MataBerita – Kabar mengejutkan datang dari dunia penyiaran publik. Iman Brotoseno resmi mengajukan pengunduran diri dari jabatannya sebagai Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (TVRI) pada Senin, 23 Februari 2026.
Keputusan ini disampaikan langsung dalam rapat mingguan yang dihadiri jajaran direksi, kepala satuan kerja, hingga pimpinan stasiun TVRI seluruh Indonesia. Rapat tersebut digelar secara hybrid di Gedung Penunjang Operasional (GPO) TVRI, Jakarta.
Iman menegaskan, langkahnya meninggalkan kursi pimpinan bukan karena tekanan politik atau faktor eksternal lain. Ia memilih mundur murni demi fokus pada pemulihan kondisi kesehatan yang membutuhkan perhatian serius.
Iman Brotoseno Berhenti dari Kursi Dirut TVRI karena Alasan Kesehatan
Pengunduran diri Iman menjadi sorotan karena terjadi di tengah proses transformasi TVRI menuju penguatan platform digital. Dalam pernyataan resminya, ia memastikan keputusan tersebut diambil secara sadar dan tanpa paksaan.
“Saya ingin fokus pada pemulihan kesehatan. Tidak ada tekanan politik maupun ancaman dalam bentuk apa pun. Keputusan ini sepenuhnya demi kondisi saya,” ujar Iman dalam forum rapat internal.
Pernyataan itu sekaligus menepis spekulasi yang kerap muncul ketika terjadi pergantian pimpinan di lembaga publik. Transparansi alasan kesehatan menjadi penegasan bahwa proses ini berjalan secara profesional.
Proses Pengunduran Diri Sesuai Regulasi
Secara administratif, pengunduran diri Dirut TVRI tidak serta-merta berlaku otomatis. Prosesnya harus merujuk pada ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2024 tentang LPP TVRI serta regulasi internal Dewan Pengawas.
Mekanisme di Dewan Pengawas
Dewan Pengawas (Dewas) TVRI memiliki waktu maksimal 14 hari untuk menggelar sidang dan memutuskan apakah menerima atau menolak permohonan tersebut.
Ketua Dewas TVRI, Agus Sudibyo, menyampaikan apresiasi atas dedikasi Iman selama menjabat. Ia juga mengimbau seluruh jajaran tetap menjaga stabilitas organisasi.
“Terima kasih atas kontribusi dan kerja keras Pak Iman. Kami berharap seluruh insan TVRI tetap tenang, kompak, dan fokus menjalankan fungsi sebagai lembaga penyiaran publik,” kata Agus dalam keterangannya.
Pernyataan ini penting sebagai sinyal bahwa manajemen ingin memastikan proses transisi berjalan kondusif dan tidak mengganggu operasional.
Siapa Iman Brotoseno dan Apa Kontribusinya?
Sebagai Direktur Utama, Iman dikenal mendorong modernisasi konten dan penguatan distribusi digital TVRI. Di tengah persaingan ketat industri penyiaran dan migrasi audiens ke platform daring, TVRI menghadapi tantangan besar untuk tetap relevan.
Beberapa agenda yang menjadi perhatian selama kepemimpinannya antara lain:
- Penguatan konten edukatif dan budaya
- Transformasi digital dan optimalisasi media sosial
- Kolaborasi lintas lembaga untuk memperluas jangkauan siaran
Dalam konteks lembaga penyiaran publik, TVRI memiliki mandat berbeda dibanding televisi swasta. Lembaga ini bertugas menyediakan informasi, pendidikan, dan hiburan yang sehat bagi masyarakat luas, termasuk wilayah terpencil.
Dampak Pengunduran Diri bagi TVRI
Keputusan Iman Brotoseno berhenti dari kursi Dirut TVRI tentu membawa konsekuensi manajerial. Dalam jangka pendek, Dewan Pengawas akan menentukan pelaksana tugas (Plt) atau mekanisme pengisian jabatan sesuai aturan.
Stabilitas Organisasi Jadi Prioritas
Transisi kepemimpinan di lembaga publik biasanya menjadi momen krusial. Stabilitas internal dan kesinambungan program menjadi perhatian utama agar tidak mengganggu pelayanan publik.
TVRI saat ini berada dalam fase penting, terutama dalam:
- Adaptasi teknologi penyiaran digital
- Penguatan kredibilitas sebagai media publik
- Optimalisasi distribusi multiplatform
Jika proses pergantian berjalan lancar, agenda transformasi diharapkan tetap berlanjut tanpa hambatan berarti.
Perspektif Tata Kelola Lembaga Publik
Dalam praktik tata kelola lembaga negara, pengunduran diri pimpinan karena alasan kesehatan bukan hal yang luar biasa. Prinsip good governance justru menempatkan transparansi dan akuntabilitas sebagai prioritas.
Dengan pernyataan resmi yang disampaikan langsung oleh Iman dan dikonfirmasi oleh Dewan Pengawas, proses ini mencerminkan keterbukaan informasi kepada publik.
Hal tersebut juga selaras dengan prinsip E-E-A-T (Experience, Expertise, Authoritativeness, Trustworthiness) yang menjadi standar kredibilitas informasi publik, terutama bagi lembaga penyiaran negara.
Babak Baru TVRI di Era Digital
Iman Brotoseno berhenti dari kursi Dirut TVRI menandai babak baru dalam perjalanan lembaga penyiaran tertua di Indonesia ini. Tantangan industri media semakin kompleks, mulai dari perubahan pola konsumsi konten hingga disrupsi platform digital global.
Ke depan, publik akan menantikan siapa figur yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan dan bagaimana arah kebijakan TVRI selanjutnya.
Yang jelas, proses pengunduran diri ini masih menunggu keputusan resmi Dewan Pengawas dalam waktu paling lama dua pekan sejak pengajuan disampaikan.
Sementara itu, manajemen TVRI diminta tetap fokus menjalankan fungsi utamanya sebagai lembaga penyiaran publik yang independen, profesional, dan melayani kepentingan masyarakat luas.
Kesimpulan
Iman Brotoseno resmi mengajukan pengunduran diri dari jabatan Direktur Utama TVRI pada 23 Februari 2026 dengan alasan kesehatan. Keputusan tersebut ditegaskan tanpa adanya tekanan eksternal dan kini sedang diproses sesuai regulasi yang berlaku.
Dewan Pengawas memiliki waktu 14 hari untuk mengambil keputusan resmi. Di tengah masa transisi ini, stabilitas organisasi dan kelanjutan program transformasi digital TVRI menjadi perhatian utama.
Perkembangan selanjutnya akan sangat menentukan arah TVRI sebagai lembaga penyiaran publik di era digital yang semakin kompetitif.








