi pendapatan ekspor minyaknya akibat upaya menghindari sanksi Amerika Serikat. Meski pengiriman ke negara-negara seperti China dan Malaysia meningkat, Iran terpaksa menjual minyak melalui jalur tidak langsung yang biayanya lebih tinggi.

Baca Juga:  Karier di Depan Mata: 5 Jurusan Paling Banyak Dicari untuk CPNS dan BUMN

Pendapatan minyak yang menyusut ini berdampak langsung pada cadangan devisa negara. Ketika pasokan dolar terbatas, tekanan terhadap rial otomatis meningkat, terutama di tengah permintaan tinggi dari pelaku usaha dan masyarakat.

Inflasi Tinggi, Daya Beli Tertekan

Kemerosotan nilai mata uang Iran tidak bisa dilepaskan dari inflasi yang sangat tinggi. Data resmi menunjukkan inflasi tahunan mencapai 42,2 persen pada Desember 2025, menjadikan Iran salah satu negara dengan inflasi tertinggi di dunia.

Dana Moneter Internasional (IMF), seperti dilaporkan Gulf News, memperkirakan rata-rata pertumbuhan harga konsumen sekitar 42 persen sepanjang 2025, naik dari sekitar 33 persen pada tahun sebelumnya. Kenaikan harga paling terasa pada sektor kebutuhan dasar.

Harga Pangan dan Kebutuhan Pokok Melonjak

Makanan, sewa rumah, transportasi, dan layanan kesehatan semuanya mencatat kenaikan dua digit. Iran juga sangat bergantung pada impor gandum, minyak goreng, pakan ternak, dan bahan baku farmasi.

Rial yang semakin lemah membuat biaya impor melonjak. Importir kemudian menaikkan harga untuk menjaga margin, yang pada akhirnya dibebankan kepada konsumen. Lingkaran ini menciptakan efek domino yang sulit dihentikan.

Hilangnya Kepercayaan pada Rial

Di tengah inflasi tinggi, masyarakat Iran cenderung mengalihkan tabungan mereka ke aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS, emas, atau properti. Pola ini sudah berulang selama bertahun-tahun dan semakin menguat saat krisis memburuk.

Para ekonom menilai, ketika permintaan terhadap mata uang asing meningkat, likuiditas rial di pasar domestik menyusut. Akibatnya, nilai tukar semakin tertekan dan biaya impor makin mahal. Selama inflasi belum bisa dikendalikan secara signifikan, tekanan terhadap rial diperkirakan akan terus berlanjut.

Apa yang Bisa Menentukan Arah ke Depan?

Menurut pengamat ekonomi, masa depan mata uang Iran bergantung pada beberapa faktor kunci. Pertama, kemampuan pemerintah menstabilkan inflasi melalui kebijakan moneter dan fiskal yang konsisten. Kedua, keberhasilan mengamankan arus masuk devisa yang berkelanjutan, terutama dari sektor energi.

Ketiga, yang tidak kalah penting, adalah pemulihan kepercayaan publik terhadap pengelolaan ekonomi. Tanpa kepercayaan, setiap kebijakan berisiko tidak efektif karena masyarakat akan terus mencari perlindungan nilai di luar rial.

Kemerosotan terbaru ini mencerminkan pola lama yang terus berulang. Selama tekanan struktural belum diatasi, nilai mata uang Iran kemungkinan masih akan menghadapi jalan terjal dalam waktu dekat.

Ikuti Kami di Google News

Related Post

rajadewa138