MataBerita – Sengketa panjang antara Min Hee Jin dan Hybe akhirnya memasuki babak baru. Pengadilan Distrik Pusat Seoul memutuskan perusahaan hiburan raksasa tersebut harus membayar kompensasi puluhan miliar won kepada mantan CEO Ador itu.
Putusan ini menjadi sorotan besar di industri K-Pop karena bukan hanya menyangkut nilai ganti rugi yang fantastis, tetapi juga menyentuh isu hak pemegang saham, kontrak kreatif, hingga dinamika internal label musik Korea Selatan. Konflik yang bermula sejak 2024 kini berpotensi menjadi preseden hukum penting.
Di tengah persaingan ketat industri hiburan Korea, keputusan pengadilan ini dinilai akan berdampak luas, baik bagi eksekutif kreatif, agensi, maupun artis yang berada di bawah naungan label besar.
Putusan Pengadilan: Hybe Wajib Bayar Kompensasi
Pengadilan Distrik Pusat Seoul atau Seoul Central District Court memenangkan Min Hee Jin dalam sengketa hukum melawan Hybe. Majelis hakim memerintahkan Hybe membayar total 28,6 miliar won atau sekitar Rp397 miliar.
Putusan tersebut dibacakan pada Kamis, 12 Februari 2026. Pengadilan menyatakan upaya Hybe untuk mengakhiri perjanjian pemegang saham secara sepihak tidak sah. Gugatan yang diajukan perusahaan pun ditolak.
Sebaliknya, gugatan balik dari Min Hee Jin dikabulkan, termasuk pelaksanaan hak put option atau hak jual saham yang sebelumnya menjadi inti perselisihan.
Rincian Nilai Pembayaran
Total kewajiban pembayaran dibagi kepada beberapa pihak terkait:
- Min Hee Jin: 25,5 miliar won (sekitar Rp354 miliar)
- Wakil Presiden Ador: 1,7 miliar won
- Direktur Kreatif Ador: 1,4 miliar won
Informasi ini dikutip dari laporan media Korea The Chosun, yang menyebut putusan tersebut sebagai salah satu sengketa kontrak terbesar di industri hiburan Korea dalam beberapa tahun terakhir.
Awal Mula Konflik Min Hee Jin dan Hybe
Perselisihan bermula pada April 2024 ketika Hybe melakukan audit internal dan menuduh Min berupaya memisahkan label Ador dari perusahaan induk. Tuduhan ini memicu ketegangan internal yang semakin memanas.
Pada Agustus 2024, Min diberhentikan dari jabatan CEO Ador. Langkah ini kemudian memicu sengketa hukum terkait kontrak pemegang saham dan hak atas saham yang dimilikinya.
Eksekusi Put Option
Pada November 2024, Min mengeksekusi hak put option atas 13,5 persen sahamnya di Ador. Nilai saham tersebut dihitung berdasarkan kesepakatan Maret 2023, yakni rata-rata laba operasional dua tahun terakhir dikalikan 13.
Hybe menolak pelaksanaan hak tersebut dan menganggap ada pelanggaran serius. Namun, pengadilan menilai perusahaan gagal membuktikan adanya pelanggaran berat, seperti penggelapan atau kerugian besar yang bisa membatalkan perjanjian.
Pertimbangan Hakim
Majelis hakim yang dipimpin Hakim Nam In-soo menyatakan tudingan bahwa Min mencoba memisahkan Ador tidak dapat dikategorikan sebagai pelanggaran berat. Sepanjang 2024, ia dinilai tetap menjalankan kewajiban profesionalnya.
Pengadilan juga mencatat bahwa Min masih aktif mengawal aktivitas grup NewJeans di Korea Selatan dan Jepang selama masa konflik berlangsung.
Putusan ini memperkuat posisi Min sebagai pemegang saham yang memiliki hak kontraktual jelas. Dalam pertimbangannya, pengadilan menekankan pentingnya perlindungan terhadap pemegang saham minoritas dan eksekutif kreatif.
Reaksi dan Langkah Selanjutnya
Usai putusan tingkat pertama, Hybe menyatakan akan mengajukan banding. Artinya, proses hukum belum sepenuhnya berakhir dan masih bisa berlanjut ke tahap berikutnya.
Sementara itu, Min Hee Jin kini memimpin label independen barunya, Ooak Records. Jika putusan ini berkekuatan hukum tetap, dana ratusan miliar rupiah tersebut diperkirakan akan menjadi modal besar untuk mengembangkan bisnis barunya di industri K-Pop.
Dampak bagi Industri K-Pop
Preseden Hukum Penting
Putusan ini dinilai sebagai preseden penting dalam perlindungan hak pemegang saham dan kontrak eksekutif kreatif di Korea Selatan. Sengketa antara kreator dan perusahaan besar jarang berujung pada kemenangan individu dengan nilai kompensasi sebesar ini.
Pakar hukum hiburan di Korea Selatan menilai kasus ini dapat mendorong perusahaan hiburan untuk lebih berhati-hati dalam menyusun kontrak dengan eksekutif kreatif maupun produser.
Pengaruh pada Ekosistem Industri
Kasus Min Hee Jin juga menunjukkan perubahan dinamika di industri K-Pop. Kreator dan produser kini memiliki posisi tawar yang lebih kuat, terutama jika mereka memegang saham dan memiliki kontribusi besar terhadap kesuksesan artis.
Selain itu, konflik ini menyoroti pentingnya transparansi dan tata kelola perusahaan dalam agensi hiburan besar. Banyak pengamat melihat kasus ini sebagai titik balik hubungan antara label besar dan tim kreatif.
Kesimpulan
Kemenangan Min Hee Jin atas Hybe bukan sekadar perkara kompensasi finansial. Putusan ini membuka diskusi lebih luas mengenai hak kreator, perlindungan kontrak, dan struktur kepemilikan di industri hiburan Korea Selatan.
Meski Hybe berencana mengajukan banding, keputusan tingkat pertama ini sudah memberi sinyal kuat bahwa pengadilan akan menegakkan perjanjian kontraktual secara ketat. Bagi industri K-Pop, kasus ini berpotensi menjadi rujukan penting dalam sengketa serupa di masa depan.








