Potensi Karhutla 2027 Diwaspadai BNPB, Siklus Musim Kering Jadi Alarm Serius

Kebakaran hutan dan lahan memang bukan isu baru di Indonesia. Namun, setiap kali namanya disebut, kekhawatiran publik selalu ikut muncul. Asap, gangguan kesehatan, hingga kerugian

Redaksi

Potensi Karhutla 2027 Diwaspadai BNPB, Siklus Musim Kering Jadi Alarm Serius

Kebakaran hutan dan lahan memang bukan isu baru di Indonesia. Namun, setiap kali namanya disebut, kekhawatiran publik selalu ikut muncul. Asap, gangguan kesehatan, hingga kerugian ekonomi masih menjadi bayang-bayang yang sulit dilupakan.

Dalam beberapa tahun terakhir, tren kebakaran hutan dan lahan sebenarnya menunjukkan perbaikan. Data pemerintah mencatat luas lahan terbakar cenderung menurun. Meski begitu, kondisi ini bukan alasan untuk lengah, apalagi ketika faktor cuaca kembali memainkan peran besar.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kini memberi peringatan dini. Potensi karhutla besar disebut berpeluang kembali terjadi pada 2027, seiring masuknya siklus musim kering empat tahunan yang dinilai cukup ekstrem.

BNPB Ungkap Tren Karhutla Nasional

Peringatan ini disampaikan langsung oleh Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, dalam rapat kerja bersama Komisi VIII DPR RI. Ia memaparkan bahwa secara umum, tren kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mengalami penurunan sejak beberapa tahun terakhir.

Data Karhutla 2015–2025 Terus Menurun

BNPB mencatat, sejak 2015 hingga 2025, jumlah kejadian dan luas lahan yang terbakar relatif menurun. Hal ini dinilai sebagai hasil dari kerja sama lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat, daerah, TNI-Polri, hingga masyarakat.

Penurunan ini juga dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang lebih bersahabat. Curah hujan yang relatif stabil membuat risiko kebakaran tidak sebesar periode sebelumnya. Namun, menurut BNPB, tren positif ini tidak bisa dijadikan patokan jangka panjang.

Baca Juga:  Bumi Serpong Damai (BSDE): Lampaui Target, Catat Marketing Sales Rp 10,04 Triliun Sepanjang 2025 dan Untung Banyak

Siklus Musim Kering Empat Tahunan Jadi Tantangan

Di balik tren penurunan, ada satu faktor penting yang menjadi perhatian utama BNPB, yaitu pola siklus musim kering yang berulang setiap empat tahun.

Mengapa Tahun 2027 Dianggap Rawan?

Suharyanto menjelaskan bahwa potensi karhutla justru diprediksi meningkat pada 2027. Tahun tersebut diperkirakan menjadi puncak musim kering dalam siklus empat tahunan yang kerap memicu kebakaran besar.

Ia mencontohkan kejadian karhutla hebat pada 2015 yang dipengaruhi kondisi cuaca ekstrem. Setelah itu, situasi relatif lebih terkendali hingga 2018 karena curah hujan tinggi. Namun, lonjakan kembali terjadi pada 2019 akibat fenomena El Nino.

Pola ini menunjukkan bahwa faktor iklim sangat menentukan. Ketika musim kering datang bersamaan dengan suhu tinggi dan minim hujan, risiko kebakaran meningkat drastis.

Perbandingan Karhutla dari Tahun ke Tahun

Untuk memahami potensi ancaman 2027, penting melihat pola kejadian di tahun-tahun sebelumnya.

El Nino dan Dampaknya terhadap Karhutla

Pada 2019, fenomena El Nino menyebabkan suhu meningkat dan kelembapan tanah menurun. Kondisi ini membuat hutan dan lahan gambut sangat rentan terbakar. Sebaliknya, periode 2020 hingga 2022 relatif aman karena pengaruh La Nina yang membawa lebih banyak hujan.

Tahun 2023 sempat terjadi peningkatan karhutla, namun masih bisa dikendalikan. BNPB memprediksi 2024, 2025, dan 2026 cenderung lebih aman karena kondisi cuaca yang belum terlalu panas.

Namun, memasuki 2027, siklus kering diperkirakan mencapai puncaknya. Inilah yang membuat BNPB mulai membunyikan alarm lebih awal.

Langkah Antisipasi BNPB Hadapi Potensi Karhutla

Meski ancaman masih dua tahun lagi, BNPB menegaskan bahwa persiapan tidak bisa ditunda. Pencegahan sejak dini dinilai jauh lebih efektif dibanding penanganan saat kebakaran sudah meluas.

Baca Juga:  Kalender 2026 Lengkap dengan Tanggal Merah: Libur Nasional dan Hari Besar Keagamaan

Strategi Pencegahan dan Penanganan Dini

BNPB telah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif untuk menghadapi potensi karhutla besar. Beberapa di antaranya adalah penguatan satuan tugas darat di daerah rawan, operasi modifikasi cuaca, serta kesiapan armada udara.

Operasi modifikasi cuaca dilakukan untuk meningkatkan curah hujan buatan di wilayah berisiko. Sementara itu, helikopter water bombing disiagakan untuk pemadaman cepat ketika titik api mulai terdeteksi.

Peran Daerah dan Masyarakat

Selain upaya teknis, BNPB juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dan masyarakat. Edukasi tentang larangan pembakaran lahan, patroli terpadu, serta sistem peringatan dini berbasis teknologi menjadi kunci pencegahan.

Pengalaman di tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat lokal mampu menekan kebakaran sejak tahap awal.

Dampak Karhutla Jika Tidak Diantisipasi

Kebakaran hutan dan lahan bukan hanya soal api dan asap. Dampaknya bisa menjalar ke berbagai sektor kehidupan.

Ancaman Kesehatan dan Ekonomi

Asap karhutla dapat memicu gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak dan lansia. Aktivitas ekonomi juga terganggu, mulai dari transportasi udara hingga pariwisata. Tak jarang, dampaknya bahkan meluas ke negara tetangga.

Karena itu, peringatan dini soal potensi karhutla 2027 seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat pencegahan, bukan sekadar wacana tahunan.

Ikuti Kami di Google News

Related Post

rajadewa138