MataBerita – Kepemilikan saham PT Bumi Resources Tbk oleh Chengdong Investment Corporation (CIC) kini tinggal menyisakan porsi kecil. Berdasarkan keterbukaan informasi terbaru, aksi jual yang konsisten dalam beberapa bulan terakhir membuat kepemilikan CIC diperkirakan segera habis.
Per 30 Januari 2026, saham BUMI yang masih dimiliki CIC tersisa 10,44 miliar lembar atau setara 2,81% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Angka ini turun signifikan dibanding posisi akhir 2025 yang masih berada di atas 5%.
Jika tren penjualan berlanjut dengan kecepatan yang sama, pasar memperkirakan saham milik CIC di PT Bumi Resources Tbk bisa benar-benar habis pada awal hingga pertengahan Maret 2026. Lantas, bagaimana dampaknya terhadap pergerakan saham BUMI dan struktur kepemilikan perusahaan?
Kepemilikan Saham PT Bumi Resources Tbk per Januari 2026
Mengacu pada laporan resmi perusahaan, berikut komposisi pemegang saham utama BUMI:
Mach Energy (Hongkong) Limited
Menjadi pemegang saham terbesar dengan porsi 45,78% atau sekitar 170 miliar saham melalui PT INA Sekuritas Indonesia.
UBS Switzerland AG – Client Assets – 2049584001
Menguasai 5,1% atau sekitar 18,94 miliar saham melalui BUT Deutsche Bank AG.
Cris Developments Limited
Memiliki 4,86% atau setara 18,06 miliar saham.
Treasure Global Investments Limited
Mengantongi 3,18% atau sekitar 11,8 miliar saham.
Sementara itu, publik dan pemegang saham lainnya menguasai sekitar 38,26% atau 142,08 miliar saham.
Adapun kepemilikan CIC yang tercatat melalui PT Bank HSBC Indonesia kini hanya tersisa 2,81%.
Menghitung Kecepatan Penjualan Saham BUMI oleh CIC
Data menunjukkan bahwa sepanjang Desember 2025, CIC hampir setiap hari melepas saham BUMI. Jika ditarik lebih jauh:
- November 2025: 7,21%
- Akhir Desember 2025: 5,76%
- 30 Januari 2026: 2,81%
Artinya, terjadi penurunan sekitar 3,78% dalam kurun waktu 51 hari.
Rata-rata Kecepatan Jual
3,78% ÷ 51 hari ≈ 0,074% per hari
Dengan sisa 2,8% dan asumsi laju penjualan tetap sama:
2,8% ÷ 0,074% ≈ 38 hari
Estimasi matematis ini mengarah pada potensi habisnya kepemilikan CIC di awal hingga pertengahan Maret 2026.
Namun perlu dicatat, proyeksi ini berbasis asumsi kecepatan jual konstan. Perubahan strategi atau kondisi pasar bisa mempercepat maupun memperlambat proses divestasi tersebut.
Dampak ke Pergerakan Saham BUMI
Di kalangan pelaku pasar, CIC selama ini kerap disebut sebagai “standby seller” karena konsisten menjadi pihak yang melepas saham saat harga bergerak naik. Jika kepemilikan tersebut benar-benar habis, tekanan jual berpotensi berkurang.
Secara teori pasar, berkurangnya suplai saham dari pemegang besar dapat memperbaiki keseimbangan supply-demand. Likuiditas meningkat, free float bertambah, dan volatilitas bisa menjadi lebih sehat.
Menariknya, saham BUMI sendiri sudah menunjukkan penguatan signifikan. Dari titik terendah saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami tekanan besar, harga BUMI telah naik sekitar 30%.
Pada penutupan perdagangan Jumat, 13 Februari 2026, saham BUMI menguat sekitar 8% dalam sehari ke level Rp292 per saham.
Awal Mula Hubungan BUMI dan Chengdong
Untuk memahami konteks divestasi ini, kita perlu menengok sejarah hubungan keduanya.
Ekspansi Besar di Era Boom Batu Bara
Pada 2009, saat harga batu bara berada di puncak kejayaan, PT Bumi Resources Tbk melakukan ekspansi agresif. Dalam fase inilah dana dari Chengdong masuk, awalnya sebagai kreditur.
Permintaan batu bara global tinggi, optimisme pasar menguat, dan ekspansi berjalan cepat.
Krisis 2013–2015 dan Restrukturisasi
Situasi berubah drastis ketika harga batu bara anjlok pada periode 2013–2015. Beban utang membengkak dan perusahaan mengalami tekanan likuiditas berat.
Ekuitas bahkan sempat tercatat negatif hingga sekitar Rp40 triliun. Kondisi tersebut berujung pada proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) dan restrukturisasi besar pada 2017.
Skema restrukturisasi melibatkan konversi utang menjadi saham (debt-to-equity swap). Dari sinilah kreditur, termasuk Chengdong, resmi menjadi pemegang saham. Konsekuensinya, pemegang saham lama mengalami dilusi signifikan.
Menurut laporan resmi manajemen saat itu, restrukturisasi dilakukan untuk menjaga keberlangsungan usaha dan memperbaiki struktur permodalan perusahaan.
Fundamental PT Bumi Resources Tbk Kini Lebih Sehat
Berbeda dengan masa krisis, kondisi PT Bumi Resources Tbk saat ini dinilai jauh lebih stabil.
Beberapa perbaikan yang terlihat antara lain:
- Ekuitas kembali positif
- Perusahaan kembali mencetak laba
- Struktur utang lebih terkendali
- Diversifikasi bisnis ke sektor mineral, tidak hanya batu bara
Manajemen BUMI dalam beberapa kesempatan menegaskan komitmennya memperkuat tata kelola dan efisiensi operasional untuk menjaga kinerja jangka panjang.
Dalam konteks tersebut, aksi exit CIC bisa dipandang sebagai bagian dari siklus investasi yang wajar. Mereka masuk sebagai kreditur, berubah menjadi pemegang saham melalui restrukturisasi, dan kini merealisasikan investasinya ketika kondisi membaik.
Apakah Ini Sinyal Positif untuk Investor?
Dari perspektif pasar modal, ada beberapa implikasi penting:
1. Free Float Bertambah
Jika saham CIC seluruhnya terserap pasar, porsi kepemilikan publik meningkat. Ini bisa memperbaiki likuiditas dan daya tarik saham.
2. Tekanan Jual Berkurang
Tanpa keberadaan pemegang besar yang rutin melepas saham, potensi tekanan supply dapat menurun.
3. Dinamika Harga Lebih Sehat
Harga saham akan lebih mencerminkan sentimen fundamental dan kondisi pasar secara umum.
Meski demikian, investor tetap perlu memperhatikan faktor eksternal seperti harga batu bara global, kebijakan energi, serta pergerakan IHSG yang memengaruhi sektor tambang.
Kesimpulan
Kepemilikan saham Chengdong Investment Corporation di PT Bumi Resources Tbk kini tinggal 2,81% dan diperkirakan bisa habis dalam waktu sekitar satu bulan jika tren penjualan berlanjut.
Langkah exit ini bukan sesuatu yang mengejutkan mengingat latar belakang masuknya CIC sebagai kreditur yang kemudian menjadi pemegang saham melalui restrukturisasi. Dengan fundamental perusahaan yang kini lebih rapi, divestasi tersebut justru dapat menjadi momentum baru bagi dinamika saham BUMI.
Bagi investor, memahami konteks historis, struktur kepemilikan, serta kondisi fundamental menjadi kunci sebelum mengambil keputusan investasi.








