Kepala BGN Dicopot Prabowo Usai Dampingi Kunjungan MBG, Ini Alasannya

Mataberita.co.id – Siapa yang menyangka, pagi hari masih mendampingi Presiden meninjau program makan bergizi, siang harinya sudah resmi dicopot dari jabatan? Itulah yang dialami Dadan

Redaksi

Kepala BGN Dicopot Prabowo Usai Dampingi Kunjungan MBG, Ini Alasannya

Mataberita.co.idSiapa yang menyangka, pagi hari masih mendampingi Presiden meninjau program makan bergizi, siang harinya sudah resmi dicopot dari jabatan? Itulah yang dialami Dadan Hindayana, mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), pada Selasa 2 Juni 2025. Keputusan mengejutkan ini langsung menyedot perhatian publik, terutama karena waktunya yang terbilang dramatis.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memang menjadi salah satu agenda prioritas pemerintahan Prabowo sejak awal. BGN sebagai lembaga yang mengelola program ini dituntut bekerja dengan standar tinggi, mulai dari kualitas makanan, tata kelola organisasi, hingga kedisiplinan menjalankan SOP. Namun rupanya, setelah lebih dari satu tahun berjalan, ada banyak catatan yang menumpuk dan akhirnya menjadi dasar pertimbangan Presiden untuk melakukan perombakan di pucuk pimpinan BGN.

Lantas, apa sebenarnya yang terjadi di balik keputusan pencopotan kepala BGN ini? Dan bagaimana momen terakhir Dadan bersama Prabowo sebelum kabar itu resmi diumumkan? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini.

Pagi Bersama Prabowo: Kunjungan ke Dapur MBG Palmerah

Pada pagi hari sebelum pengumuman pergantian pimpinan BGN, Presiden Prabowo melakukan kunjungan kerja ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Palmerah, Jakarta Barat. Ia tiba sekitar pukul 09.30 WIB dan disambut langsung oleh Dadan Hindayana selaku Kepala BGN beserta Kepala SPPG Palmerah.

Meninjau Fasilitas dan Dapur Produksi

Dalam kunjungan tersebut, Prabowo melihat langsung berbagai fasilitas pendukung program MBG, mulai dari area green house, instalasi hidroponik dan bioflok, hingga dapur utama tempat makanan bergizi diproduksi. Presiden juga mengamati langsung proses pengolahan makanan, dari persiapan bahan baku, proses memasak, sampai pengemasan yang siap didistribusikan ke para penerima manfaat.

Tidak berhenti di dapur, Prabowo kemudian melanjutkan kunjungan ke SMP Negeri 111 Jakarta di kawasan Palmerah untuk menyaksikan langsung bagaimana program MBG berjalan di lingkungan sekolah.

Baca Juga:  Harga Emas Antam Terbaru 28 Februari 2026: Stabil di Pegadaian, Buyback Turun Tipis

Makan Bersama Siswa dan Momen yang Mengharukan

Kedatangan Presiden disambut antusias oleh para siswa. Prabowo pun masuk ke beberapa ruang kelas dan melihat langsung para pelajar menikmati makanan bergizi yang disediakan oleh program MBG. Di salah satu kelas, ia bahkan ikut duduk, berdoa bersama, dan menyantap makanan bersama para siswa.

Suasana hangat semakin terasa ketika Prabowo mulai bercakap-cakap dengan para murid soal cita-cita mereka.

“Siapa yang mau jadi dokter? Siapa yang mau jadi insinyur? Siapa yang mau jadi guru? Siapa yang mau jadi pemain bola?” tanya Presiden, disambut sorak-sorai penuh semangat.

Momen paling berkesan datang dari seorang siswa yang dengan lantang menyampaikan keinginannya menjadi presiden.

“Pak, saya mau jadi Bapak (Presiden),” ucapnya dengan percaya diri.

Mendengar itu, Prabowo tersenyum dan menjawab singkat namun penuh makna, “Belajar ya.” Sementara kepada siswa yang bercita-cita menjadi pesepak bola, Prabowo pun memberikan dorongan yang langsung disambut sorak antusias, “Bawa Indonesia ke Piala Dunia.”

Kunjungan yang terasa hangat dan penuh optimisme itu menjadi latar belakang ironis dari keputusan besar yang diambil beberapa jam kemudian.

Siang Hari: Kepala BGN Resmi Dicopot

Beberapa jam setelah kunjungan tersebut berakhir, Istana Kepresidenan mengumumkan pergantian pimpinan BGN. Dadan Hindayana resmi dicopot dari jabatannya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional.

Alasan di Balik Pencopotan Kepala BGN

Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Prasetyo Hadi, menjelaskan bahwa keputusan ini bukanlah keputusan mendadak. Prabowo telah melakukan monitoring dan evaluasi selama kurang lebih 1,5 tahun terhadap pelaksanaan program MBG dan tata kelola BGN secara keseluruhan.

“Tentunya selama 1,5 tahun melakukan monitoring dan evaluasi, banyak catatan yang kemudian menjadi dasar pertimbangan Bapak Presiden untuk melakukan pergantian ini, dengan harapan catatan-catatan tersebut dapat kita perbaiki,” jelas Prasetyo dalam konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.

Tiga Persoalan Utama yang Jadi Sorotan

Prasetyo menyebutkan ada beberapa temuan spesifik yang melatarbelakangi keputusan tersebut, antara lain:

Pertama, persoalan kedisiplinan dalam menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP). Program MBG memiliki prosedur ketat yang harus dipatuhi untuk memastikan kualitas dan keamanan pangan tetap terjaga.

Kedua, tata kelola organisasi BGN yang dinilai masih perlu pembenahan serius. Koordinasi lintas sektor yang efektif menjadi hal krusial dalam program sebesar ini.

Baca Juga:  Penjualan Tiket KA Lebaran 2026 Tembus 655 Ribu, Tanggal Favorit Mulai Terisi Penuh

Ketiga, konsistensi dalam menjaga kualitas makanan yang seharusnya sudah ditetapkan standarnya oleh BGN sendiri. Kualitas gizi yang sampai ke tangan penerima manfaat tidak boleh kompromi.

“Ada yang berkenaan dengan masalah kedisiplinan menjalankan SOP, ada yang berkenaan dengan kedisiplinan menjalankan tata kelola, termasuk kedisiplinan dalam menjaga kualitas dari makanan yang seharusnya sudah ditetapkan oleh BGN,” tegas Prasetyo.

BGN dan Tanggung Jawab Besar di Balik Program MBG

Prasetyo menegaskan bahwa BGN memegang peran strategis dalam mendukung agenda pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat Indonesia. Karena itu, lembaga ini tidak bisa dipimpin secara asal-asalan.

Pimpinan BGN dituntut mampu memastikan seluruh program berjalan tepat sasaran, tepat waktu, dan sesuai prinsip-prinsip akuntabilitas. Bukan hanya soal mendistribusikan makanan, tapi memastikan setiap proses, dari dapur hingga meja makan penerima manfaat, berjalan sesuai standar yang ditetapkan.

“Tugas ini tentu menuntut tata kelola yang kuat, koordinasi lintas sektor yang efektif, serta kepemimpinan yang mampu memastikan seluruh program dapat berjalan tepat sasaran, tepat waktu, dan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntabilitas,” ujar Prasetyo.

Harapan ke Depan untuk BGN

Pergantian kepala BGN ini diharapkan menjadi titik awal perbaikan yang lebih serius. Evaluasi 1,5 tahun yang dilakukan Prabowo bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan dari komitmen pemerintah bahwa program MBG harus benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat, bukan sekadar berjalan di permukaan.

Dengan pemimpin baru, diharapkan BGN dapat memperkuat sistem pengawasan internal, meningkatkan standar kualitas makanan, dan membangun koordinasi yang lebih solid dengan berbagai pemangku kepentingan di lapangan.

Refleksi: Antara Simbolisme dan Akuntabilitas

Peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa di balik program sosial yang terlihat hangat dan menyentuh, ada tuntutan akuntabilitas yang tidak bisa ditawar. Kunjungan Prabowo ke sekolah bersama para siswa, momen berdoa sebelum makan, dan semangat mendengar cita-cita anak-anak bukanlah sekadar seremonial. Itu adalah pesan bahwa program ini nyata, menyentuh kehidupan jutaan anak Indonesia, dan harus dijalankan dengan serius.

Pencopotan kepala BGN menjadi sinyal bahwa Prabowo tidak segan mengambil tindakan tegas jika hasil evaluasi menunjukkan adanya kekurangan. Bagi publik, ini bisa menjadi tanda positif bahwa pengawasan program berjalan, meski pertanyaan soal seberapa efektif perbaikan ke depan tetap perlu dijawab dengan aksi nyata.

Apa pendapatmu soal langkah Prabowo mencopot kepala BGN ini? Apakah ini keputusan yang tepat untuk memperbaiki program MBG, atau ada hal lain yang menurutmu lebih perlu dibenahi? Bagikan pendapatmu, dan jangan lupa baca artikel kami lainnya seputar kebijakan dan program pemerintah terkini.

Ikuti Kami di Google News

Related Post

rajadewa138