MataBerita – Kabar duka datang dari dunia musik Tanah Air. Aan Kurnia, yang lebih dikenal publik sebagai Apoy, gitaris Wali Band, tengah berduka setelah ayahandanya, H. Aceng Madari bin Ibrahim, meninggal dunia pada Rabu, 4 Februari 2026. Kepergian sosok ayah yang sangat berarti ini meninggalkan luka mendalam, tak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi rekan dan penggemar Wali Band.
Informasi wafatnya H. Aceng Madari pertama kali disampaikan melalui unggahan di akun Instagram pribadi Apoy dan akun resmi Wali Band. Unggahan tersebut langsung dibanjiri ucapan belasungkawa dari musisi, figur publik, hingga para penggemar yang selama ini mengikuti perjalanan karier Apoy bersama Wali.
Momen paling menyentuh terjadi saat Apoy ikut mengantarkan dan menurunkan langsung jenazah sang ayah ke liang kubur. Tangisan, doa, dan ketegaran yang ia tunjukkan menjadi potret nyata hubungan emosional seorang anak dengan ayah yang membesarkannya sejak kecil.
Kabar Duka Disampaikan Lewat Media Sosial
Unggahan Resmi dari Apoy dan Wali Band
Kabar meninggalnya H. Aceng Madari bin Ibrahim disampaikan melalui unggahan resmi yang bernuansa duka dan doa. Dalam pernyataan tersebut, keluarga besar Wali Band turut menyampaikan belasungkawa mendalam.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Segenap keluarga besar Wali Care dan Wali Indonesia turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya ke Rahmatullah Ayahanda H. Aceng Madari bin Ibrahim,” tulis pihak Wali Band.
Unggahan tersebut juga disertai doa agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, serta kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkan untuk menghadapi masa duka ini.
Sebagai band yang telah puluhan tahun dikenal publik, Wali Band memang kerap menunjukkan sisi religius dan kekeluargaan, termasuk dalam menyikapi kabar duka yang menimpa salah satu personelnya.
Pesan Mengharukan Apoy untuk Sang Ayah
Unggahan Instagram Stories yang Menyentuh
Tak hanya unggahan resmi, Apoy juga menyampaikan isi hatinya lewat Instagram Stories. Pesan tersebut menggambarkan kedekatan emosional antara dirinya dan sang ayah, sekaligus menjadi refleksi tentang peran seorang bapak dalam kehidupan anak.
“Mungkin memang ibu yang mengandung selama sembilan bulan, tapi suaramu lah yang pertama kudengar di dunia. Mungkin memang surga ada di bawah telapak kaki ibu, tapi dari setiap kerja keras dan keringatmu adalah bukti cinta kepadaku, Bapak,” tulis Apoy.
Pesan ini menyentuh banyak orang karena menggambarkan realitas yang sering luput disadari: peran ayah yang bekerja dalam diam, namun meninggalkan jejak mendalam dalam hidup anak-anaknya.
Apoy Ikut Antar dan Turunkan Jenazah ke Liang Kubur
Ketegaran Seorang Anak di Hari Perpisahan
Sejak berada di rumah duka, Apoy tampak sangat terpukul. Beberapa kali ia terlihat mengusap air mata, namun tetap berusaha tegar di hadapan keluarga dan para pelayat yang datang memberi dukungan.
Sebagai bentuk bakti terakhir, Apoy ikut memanggul keranda hingga ke pemakaman. Ia bahkan turun langsung ke liang lahad untuk menurunkan jenazah sang ayah ke peristirahatan terakhir. Momen ini menjadi sorotan karena jarang terlihat figur publik menunjukkan kesedihan sedalam itu di hadapan umum.
Dalam suasana penuh haru, Apoy juga mengumandangkan kalimat-kalimat kebesaran Tuhan di pemakaman sang ayah. Suaranya bergetar, menahan tangis, seakan menutup lingkaran kehidupan: dulu sang ayah mengumandangkan azan di telinganya saat ia lahir, kini Apoy mengiringi ayahnya dengan doa menuju keabadian.
Dukungan dari Keluarga, Sahabat, dan Penggemar
Wali Band dan Pelayat Beri Penguatan
Di tengah kesedihan, Apoy tidak sendiri. Keluarga besar, rekan-rekan Wali Band, serta para pelayat terus memberikan dukungan moril. Kehadiran mereka menjadi penguat di saat-saat paling berat.
Sebagai musisi yang dikenal rendah hati dan religius, Apoy selama ini memang memiliki kedekatan emosional dengan penggemarnya. Tak heran, kolom komentar media sosial dipenuhi doa dan pesan empati dari berbagai kalangan.
Banyak penggemar mengaku ikut teringat pada orang tua mereka sendiri setelah melihat momen pemakaman tersebut, menjadikan peristiwa ini terasa sangat personal bagi publik.
Pesan Apoy untuk Publik: Hargai Orang Tua Selagi Ada
Pengingat yang Datang dari Luka Kehilangan
Di sela-sela suasana duka, Apoy sempat menyampaikan pesan penting saat ditemui awak media. Pesan ini ditujukan kepada siapa pun yang masih memiliki orang tua lengkap.
“Intinya buat siapa pun yang masih memiliki orang tua komplet, lakukan yang terbaik,” ujar Apoy.
Ia menambahkan, kesempatan berbuat baik kepada orang tua tidak akan selalu ada. Ketika mereka telah pergi, penyesalan sering kali datang terlambat.
“Lakukan sebaik mungkin, sebisa mungkin, layani mereka. Sebab bila sudah tidak ada, rasanya mau cari ke mana untuk memberikan yang terbaik juga tidak mungkin dilakukan,” ungkapnya, seperti dikutip dari tayangan Halo Selebriti di kanal YouTube SCTV.
Pesan ini menjadi refleksi mendalam tentang makna bakti, yang tidak hanya relevan bagi figur publik, tetapi juga bagi masyarakat luas.
Sosok Ayah dalam Kehidupan Apoy
Figur Penting di Balik Perjalanan Hidup dan Karier
Meski tidak banyak disorot media, H. Aceng Madari dikenal sebagai sosok ayah yang memiliki peran besar dalam kehidupan Apoy. Dari cerita-cerita yang dibagikan, terlihat bahwa sang ayah menjadi figur pekerja keras yang menanamkan nilai ketulusan, tanggung jawab, dan keimanan.
Nilai-nilai tersebut pula yang kerap tercermin dalam perjalanan musik Wali Band, yang banyak mengusung pesan moral, religi, dan kehidupan keluarga dalam lagu-lagunya.
Kepergian H. Aceng Madari bin Ibrahim meninggalkan duka mendalam bagi Apoy Gitaris Wali Band. Tangisan hati Apoy saat ikut menurunkan jenazah sang ayah ke liang kubur bukan sekadar momen emosional, tetapi juga pengingat kuat tentang arti keluarga, bakti, dan waktu yang tak bisa diulang.
Di balik sorotan panggung dan popularitas, Apoy menunjukkan bahwa ia tetap seorang anak yang kehilangan figur paling berharga dalam hidupnya. Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan serta ketabahan.








