MataBerita – Pergerakan saham DEWA kembali menjadi perhatian pelaku pasar pada perdagangan Selasa, 30 Desember 2025. Di tengah tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), saham PT Darma Henwa Tbk bergerak fluktuatif dan berakhir di zona merah pada sesi pertama perdagangan.
Meski mencatat koreksi harian, kinerja saham DEWA secara jangka pendek dan menengah justru menunjukkan tren yang sangat agresif. Lonjakan harga signifikan dalam sepekan, sebulan, hingga sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd) menegaskan kuatnya minat investor terhadap emiten jasa pertambangan tersebut.
Koreksi saham ini terjadi beriringan dengan sentimen fundamental baru, yakni pengumuman fasilitas kredit jumbo senilai Rp5 triliun dari perbankan nasional. Informasi ini menjadi faktor penting yang dinilai pasar, baik dari sisi peluang pertumbuhan maupun risiko keuangan perusahaan ke depan.
Saham DEWA Melemah Saat IHSG Tertekan
Pada sesi pertama perdagangan Selasa (30/12/2025), saham DEWA ditutup melemah 0,72% ke level Rp685 per saham. Berdasarkan data perdagangan RTI, saham ini dibuka di posisi Rp680, sempat menyentuh level tertinggi Rp745, dan terendah Rp665 per saham.
Aktivitas transaksi terbilang sangat ramai. Saham DEWA diperdagangkan sebanyak 142.459 kali dengan volume mencapai 20,29 juta saham. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp1,4 triliun, mencerminkan tingginya likuiditas dan perhatian investor terhadap saham ini.
Pelemahan tersebut terjadi seiring dengan laju IHSG yang berada di zona merah pada sesi yang sama. Tekanan pasar secara umum turut memengaruhi sejumlah saham berkapitalisasi menengah dan saham yang sebelumnya mencatat kenaikan tajam.
Kinerja Saham DEWA Masih Kinclong Secara Historis
Meski terkoreksi secara harian, performa saham DEWA dalam beberapa periode terakhir terbilang luar biasa. Dalam lima hari perdagangan terakhir, saham ini tercatat melonjak 23,42%. Secara bulanan, kenaikannya bahkan mencapai 48,27%.
Yang paling mencolok adalah performa sepanjang tahun berjalan. Secara year to date (ytd), saham DEWA telah meroket hingga 480,51%. Kenaikan ekstrem ini menjadikan DEWA sebagai salah satu saham dengan performa terbaik di sektor penunjang pertambangan sepanjang 2025.
Lonjakan harga yang sangat agresif ini juga membuat sebagian investor memilih melakukan aksi ambil untung (profit taking), yang wajar terjadi setelah reli panjang dalam waktu relatif singkat.
Sentimen Kredit Rp5 Triliun dari BCA dan Bank Mandiri
Salah satu sentimen fundamental utama yang mengiringi pergerakan saham DEWA adalah pengumuman penandatanganan perjanjian fasilitas kredit dengan dua bank besar, yakni PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Berdasarkan keterbukaan informasi, total nilai fasilitas kredit yang diperoleh mencapai Rp5 triliun. Fasilitas ini terbagi ke dalam dua komponen utama, yaitu kredit investasi dan kredit modal kerja.
Untuk kredit investasi, nilainya mencapai Rp3,39 triliun yang terbagi dalam tranche A sebesar Rp2,14 triliun dan tranche B sebesar Rp1,24 triliun. Jangka waktu fasilitas ini adalah lima tahun sejak penandatanganan perjanjian, dengan suku bunga compounded INDONIA 90 hari ditambah margin, atau efektif sekitar 6,75%.
Sementara itu, fasilitas kredit modal kerja diberikan sebesar Rp1,61 triliun dengan tenor dua tahun dan skema suku bunga yang sama, yakni compounded INDONIA 90 hari plus margin (efektif 6,75%).
Dampak Kredit terhadap Likuiditas dan Operasional
Manajemen PT Darma Henwa Tbk menegaskan bahwa fasilitas pinjaman ini memang akan menambah kewajiban perseroan, namun di sisi lain berdampak positif terhadap likuiditas dan fleksibilitas keuangan perusahaan.
Direktur PT Darma Henwa Tbk, Mukson Arif Rosyidi, menyampaikan bahwa dana pinjaman ini dirancang untuk mendukung pembiayaan operasional dan meningkatkan produktivitas kerja perseroan. Menurutnya, dukungan perbankan berskala besar ini menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan usaha.
“Fasilitas pinjaman yang diterima akan berdampak pada peningkatan produktivitas operasional perseroan dan semakin baiknya kelangsungan usaha perseroan,” ujar Mukson dalam pernyataan resminya.
Status Transaksi Material dan Kepatuhan Regulasi
Dari sisi regulasi, manajemen memastikan bahwa transaksi fasilitas kredit ini tidak termasuk transaksi afiliasi dan tidak mengandung benturan kepentingan. Hal tersebut mengacu pada ketentuan Otoritas Jasa Keuangan melalui POJK Nomor 42/POJK.04/2020 tentang transaksi afiliasi dan transaksi benturan kepentingan.
Mukson menjelaskan, nilai fasilitas kredit tersebut memang melebihi 50% dari total ekuitas perseroan per 31 Desember 2024 yang tercatat sebesar Rp3,31 triliun. Dengan demikian, transaksi ini dikategorikan sebagai transaksi material sebagaimana diatur dalam POJK Nomor 17/POJK.04/2020.
Namun, transaksi ini termasuk dalam kategori transaksi material yang dikecualikan. Pasalnya, fasilitas pinjaman diperoleh langsung dari bank dan disertai jaminan langsung kepada pihak perbankan. Dengan dasar tersebut, perseroan tidak diwajibkan menggunakan jasa penilai independen maupun memperoleh persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Riwayat Fasilitas Kredit Sebelumnya dari BCA
Sebelum fasilitas Rp5 triliun diumumkan, Darma Henwa juga telah mengantongi fasilitas kredit lain dari BCA dengan total nilai Rp1 triliun. Informasi tersebut disampaikan melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 21 Desember 2025.
Fasilitas kredit senilai Rp1 triliun itu terbagi menjadi kredit modal kerja sebesar Rp850 miliar dengan tenor dua tahun, serta kredit investasi senilai Rp150 miliar dengan tenor lima tahun. Keduanya dikenakan suku bunga efektif sekitar 7% per tahun.
Dana kredit investasi tersebut dialokasikan untuk pembelian unit alat berat baru, sementara kredit modal kerja digunakan untuk mendukung pengambilalihan pekerjaan subkontraktor, peningkatan volume proyek, serta pengembangan proyek ke depan.
Analisis Pasar: Peluang dan Risiko Saham DEWA
Dari sudut pandang pasar modal, kombinasi antara lonjakan harga saham yang ekstrem dan tambahan utang dalam jumlah besar menjadi dua sisi mata uang yang perlu dicermati investor. Di satu sisi, fasilitas kredit jumbo membuka ruang ekspansi dan peningkatan kinerja operasional. Di sisi lain, beban bunga dan kewajiban jangka menengah menjadi faktor risiko yang tidak bisa diabaikan.
Analis menilai, koreksi saham DEWA dalam jangka pendek tergolong wajar setelah reli ratusan persen secara ytd. Investor cenderung menunggu kepastian realisasi penggunaan dana kredit dan dampaknya terhadap kinerja keuangan sebelum kembali mengerek harga lebih tinggi.
Kesimpulan
Pelemahan saham DEWA di tengah tekanan IHSG tidak serta-merta mencerminkan memburuknya fundamental perusahaan. Justru, di balik koreksi tersebut, Darma Henwa tengah memasuki fase penting dengan dukungan pendanaan besar dari perbankan nasional.
Ke depan, arah pergerakan saham DEWA akan sangat ditentukan oleh kemampuan perseroan mengelola tambahan liabilitas ini secara efektif dan menerjemahkannya menjadi pertumbuhan kinerja yang berkelanjutan. Bagi investor, keseimbangan antara potensi imbal hasil dan risiko tetap menjadi kunci utama dalam mencermati saham ini.








